Kontroversi tuduhan terhadap Pahlawan Nasional, Adam Malik sebagai agen CIA mengagetkan semua pihak. Tidak hanya kalangan akademisi politik dan sejarawan, tapi juga DPR dan eksekutif, dalam hal ini Jusuf Kalla, Wakil Presiden. Pasalnya tuduhan tersebut berasal dari buku Legacy of Ashes, The History of CIA, yang diterjemahkan menjadi Membongkar Kegagalan CIA karya Tim Weiner, wartawan New York Times, yang banyak menulis tentang sepak terjang CIA dalam kancah politik dunia. Buku yang mengundang kontroversi tersebut adalah satu dari karyanya yang dianggap mampu meluruskan sejarah dan fakta di beberapa negara terkait dengan keterlibatan negara adidaya tersebut dalam mendorong kejatuhan rejim otoriter dan terpengaruh oleh ideologi komunis di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan sepanjang Perang Dingin hingga kejatuhan komunisme awal tahun 1990-an.

Indonesia sepanjang kepemimpinan Soekarno menjadi satu ancaman di Asia Tenggara, karena kebijakan luar negerinya yang lebih condong ke Kiri. Poros Jakarta-Peking-Pyong yang menjadi salah satu ancaman serius bagi eksistensi AS di Asia Tengggara dan Asia Timur. Berbagai operasi intelijen yang terjadi di Indonesia sejak pertengahan tahun 1950-an menjadi bukti bahwa AS begitu serius melihat posisi Indonesia dalam percaturan politik dunia, khususnya di Asia Tenggara setelah jatuhnya Vietnam ke tangan komunis. Salah satu operasi intelijen AS yang gagal total adalah dukungan CIA terhadap pemberontakan PRRI/Permesta, di mana salah satu pilot AS yang berupaya menyuplai persenjataan dan logistik untuk pemberontak PRRI/Permesta tertangkap.

Pengelompokkan Politik

Dengan kata lain, tuduhan bahwa Adam Malik sebagi agen CIA adalah bukan sesuatu yang baru, mengingat langkah apapun akan dilakukan oleh AS untuk dapat mengontrol dan menyusupi pemerintahan Soekarno, dan menjatuhkannya. Apalagi Adam Malik dinilai sebagai figur yang anti PKI, meski tidak terlalu anti Soekarno. Sebagai kader Partai Murba, yang didirikan oleh Tan Malaka, Adam Malik bersama Soekarni, dan Chaerul Saleh menjadi figur politik yang merepresentasikan pemikiran Tan Malaka, yang sosialis, tapi anti terhadap PKI. Bahkan pada masa Perang Kemerdekaan, Adam Malik bersama Soekarni dan sekelompok tentara berinisiatif menculik Perdana Menteri, Sjahrir yang menurut Benedict Anderson,seorang ahli Indonesia sebagai operasi intelijen militer, yang merasa tidak nyaman dengan kebijakan diplomasi Pemerintahan Sjahrir yang didukung oleh Partai Sosialis pimpinan Sjahrir dan Amir Sjarifuddin, dan PKI. Dengan kata lain, Adam Malik sudah terbiasa terlibat dengan berbagai operasi yang terkait dengan upaya penjatuhan sebuah pemerintahan.

Akan tetapi, pada kasus upaya penjatuhan Soekarno, Adam Malik direkrut oleh McAvoy, salah seorang petinggi CIA untuk Asia Tenggara dan Asia Timur pada tahun 1964. Bisa jadi perekrutan Adam Malik oleh CIA sebagai sebuah keniscayaan sejarah, mengingat pasca Dekrit Presiden 5 Juli 1959, perpolitikan Indonesia ketika itu cenderung didominasi oleh jargon-jargon kiri revolusioner khas Soekarno dan PKI. Pilihan Adam Malik merapat ke Kanan, didasari dari analisis bahwa Soekarno dan PKI tidak lagi dapat ditolerir oleh Adam Malik. Bahkan langkah Adam Malik ini kemudian harus dibayar mahal, karena harus berpisah secara ideologis dengan Chaerul Saleh, kawan separtainya yang memilih berada dekat dengan Soekarno, hingga kejatuhan Orde Lama. Dengan kata lain, Adam Malik, bukan tanpa sadar memilih bergabung dengan jaringan militer dan pro Barat, yang anti Soekarno dan PKI. Sebab itu, tak heran ketika Adam Malik diangkat menjadi wakil presiden pada tahun 1978-1983, bahkan tanpa penolakan oleh kalangan TNI. Hal ini berbeda sekali dengan kasus naiknya Sudharmono sebagai wakil presiden, yang dianggap tidak bersih lingkungan.

Pilihan politik Adam Malik memang tepat; meninggalkan ideologi Kiri Murba, dan kemudian berkiprah dalam pemerintahan Orde Baru, sebagai sumbangsih atas bhaktinya kepada negara. Bahwa kemudian, pilihan politik tersebut juga dimanfaatkan oleh AS dengan adanya kontroversi Adam Malik direkrut oleh CIA, adalah konsekuensi dari pilihan pengelompokkan politik tersebut. Sebab, politik adalah aktivitas yang tidak bebas nilai, setiap aktivitas yang dilakukan,besar atau kecil akan berpengaruh dan termanfaatkan oleh orang ataupun kepentingan kelompok lain. Agaknya Adam Malik sadar akan konsekuensi tersebut. sehingga dalam biografi politik Adam Malik, Mengabdi Republik ditegaskan bahwa ideologi bukan sebagai tujuan utama dalam membangun republik, tapi yang paling penting adalah bahwa bagaimana ideologi tersebut mampu membuka jalan bagi terealisasinya harapan rakyat akan kehidupan yang lebih baik. Proses perjalanan ideologisasi yang dilakukan Adam Malik adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pematangan politik salah satu penggagas berdirinya ASEAN, yang mempertegas komitmen Adam Malik pada bangsa dan negara, bukan pada kelompok ataupun golongan.

Dengan begitu, rasanya kita tidak perlu merasa risih ataupun gerah dengan adanya pengakuan dari perwira CIA tentang direkrutnya Adam Malik sebagai agen yang masuk dalam skenario penumbangan Soekarno, dan merancang terbentuknya pemerintahan Orde Baru. Setidaknya kita bisa melihat hal tersebut sebagai bagian dari pematangan dan pendewasaan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Bahwa betapapun besar suatu negara, akan ada kecenderungan tangan-tangan yang tidak terlihat membantu dan membuka jalan bagi pencapaian-pencapaian program. Dan bila kita kembali membaca Mengabdi Republik. Maka akan kita rasakan semangat kesadaran Adam Malik, bahwa pilihannya merapat ke Kanan, pro AS, sebagai pengejawantahan politik yang sadar dan realistis, serta cerdas dijamannya.