Setelah Polri memastikan bahwa teroris yang tewas pada penyergapan di Temanggung, Jawa Tengah bukan Noordin M Top, melainkan Ibrahim, salah satu generasi gres dari kelompok JI dan binaan Noordin, publik Nampak kecewa dan kembali dirundung kekuatiran akan kemungkinan kembalinya aksi terror. Kekuatiran tersebut juga bukan hanya dirasakan oleh masyarakat Indonesia, tapi juga publik global yang mengikuti proses penyergapan tersebut. Bahkan sejumlah media global sebut saja misalnya CNN, BBC, AFP, Al Jazeera telah memberitakan bahwa lelaki yang tewas di Temanggung tersebut adalah Noordin, gembong terorisme yang paling dicari. Meski kemudian diralat, setelah ada pemberitaan resmi dari Polri, namun secara psikologis, publik global juga berharap agar aksi-aksi terror tersebut setidaknya berkurang dengan ditangkapnya atau tewasnya para gembong terorisme, agar sebaran terror juga akhirnya meredup.

Harapan itu nyatanya sedikit banyak tertunda, atau bahkan mungkin tidak akan pernah terealisasi. Mengingat Noordin masih berkeliaran, dan leluasa melakukan perekrutan anggota baru yang siap menjadi martir atas nama agama dan kebencian. Drama penyergapan di Temanggung yang anti-klimaks dengan berbagai pemberitaan yang terkesan bombastis membangun pencitraan terhadap Noordin menjadi begitu melegenda, khususnya di kalangan kelompok fundamentalisme. Pencitraan yang melegenda pada diri Noordin pasca penyergapan yang gagal di Temanggung cenderung memosisikan Noordin setara dengan tokoh Al Qaeda, Osama bin Laden, yang citranya kemudian menjadi sangat baik di mata Umat Islam, karena dianggap melawan Barat yang semena-mena. Bahkan Noordin kemudian diposisikan oleh kalangan intelijen Barat sebagai salah satu gembong terorisme yang tidak dapat tersentuh, sebagaimana Osama bin Laden. Apalagi pasca Hambali, Omar Al Farooq, Abu Dujana dan Zarkasih tertangkap, dan Mas Selamet Kastari kembali tertangkap, tewasnya Dr. Azahari, serta dihukum matinya Imam Samudera dan kawan-kawan, praktis Noordin menjadi satu-satunya petinggi JI di Asia Tenggara, khususnya Indonesia yang masih bisa leluasa bergerak dan menjalankan aksinya. Hal ini berarti secara organisatoris, Noordin memiliki kewenangan yang lebih luas, terlepas adanya pecahan JI dan kelompok Islam radikal lain turunan semisal DI/TII.

Generasi Teror

Harus diakui bahwa apa yang terjadi pada Bom Marriot II, dan kemudian penyergapan Noordin yang gagal di Temanggung telah membangun paradigma baru dalam perang melawan terorisme. Setidaknya untuk konteks Indonesia dilihat sebagai bagian dari transisi antar generasi di internal kelompok terorisme tersebut. Ada semacam pengkondisian yang bersifat sistematis dan terencana terkait dengan dua peristiwa tersebut, yakni pertama, para pelaku Bom Marriot II adalah bukti bahwa Noordin dan jaringannya masih eksis dan mampu melakukan perekrutan baru, dan meninggalkan generasi yang terdahulu, baik yang telah dieksekusi mati, tertangkap, dan atau kemudian berdamai dan menjadi kaki tangan aparat keamanan. Kedua, pembangunan pencitraan media terkait kontroversi tewasnya Noordin telah membangun kesan Noordin sebagai Osama bin Laden-nya Asia Tenggara, yang terus diburu, dan terus gagal sejak penyergapan di Batu Malang tahun 2005, yang menyebabkan Dr. Azahari tewas. Pelibatan media yang besar-besaran dalam penyergapan tersebut justru membangun simpatik kelompok fundamental khususnya terhadap diri Noordin. Dan itu berarti membuka ruang bagi hadirnya martir-martir baru yang siap meledakkan diri dalam berbagai aksi terror di masa yang akan datang.

Kecenderungan bahwa telah munculnya generasi-generasi baru dari kelompok terror di Indonesia ini sejalan dengan realitas politik partai-partai Islam di Indonesia yang tidak dapat berbuat banyak, dan cenderung kompromistis dan mengarah ke oportunitas terhadap dinamika politik yang ada. Perkembangan terakhir bahkan hampir semua partai Islam menjadi pendukung SBY dalam koalisi besar, yang telah dipastikan menjabat kembali untuk periode yang kedua. Padahal publik juga tahu bagaimana kebijakan SBY yang cenderung dekat dengan Barat, sesuatu yang dianggap tabu bagi kelompok Islam, yang menganggap Barat telah bertindak semena-mena terhadap Umat Islam dan mendukung Israel yang menjajah Palestina. Bahkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang dianggap sebagai garda terakhir Umat Islam untuk memperjuangkan umat, dan khususnya kelompok fundamental secara formal, akhirnya menjadi oportunis dan ikut arus menjadi partai koalisi pendukung duet SBY-Boediono, yang dicap neo liberal.

Selain itu, bandul perpolitikan di Indonesia akan cenderung mengarah kepada monopolitik, di mana Pemerintahan SBY tidak akan mendapatkan resisten yang tinggi di parlemen, apalagi apabila Golkar dan PDI P jadi bergabung ke dalam pemerintahan. Masyarakat akan makin tidak memiliki ruang untuk menyalurkan aspirasi terkait dengan kebijakan yang dibuat oleh Negara. Hal ini akan mengarahkan pada masifitas radikalisasi masyarakat. Ada kecenderungan bahwa radikalisasi ini merata, tidak hanya pada kalangan pro demokrasi dan mahasiswa, tapi juga kalangan fundamental. Situasi ini secara teoretik merupakan lahan subur bagi perekrutan dan kaderisasi bagi organisasi teror, semisal JI, ataupun yang lainnya. Khusus pada konteks mahasiswa dan pemuda, yang menjadi lokus bagi pengkaderan organisasi teror, beberapa waktu lalu organisasi kemahasiswaan Islam yang relatif militan, KAMMI, juga tak lepas dari kontrol organisasi induknya, PKS untuk mengarahkan dukungan bagi pemenangan SBY-Boediono. Hal ini jelas akan makin menyuburkan kekecewaan dan pencarian alternatif untuk memperjuangkan nilai-nilai Keislaman. Bisa jadi itu dimanfaatkan oleh Noordin dan kelompoknya untuk merekrut dan menjadikannya martir.

Terintervensinya KAMMI sebagai salah satu organisasi mahasiswa muslim terbesar juga berimplikasi pada makin kuatnya Lembaga Dakwah kampus (LDK) dan Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) yang merupakan embrio dari PKS dan KAMMI sendiri. LDK dan LDF kembali akan menjadi ujung tombak dakwah Keislaman di kampus sebagaimana dahulu belum lahir PKS ataupun KAMMI. Hampir dipastikan LDK dan LDF juga akan dimanfaatkan oleh Noordin dan kelompoknya untuk melakukan perekrutan. Bisa jadi ke depan LDK dan LDF menjadi rebutan antara PKS dan KAMMI, Noordin dan kelompoknya, serta organisasi Islam lainnya semisal Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)

Di samping itu, pasca penyergapan di Temanggung, bisa dipastikan bahwa Noordin dan kelompoknya akan makin terkonsolidir, dengan lebih fokus pada upaya membangun jaringan dan sel baru yang lebih muda, militan, dan menggunakan pola-pola teror yang lebih mutakhir dan tak terduga. Salah satu eksperimen yang dilakukan oleh Noordin dan JI adalah menggunakan pola yang tidak biasa dan merekrut orang-orang dalam sasaran yang dituju. Hal ini mengingatkan kita pada langkah-langkah kelompok teror non-agama yang marak pada medio abad 20, sebut saja misalnya Tentara Merah Jepang. Ada semacam adaptasi dari berbagai pola yang ada dengan pendekatan sentimen keagamaan.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka menjadi tidak penting eksis atau tidak Noordin dalam dinamika terorisme di Indonesia. Hal yang penting dalam konteks ini adalah bahwa telah tersemai benih-benih generasi teror yang lebih baru, muda, militan dan radikal, yang menandai peralihan generasi yang lebih segar dan cerdik. Hal ini membutuhkan penangan yang serius dan terencana, agar langkah-langkah yang dilakukan oleh Polri dan Densus 88 serta aparat keamanan terkait lainnya dapat lebih mampu mendeteksi setiap pergerakan organisasi terorisme. Sehingga di masa yang akan datang tidak ada lagi aksi teror yang tidak terdeteksi, tapi juga mampu mempersempit ruang gerak kelompok terorisme dari bumi Indonesia.