Rekening milyaran rupiah milik sejumlah perwira tinggi (Pati) Polri menuai pro dan kontra publik. Ada kegeraman bercampur rasa heran mengingat rekening tersebut mengusik rasa keadilan publik maupun internal Polri sendiri. Sebab bila dirasionalisasikan angka dalam rekening tersebut terbilang fantastik dibandingkan dengan jumlah gaji yang diterima dengan berbagai tunjangan yang diterima oleh para Pati tersebut. Dengan kata lain, ada dugaan bahwa rekening tersebut didapat dari aktivitas terlarang.
Terlepas dari perdebatan apakah uang dalam rekening tersebut di dapat dari aktivitas terlarang atau tidak, namun ada nuansa politis yang mengiringinya, yakni; pergantian Kapolri yang akan dilakukan dalam hitungan bulan ke depan. Mengingat Kapolri saat ini, Bambang Hendarso Danuri (BHD) akan pensiun. Apalagi sejumlah Pati yang disangka memiliki rekening miliaran rupiah tersebut, selain Pati senior, juga ada sejumlah Pati yunior yang bisa dibilang merupakan figur-figur pimpinan masa depan Polri. Isu rekening miliaran rupiah ini juga hampir selalu muncul menjelang pergantian orang nomor satu di Polri. Sebut saja misalnya menjelang naiknya Da’i Bachtiar dan Sutanto menjadi Kapolri.
Sehingga bisa dibilang isu rekening miliaran rupiah adalah satu bagian dari proses politis yang harus dilalui oleh Polri menjelang pergantian Tri Brata 1 (TB 1). Dengan mengajak publik untuk konsern pada isu pergantian TB 1 tersebut. Ada dua kemungkinan tujuan dimunculkannya isu tersebut, yakni: Pertama, isu tersebut dihembuskan oleh media untuk meminta atensi publik terkait pergantian TB 1. Hal ini bisa dibilang bagian dari strategi media untuk melibatkan publik terkait dengan pergantian kepemimpinan Polri. Terlepas apakah kemudian media memiliki agenda lain, namun situasi tersebut mempertegas fungsi media sebagai pondasi keempat dari demokrasi.
Kedua, isu ini sengaja dihembuskan oleh sejumlah pendukung kandidat TB 1 yang melibatkan media sebagai sarananya. Ada simbiosis mutualisme antara sejumlah kandidat dan kalangan media sendiri. Selain tujuannya mulia; mencegah sejumlah calon TB1 yang tidak reformis berkontestasi, juga publik mendapatkan informasi berkaitan dengan Pati Polri yang dinilai layak untuk memimpin dan bersih dari praktik dan aktivitas terlarang.
Ritual Pembersihan?
Meski Kapolri telah menyerahkan sejumlah nama Pati yang dinilai layak untuk diajukan sebagai Kapolri sebelum diajukan ke Presiden, namun adanya pemberitaan terkait rekening miliaran rupiah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses itu sendiri. Ada semacam ritual pembersihan terkait dengan pergantian kepemimpinan di institusi penegak hukum tersebut. Meski publik juga dapat melihat bahwa kepemimpinan Polri tetap bersih dari praktik terlarang, meski memimpin institusi yang tidak bersih. Ada semacam ambiguitas yang berkembang di masyarakat dan internal Polri berkaitan dengan hal tersebut; Di satu sisi, menginginkan adanya calon yang bersih dari praktik terlarang, di sisi yang lain, praktik terlarang masih terus berlangsung di Polri. Indikatornya sederhana, masih ditemukannya sejumlah rekening miliaran rupiah milik para Pati yang janggal dan mengundang tanda tanya.
Bila menengok ke belakang, dua Kapolri terakhir juga tak lepas dari isu-isu berkaitan dengan rekening gendut milik para Pati dan sampai sekarangpun hal tersebut masih berlangsung. Hal ini mengindikasikan bahwa isu terkait dengan hal tersebut hanya berupaya ritual pembersihan biasa, yang kurang memiliki efek jera. Hanya membuat sejumlah Pati di Polri lebih waspada agar lebih berhati-hati. Masyarakat sendiri, selain ada sikap skeptis yang berlebihan berkaitan dengan Polri juga kurang memberikan atensi yang serius. Hal tersebut tercermin dari kurangnya perhatian pada masalah-masalah penyimpangan yang dilakukan oleh Polri, kecuali pada isu Cicak Versus Buaya, hampir tidak ada dukungan yang bersifat massif terkait dengan pembersihan Polri dari praktik-praktik terlarang. Bisa jadi hal ini karena masyarakat memiliki pengalaman yang kurang baik dengan berbagai pelayanan Polri.
Di sisi lain, respon Polri terkesan defensif dan menutupi berbagai temuan media tersebut. Bahkan ada semacam semangat esprit de corps yang berlebihan dan salah kaprah, hal yang mana hanya dapat ditemukan dalam struktur militer. Sebagai institusi sipil, Polri dalam hal ini pimpinan Polri seharusnya dapat merespon dengan bijak dan menindaklanjuti berbagai temuan tersebut dengan mengesampingkan kemungkinan adanya politisasi dan agenda tersembunyi dari pemberitaan tersebut.
Setidaknya ada empat keuntungan bagi pimpinan Polri berkaitan dengan pemberitaan rekening gendut milik sejumlah jenderal, yakni: Pertama, pimpinan Polri dapat terbantu oleh respon dan opini publik berkaitan dengan adanya sejumlah rekening tersebut. Setidaknya bagi Kapolri dapat menegaskan sebelum pensiun, dapat melakukan kebijakan yang melapangkan jalan bagi regenerasi kepemimpinan yang bersih di institusi penegak hukum tersebut.
Kedua, Polri dapat melakukan verifikasi berkaitan dengan sejumlah rekening tersebut, khususnya bagi jenderal-jenderal yang secara usia masih memiliki kemungkinan memimpin Polri ke depan. Hal ini dapat menjadi dokumentasi yang baik bagi Polri untuk memilih para pemimpinnya di masa yang akan datang.
Ketiga, Polri secara institusi diingatkan bahwa sepanjang sepuluh tahun reformasi Polri masih memiliki sejumlah permasalahan manifes dan cenderung sistemik. Permasalahan ini selain mengganggu jalan Polri menuju institusi profesional dan mandiri, juga membuat posisi dan pencitraan Polri di masyarakat belum membaik. Padahal, bila dibandingkan dengan TNI misalnya, Polri relatif masih memiliki permasalahan internal yang sulit dihilangkan. Dengan adanya pemberitaan rekening gendut para jenderal Polri tersebut, hampir dipastikan, seberapa bagus program yang dibuat oleh Polri, semisal Quick Wins dan ’Tiada Hari Tanpa Kawan Baru!’ hanya akan terbatas pada sloganisme dan kurang memiliki efek positif bagi posisi Polri di masyarakat.
Keempat, pemberitaan tersebut juga dapat dimanfaatkan oleh Polri untuk mempersempit politisasi Polri dengan adanya sejumlah calon TB 1 yang memanfaatkan isu tersebut untuk keuntungan dirinya. Artinya Polri dengan leluasa akan memanfaatkan pemetaan tersebut untuk memprotek atau setidaknya mempersempit ruang politisasi Polri.
Dari empat keuntungan tersebut di atas, maka dibutuhkan kearifan Polri sebagai institusi untuk merespon positif berbagai pemberitaan terkait dengan Polri. Sebab, tanpa respon yang positif tersebut, maka harapan masyarakat berkaitan dengan kepemimpinan Polri yang bersih hanya akan bertepuk sebelah tangan.

15 comments
Comments feed for this article
July 23, 2010 at 9:56 am
young man
wah, enak nih…
ada jalur baru untuk jadi milyuner… masuk POLISI, he he he
Arafat yg pangkatnya Kompol saja, masa kerja di bawah 10 thn sudah bisa punya rumah berharga hampir 600 juta, punya Harley Softail, punya Fortuner yg harganya 300-400 juta..
itu baru Kompol, bagaimana dgn Perwira tingginya?
itu baru yg terbongkar…bagaimana yg tidak terbongkar???
Ironis…beginilah kl ada institusi yg punya Absolut Power tanpa pengawas yg dilindungi UU
August 8, 2010 at 8:35 pm
Sambas
http://www.tempointeraktif.com/hg/fokus/2010/08/07/fks,20100807-1426,id.html
Polri gak jadi mengusut rekening mencurigakan..case closed…
padahal sudah di ungkap sama PPATK, bahkan mulai dari thn 2005
August 11, 2010 at 1:41 am
muradi
@ Sambas: betul, sebenarnya data yang diungkap oleh Tempo merupakan data lama, jadi kembali kepada dua hal agar Polri mau mengusut: Pertama, ada intervensi politik dari Presiden sebagai atasan langsung Polri, dan kedua, emang ada Will yang serius dari internal Polri sendiri. namun rasa-rasanya keduanya sulit tuh!!
August 13, 2010 at 1:54 pm
@ji
Hehehe,
Polri diobok2 KPK sudah.
Kapan nih giliran
TNI?
Kenapa KPK tidak berani memeriksa TNI?
August 13, 2010 at 1:56 pm
@ji
@Pak Muradi,
Ijin gabung ya….
Artikelnya bagus, buat nambah wawasan sy sbg masyarakat awam.
Salam kenal.
August 13, 2010 at 1:56 pm
@ji
@Pak Muradi,
Ijin gabung ya….
Artikelnya bagus, buat nambah wawasan sy sbg masyarakat awam.
Salam kenal..
August 16, 2010 at 6:02 am
xxx
no comment
August 16, 2010 at 6:03 am
xxx
q
August 16, 2010 at 6:04 am
xxx
g
August 17, 2010 at 1:53 am
Mr.POW
Ya tinggal tunggu waktu aja mas @ji giliran TNI yg diobok-obok.
Inget lagunya jhosua.Hahahahahaha
August 17, 2010 at 9:45 am
Mr.POW
Saya mau tanya ke pak muradi….
Setahu sy presiden adalah panglima tertinggi angkatan bersenjata dan angkatan bersenjata itu sendiri adalah TNI/Militer (AD,AL,AU) tp kenapa justru Polri yg notabenennya adalah sipil bersejata justru langsung berada langsung dibawah presiden yg jelas2 sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata,sedangkan TNI sendiri berada dibawah Kementrian Pertahana.Kenapa Polri tdk berada di salah satu kementrian saja supaya tdk menimbulkan kecemburuan TNI statusnya langsung dibawah presiden sebagai panglima tertingi.Trimakasih sebelumnya
September 2, 2010 at 3:21 am
Mbelgedes
Mr Pow..
Setahu saya di negara demokrasi manapun, yg namanya POlisi itu di bawah departemen…
Di Malaysia, kl tidak salah di bawah dep Dalam Negeri
Di Hongkong, di bawah Dep Kehakiman
DI AS, Polisinya berada di bawah Gubernur, atau Walikota…untuk kejahatan Trans Nasional ada FBI, ada DEA yg ngurusi perang narkoba, ada NSA, inipun masih di bawah kendali Dep. Kehakiman (Justice Dep). Untuk Keamanan Nasional ada National Guard di bawah Homeland Security Dep.
Gak kaya diNegara kita…
Dari Lalu lintas, Terorisme, Kriminalitas (dari yg ringan sampai berat), Keamanan Dalam Negeri, Keamanan Perbatasan dan Perairan, Korupsi, Pengamanan Obyek Vital, Intelijen Keamanan…semuanya di bawah Polisi..
Negara kita negara besar, ada baiknya untuk lebih fokus ke bidang2 yg lebih spesifik
Apakah fokus di Keamanan Dalam Negeri, atau di Penegakan Hukum???
September 7, 2010 at 1:03 pm
Kayu Laut
Mr.Pow:
setuju mas…..
Sy juga bingung kok persiden yg selain kepala negara & kepala pemerintahan adalah panglima tertinggi angkatan bersenjata malah membiarkan polri yg notabenennya PNS bersenjata langsung dibawah presiden sedangkan TNI malah dibawah kementrian.
September 17, 2010 at 1:31 pm
Sandi
Ada yang memancing dan ada yang terpancing nih!
September 20, 2010 at 12:37 pm
Kayu Laut
Ikan kaleee……
Slam knal buat mas sandi