I. Pendahuluan

Perang global melawan terorisme, sebagaimana definisi Campbell seperti ‘Perang Globalisasi Pertama’, hal ini disimbolisasikan oleh banyaknya trend; tendensi meningkatnya Negara-negara untuk berbalik memberi perhatian untuk melakukan kerja sama international dalam pencegahan ancaman keamanan. Perang global melawan terorisme tersebut makin mengemuka setelah terjadinya serangan terrorist ke gedung WTC dan Pentagon, Amerika Serikat yang dikenal dengan Peristiwa 9/11. Peristiwa tersebut menegaskan bahwa perang melawan terorisme menjadi bagian yang terpisahkan dari menjaga agar peradaban manusia tetap terjaga. Terorisme yang berakar dari ketidakpuasan dan ketidakadilan yang berkembang di masyarakat karena ketidakmampuan pemerintah dalam merealisasikan harapan dan tuntutan yang berkembang di masyarakat makin menjadi dengan menggunakan sentimen ideologi; Marxism-Leninism, atau nationalism, dan juga agama. Ideologi-ideologi tersebut menjadi bagian dari upaya untuk melegitimasikan berbagai praktik kekerasan yang menjadi inti dari terorisme. Kebencian kelompok separatism terhadap Negara induk, menjadi satu stimulasi bagi praktik kekerasan dan terror, sebagaimana yang terjadi di Srilanka, antara pemerintah Srilanka dengan kelompok Macan Tamil Ealam, antara Pemerintah Turki dengan kelompok pemberontak Suku Kurdi, antara Pemerintah Philipina dengan MILF,Abu Sayaf, ataupun MLNF, serta sejumlah aksi tindak kekerasan dan terror lainnya, aksi bom bunuh diri dan tindak kekerasan hampir selalu menjadi keseharian di Negara-negara penuh konflik.

Sementara itu, aksi terror yang berkaitan dengan kebencian terhadap dominasi Barat, telah menyebar, tidak hanya di Negara-negara yang dianggap sebagai actor dari hegemoni Barat. Melainkan juga ke Negara-negara yang relative tidak memiliki kaitan secara langsung dengan Amerika Serikat, Inggris, ataupun Australia. Sebut saja misalnya Indonesia, yang telah diguncang empat kali aksi terror terkait dengan jaringan transnational terrorisme: bom bali I dan Bom Bali II, Bom di Hotel J.W.Marriot, dan juga Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Belum lagi sejumlah aksi terror yang dilakukan di Indonesia sepanjang tahun 2001 hingga tahun 2006,yang membidik sasaran pada fasilitas dan symbol Barat; Mc.Donalds Resuaturant, KFC Restauran, dan lain sebagainya. Di samping itu, di beberapa Negara juga mengalami hal yang sama sebagaimana yang terjadi di Indonesia, sebut saja misalnya Turki, dan Pakistan, India, yang mengalami berbagai aksi kekerasan atas nama agama dan kebencian terhadap symbol Barat, terakhir misalnya terbunuhnya Benazir Bhuto sebagai salah satu bentuk peringatan kelompok radikal agama di Negara tersebut yang menganggap Bhuto terlalu dekat dengan Amerika Serikat, dan Inggris.

Berbagai contoh di atas sesungguhnya mempertegas bahwa pola dan gerak terrorisme telah berubah sejak Peristiwa 9/11. Perubahan pola tersebut terletak pada sasaran, dan organisasi terrorisme, yang hingga saat ini cenderung tercerai berai pasca tumbangnya Rezim Taliban, serta tertangkap dan terbunuhnya sejumlah tokoh organisasi terorisme,baik level nasional, regional, maupun transnational. Di samping itu, terbangunnya perdamaian di beberapa Negara yang memiliki konflik dengan kelompok terorisme setempat makin melengkapi hipotesis awal bahwa pengaruh Perang Global terhadap Terrorisme pasca Peristiwa 9/11 telah merubah pola dan pergerakan kelompok terorisme di seluruh dunia, baik yang bersifat nasional, regional maupun transnational. Pertanyaan dari paper ini adalah Bagaimana Perubahan yang terjadi pada organisasi terorisme pasca Peristiwa 9/11?

II. Terrorisme Pasca 9/11

Charles F. Parker dan Eric K. Stern mengungkapkan bahwa aksi dari kelompok terorisme pasca 9/11 akan mengejutkan dan cenderung kurang terantisipasi, karena telah terjadi banyak perubahan dan penyesuaian dengan Perang Global melawan terorrisme. Keduanya mencontohkan bahwa sasaran aksi dari terorisme transnational, misalnya tidak lagi ke pusat Negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Inggris, ataupun Australia, melainkan pada asset-aset yang terkait dengan Negara-negara Barat yang tersebar di seluruh dunia. Meski pada kasus peledakan bom di stasiun kereta bawah tanah dan lapangan terbang di Inggris menjadi bukti bahwa sesekali, aksi terror juga dilakukan di jantung dari peradaban Barat. Dalam konteks tersebut sebenarnya membutuhkan konsentrasi dan siaga penuh bagi Negara-negara Barat khususnya, dan Negara-negara di belahan dunia lainnya untuk secara khusus memberikan perhatian pada Perang Global melawan terrorisme. Taktik Hit and Run yang dipraktikkan oleh organisasi terrorisme tersebut memberikan satu pelajaran berharga bahwa perang global melawan terrorisme harus lebih diefektifkan kembali. Karena semangat Jihad dan siap mati demi kehormatan, bangsa, dan agama menjadi satu opsih yang banyak dipilih pelaku terror, baik level nasional, regional,maupun transnational pasca Peristiwa 9/11. Dimana dari penelitian yang dilakukan oleh Robert A. Pape , bom bunuh diri mengalami peningkatan dibandingkan sebelum Peristiwa 9/11.

Dalam pandangan saya, perubahan yang terjadi di internal organisasi terorisme cenderung luput dari perhatian banyak pihak. Asumsi bahwa dengan menginvasi, dan menghancurkan Negara yang menjadi basis dari organisasi terorisme sebagaimana yang dilakukan di Afganistan ataupun Irak, maka aksi terror akan berhenti adalah asumsi yang tidak sepenuhnya benar. Aksi penangkapan dan terbunuhnya beberapa petinggi organisasi terorisme seperti Al Qaeda, ataupun Jama’ah Islamiyah (JI) di Asia Tenggara tidak juga memberikan garansi akan berhentinya aksi terror. Dalam kasus JI di Asia Tenggara misalnya, penangkapan Hambali, dan Omar Faruk sebagai operator JI di Asia Tenggara juga tidak memberikan ketenangan dari ancaman terror. Tertangkapnya Imam Samudera, dan jaringan terrorisme lainnya seperti Abu Dujana menjadi satu keberhasilan bagi Indonesia dalam perang global melawan terrorisme, ditambah pula Dr. Azahari, gembong terrorisme juga terbunuh oleh satuan khusus anti terror; Detasemen 88. Akan tetapi, sekali lagi, keberhasilan tersebut tidak serta merta membuat aksi terror di Indonesia, dan asia tenggara khususnya,dan dunia umumnya akan hilang. Justru invasi Amerika Serikat dan sekutunya ke Afganistan, dan Irak, penangkapan, dan terbunuhnya sejumlah petinggi dari organisasi terorisme menjadi stimulasi akan makin bervariasinya organisasi, pola, strategi dan target dari organisasi terorisme tersebut , yang pada akhirnya akan menyulitkan upaya banyak Negara untuk memerangi terorisme dalam kontek perang global melawan terorisme ini.

Adapun perubahan-perubahan yang terjadi di internal organisasi terrorisme adalah sebagai berikut: Pertama, pola hubungan organisasi terorisme. Jika sebelum Peristiwa 9/11 organisasi terorisme yang tersebar di seluruh dunia bersifat terdesentralisasi terkomando, di mana keputusan organisasi terorisme intternational harus dijalankan oleh satuan-satuan organisasi terorisme yang bersifat regional maupun nasional. Pola penyebarannya informasi dari keputusan organisasi terorisme international dan pendanaannya pun masih memanfaatkan kurir dengan bentuk sel organisasi yang tidak terlalu beraturan. Sekedar ilustrasi, misalnya organisasi JI dapat beroperasi dengan berbagai pola yang terkesan menyatu dengan gerakan separatism di Thailand Selatan , ataupun Philipina Selatan , sementara di Indonesia, JI dapat menjelma menjadi organisasi Islam radikal seperti Darul Islam , yang menuntut dan memperjuangkan Negara Islam. Sementara di Malaysia JI menjelma menjadi organisasi pengajian Islam . Disamping itu juga organisasi terorisme lainnya yang bermarkas di beberapa negara Timur Tengah. Organisasi tersebut menjalankan pola dan gerak yang seirama dengan terrorisme international seperti Al Qaeda, sebagai induk dari organisasi terorisme di dunia, khususnya yang terkait dengan Islam. Salah satu tuntutan yang sama adalah memperjuangkan semangat dan penyadaran kepada masyarakat untuk membentuk Negara Islam di masing-masing Negara, yang kemudian akan membangun satu Pemerintahan Islam di Dunia.

Sedangkan perubahan dari organisasi terorisme pasca Peristiwa 9/11 adalah desentralisasi organisasi yang diserahkan inisiatifnya kepada masing-masing organisasi. Hal ini pada akhirnya mendorong beberapa organisasi terorisme berubah menjadi organisasi yang bersifat formal, seperti Majelis Mujahidin Indonesia (MII), atau kemudian secara terbuka menjadi bagian dari organisasi pemberontakan sebagaimana yang terjadi di Thailand Selatan dan Philipina Selatan. Atau ada juga yang merubah organisasinya menjadi partai politik seperti Ichwanul Muslimun di Mesir, Hamas di Palestina, Hisbullah di Libanon, dan tak jarang juga yang terpecah menjadi beberapa faksi sebagaimana yang terjadi di PKK, partai etnis Kurdi, yang salah satu pecahan faksinya bekerja sama dengan Pemerintah Turki.

Kedua, pola hubungan antara organisasi terrorisme dengan Negara atau pemerintah. Sebelum Peristiwa 9/11 hubungan antara organisasi terrorisme dengan Negara atau pemerintah hanya ada dua kemungkinan, menjadi pendukung pemerintah atau menjadi oposisi dan melawan pemerintahan dengan senjata. Pemerintah yang mendapat dukungan dari organisasi terorisme adalah Pemerintahan Taliban di Afganistan, dan yang mendukung aktivitas Terorisme adalah Iran dan Suriah yang mendukung Hisbullah, dan Hamas. Sedangkan Negara yang mendapat perlawanan hebat oleh terorisme adalah Thailand, dari Pathani dan Yala di Thailand Selatan, dan Philipina dari Philipina Selatan. Sementara Indonesia mendapatkan perlawanan serius jaringan terorisme asal Malaysia yang beroperasi di Indonesia, Dr. Azahari dan Norordin M. Top.

Sedangkan pasca 9/11, hubungan antara organisasi terorisme dengan Negara berkembang menjadi tiga model,yakni: (1) Organisasi terorisme yang berubah menjadi partai politik atau organisasi massa, seperti Hamas di Palestina dan Hisbullah di Libanon. Hamas memenangkan Pemilu di Palestina, namun berkonflik dengan Faksi Fatah pimpinan Presiden Machmod Abbas, sedangkan Hisbullah menguasai sebagian wilayah Libanon, dan secara tidak langsung hubungannya dengan pemerintah Libanon relative baik. (2) Organisasi terrorisme yang murni mengusung gerakan separatisme, hubungannya dengan pemerintah tidak stabil, kadang berdamai kadang berperang. Gerakan Moaist di Nepal menjadi salah satu contoh yang menarik, karena tuntutan kelompok tersebut untuk merubah kerajaan menjadi republik, mendapatkan dukungan luas,dan tengah digodok parlemen. Contoh yang lain adalah kelompok separatism Tamil Ealam, setelah gencat senjata, dan perang terbuka dengan pemerintah, kelompok separatism di Srilanka tersebut kemudian memilih melakukan metode gerilya kembali, karena tuntutan untuk merdeka ditolak pemerintah Srilanka. (3) organisasi terorisme yang sebelumnya mendapat dukungan dari pemerintah,lantas berubah haluan melawan pemerintah adalah Al Qaeda di Afganistan kemudian bergabung dengan sisa-sisa pejuang Taliban, yang dilengserkan oleh Amerika Serikat dan Sekutunya ketika berkuasa dibawah pimpinan Mullah Omar. Al Qaeda dan Taliban melakukan taktik gerilya untuk mengganggu konsentrasi pemerintahan Hameed Karzai yang dianggap boneka yang dikendalikan oleh Amerika Serikat. Hal yang menarik adalah, keduanya tidak melakukan perlawanan separatism, melainkan melawan pemerintahan yang dikendalikan oleh Amerika Serikat dan sekutunya, yang nota bene adalah musuh besar kelompok terorisme tersebut.

Ketiga, ideology dari kelompok terorisme sebelum Peristiwa 9/11 begitu beragam, dari mulai Marxism-Leninism, ultra-nationalism, hingga ideology berbasis agama, Kristen, Katolik, Hindu, dan lain sebagainya. Bahkan tak jarang beberapa organisasi terrorisme tersebut mencampuradukkan berbagai ideology kedalam perjuangannya, sebut saja misalnya PKK, Partai Pekerja Kurdistan, yang mencampuradukkan Islam, Marxism-Leninism dengan nasionalisme Kurdi. Atau misalnya FLN, MILF, Pemberontak Phatani di Thailand Selatan yang mencampuradukkan semangat keislaman dengan nasionalisme, atau nasionalisme dengan Katolik di Irlandia Utara, nasionalisme dan kedaerahan di Basque, dan Corsica, serta berbagai label ideology dari organisasi terorisme. Sementara itu organisasi terorisme yang lebih radikal lainnya salah satunya adalah Red Army, Jepang, yang banyak beroperasi di luar Jepang. Red Army berideologi Marxism-Leninism.

Pasca Peristiwa 9/11, ideology terorisme cenderung mengerucut pada ideology keagamaan,khususnya Islam. Hal ini disebabkan banyak dari organisasi terorisme yang mengubah pola dan strategi gerakannya agar tidak disamakan dengan Al Qaeda dan jaringannya, baik JI, Hamas, Ichwanul Muslimun,Hisbullah,dan lain sebagainya. Bahkan tak sedikit organisasi terorisme tersebut memilih berdamai dengan pemerintah setempat untuk menghindari pelabelan sebagai organisasi terorisme, salah satunya misalnya MNLF, yang akhirnya kalah pamor dengan MILF, atau GAM di Aceh, Indonesia, dan Fatah di Palestina. Selain itu ada IRA, yang memilih berdamai dan duduk bersama dalam parlemen Irlandia Utara dengan faksi protestan pro Inggris. Sehingga tak heran apabila kemudian ideology organisasi terorisme lebih mengerucut kepada ideology berbasis Islam, meski juga harus digarisbawahi bahwa ideology lain juga tetap ada meski setelah Peristiwa 9/11 cenderung tidak signifikan.

Keempat, tujuan organisasi terorisme. Sebelum Peristiwa 9/11, tujuan dari organisasi terorisme beragam dan bervariasi, dari sekedar membuat keonaran, terror dan mengganggu kestabilan sosial politik suatu Negara, menolak hegemoni Negara Barat, merebut kekuasaan, memisahkan diri dari Negara induk, hingga membentuk pemerintahan international berbasis Islam. Kelompok terrorisme yang cenderung mengganggu kestabilan social politik suatu Negara, bisa disebut misalnya Red Army, Jepang, menolak hegemoni Negara Barat misalnya aktivis lingkungan radikal, serta kelompok Islam radikal. Sementara organisasi yang bercita-cita merebut kekuasaan misalnya kelompok pemberontak Marxist di Columbia, sedangkan organisasi terorisme yang bercita-cita memisahkan diri dari Negara induk misalnya Tamil Aelam, MILF, Pemberontak Phatani, Thailand Selatan, dan lain sebagainya. Sedangkan kelompok yang menginginkan terbentuknya pemerintahan international berbasis Islam, sebelum Al Qaeda mengemuka, ada organisasi Islam bernama Hizbut Tahrir, yang memiliki basis di banyak Negara, khususnya Negara Islam atau Negara dengan jumlah penduduk beragama Islamnya cukup signifikan.

Setelah Peristiwa 9/11, lebih mengerucut pada keinginan untuk mematahkan dan menyudahi hegemoni Barat, dalam hal ini Amerika Serikat dengan pembentukan pemerintahan islam dunia. Tujuan ini dikomandoi oleh Al Qaeda dan jaringannya. Meski demikian, organisasi terorisme lain dengan tujuan yang berbeda juga masih tetap ada, hanya saja karena Perang Global melawan terrorisme lebih mengerucut kepada perang melawan Al Qaeda dan jaringannya, maka tak heran apabila tujuan dari organisasi terorisme lebih mengarah kepada tujuan dari Al Qaeda dan jaringannya tersebut. sementara itu organisasi terorisme bertujuan untuk memisahkan diri serta merebut kekuasaan hingga saat inipun masih ada, namun tidak terlalu signifikan,bila dibandingkan dengan berbagai opini dan membesarnya isu perang global melawan terrorisme sebagai perang melawan Al Qaeda dan jejaringnya.

Kelima, jaringan terorisme. Sebelum Peristiwa 9/11kelompok terorisme lebih cenderung menggunakan pola kurir, dengan memanfaatkan SDM yang berlapis untuk menghubungkan jaringan terorisme dengan sel-selnya. Sedikit sekali memanfaatkan jaringan telekomunikasi, TV, internet, telepon, dan lain sebagainya. Model komunikasi ini dalam konteks intelijen merupakan model jaringan konvensional, dimana komunikasi dilakukan oleh kurir dengan tingkat kepercayaan yang sangat tinggi. Kurir ini juga selain menjadi mata rantai komunikasi antar jaringan dan sel terorisme, juga bertugas untuk membawa dan mensuplai berbagai kebutuhan organisasi dan selnya,dari mulai uang hingga kebutuhan operasional. Salah contohnya misalnya IRA yang banyak memanfaatkan jaringan donaturnya di Amerika Serikat untuk mensuplai pendanaan hingga senjata, komunikasi yang dibangun juga memanfaatkan kurir organisasi yang dipercaya organisasi tersebut untuk menyampaikan informasi dan berbagai hal terkait dengan komunikasi antar jaringan dan pemberi donator maupun sel organisasi nya. Atau jika melihat hubungan antara kelompok terorisme di Timur Tengah dan Asia Selatan, kurang lebih sama polanya. Hanya saja hal yang menarik adalah bahwa pola hubungan antara kelompok terorisme di Asia Selatan,khususnya Pakistan dan Afganistan,dengan jaringan Timur Tengah adalah terkait dengan pola pembelajaran agama Islam yang berpusat di Pakistan,kemudian masuk ke daerah Afganistan untuk bergabung dengan pejuang mujahidin, ketika Uni Soviet masih menguasai Negara penuh konflik tersebut .

Adapun pola komunikasi dan jaringan organisasi terorisme relative berubah setelah Peristiwa 9/11, Marc Sageman mengungkapkan bahwa perubahan jaringan terorisme salah satunya terkait dengan pemanfaatan jaringan komunikasi yang makin canggih. Pola konvensional yang selama ini digunakan untuk berhubungan antar jaringan dan sel terorisme sangat riskan dipertahankan. Hal ini terkait dengan makin ketatnya pengamanan jalur transportasi, baik darat, laut,dan udara pasca Peristiwa 9/11. Perang global terhadap terorisme menjadi bagian terpenting yang merevolusi pola komunikasi dan jaringan terrorisme. Banyaknya sel-sel organisasi, kurir, dan actor dari organisasi terorisme yang tertangkap dan terbunuh menjadi indikasi bahwa pola komunikasi dan jaringan terorisme juga diubah. Bahkan bila sebelumnya pengiriman video rekaman dan pengakuan bertanggung jawab pengeboman ataupun aksi terror lainnya kepada jaringan TV seperti Al Jazeera dilakukan oleh kurir dan jaringan sel lainnya, sekarang memanfaatkan jasa pos dan pengiriman barang. Langkah tersebut, selain lebih aman dari jangkauan aparat penegak hukum, juga dipercaya karena meminimalisir pemanfaatan SDM untuk menyampaikan pesan ataupun perintah pada jaringan organisasi yang lainnya cukup memanfaatkan internet dan alat komunikasi lainnya. Sehingga jaringan sel organisasi tetap terhindar dari jangkauan aparat penegak hukum dalam perang global melawan terrorisme tersebut.

III. Kesimpulan
Dari uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perang global melawan terorisme pasca Peristiwa 9/11 telah mengubah juga organisasi terorisme yang tersebar di seluruh dunia. Kecenderungan tersebut menguatlkan asumsi bahwa perang global melawan terorisme di satu sisi memperkuat keberadaan Negara-negara untuk bersatu melawan aksi terror, demi menjaga peradabanmanusia secara umum. Namun di sisi lain, perang global melawan terorisme tersebut juga menciptakan revolusi di internal organisasi terorisme untuk kembali merapihkan barisan setelah sempat tercerai berai pasca Amerika Serikat dan sekutnya menginvasi Afganistan dan memaksa turun Pemerintahan Taliban. Tak heran apabila kemudian aksi teror berlanjut di kota-kota di mana menjadi symbol dari hegemoni Barat, sebagaimana yang terjadi di London,Inggris. Sehingga, sebagaimana Cambell tegaskan bahwa perang global melawan terorisme adalah Perang Globalisasi I, dimana masih sangat mungkin akan berlajut pada perang globalisasi berikutnya.