You are currently browsing the monthly archive for April 2008.

Selama ini berkembang asumsi di masyarakat bahwa meski gaji polisi tidak berbeda dengan gaji PNS, namun anggota polisi masih mendapatkan penghasilan ‘informal’ yang dekat dengan penyalahgunaan wewenang dan korupsi. Sebagaimana diketahui adanya tiga pos pendanaan Polri dari pos yang syarat dengan penyimpangan, karena tidak transparan,yakni: Partisipasi Masyarakat (Parmas), Partisipasi Teman (Parman), dan Partisipasi Kriminal (Parmin). Ketiga pos pendanaan polisi ini terus dipelihara karena diyakini kesejahteraan anggota polisi masih jauh dari harapan ditambah lagi dengan adanya sikap permisif dari masyarakat terkait dengan praktik penyimpangan tersebut. Langgengnya praktik tersebut menjadi satu penegas bahwa pentingnya meningkatkan kesejahteraan anggota polisi agar anggota polisi agar professional pada tugas dan fungsinya, sebagaimana diamanatkan dalam UUNo.2/2002 Tentang Polri. Read the rest of this entry »

Praktik demokrasi ala Gus Dur kembali membawa korban, Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB saat ini, menyusul Matori Abdul Djalil, kemudian Alwi Shihab bersama Kairul Anam, A.S. Hikam, serta lusinan elit partai nahdlyin lainnya juga tergusur karena melawan ’titah’ Gus Dur. Muhaimin Iskandar, pengganti Alwi Shihab hasil Muktamar II Semarang menjadi korban kesekian dari demokrasi yang dikembangkan di PKB. Selain menggelikan, praktik politik yang dikembangkan Gus Dur juga cenderung mematikan mekanisme regenerasi dalam sebuah partai politik. Seyogyanya, dalam konteks demokrasi, sebuah partai politik secara reguler akan melakukan regenerasi dalam bentuk muktamar, ataupun mekanisme lain sesuai dengan konstitusi partai. Read the rest of this entry »

It has become a public knowledge that police officers have additional income outside their official salary provided by the state. There are three sources of additional income: People’s Participation (partipasi masyarakat – parmas), Friendship Participation (parisipasi teman – parman), and Criminal Participation (partisipasi kriminal – parmin). These souces of income are supported by permissive attitudes from the society for improper practices of the officers. Read the rest of this entry »