Sebulan terakhir aparat kepolisian dan Densus 88 AT secara intensif menyisir Aceh Besar dan Pantau Utara Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Langkah ini tak lain karena ditemukan adanya aktivitas pelatihan terorisme yang sama sekali bukan gerakan separatisme. Bahkan yang agak mengejutkan, area pelatihan terorisme tersebut menyebar di wilayah NAD, khususnya di wilayah bekas basis GAM di Aceh seperti Pidie. Yang menarik, dari beberapa temuan dan tertangkapnya para teroris tersebut, sebagian besar bukan orang NAD, dan ada juga yang WNA.

Terlepas dari hal tersebut di atas, sesungguhnya ada langkah-langkah sistematis paska tewasnya Dr. Azahari dan kemudian Norrdin M. Top serta tertangkapnya belasan petinggi Jama’ah Islamiyah (JI) untuk membangun basis baru yang relatif aman dari jangkauan aparat. Upaya yang dilakukan oleh sejumlah petinggi JI seperti Dr. Azahari dan Noordin M. Top yang berbaur dengan masyarakat di pedalaman Pulau Jawa diangap tidak lagi efektif. Situasi ini makin dikuatkan dengan tewasnya Noordin M. Top yang tempat persembunyiannya ternyata terjangkau oleh aparat. Makin sempitnya ruang gerak JI membuat sisa-sisa petinggi JI akhirnya harus mengalihkan basisnya ke wilayah yang lebih luas dan jauh dari pusat pemerintahan. Pada masa konflik komunal, Poso dan Maluku dianggap sebagai basis yang baik, sekaligus membangun sentimen keagamaan dalam konflik antar agama di kedua tempat tersebut. Namun, membaiknya situasi Poso dan Maluku, mendorong petinggi JI kembali ke Jawa dan melakukan operasinya. Sehingga, dibutuhkan basis baru yang lebih komprehensif dan efektif.

Simbiosisme-Teror

Namun sebagaimana penjelasan di atas, maka upaya membangun basis baru dengan pendekatan kewilayahan tidak dapat dilakukan sendiri, mengingat secara organisasi, JI tengah mengalami pelemahan akibat banyaknya anggota dan kader yang tewas dan menyerahkan diri kepada aparat keamanan, dan tak sedikit yang kemudian menjadi informan bagi aparat keamanan. Pilihan untuk menggabungkan basis jaringan dan gerakan kemudian terbuka lebar karena para Aktivis Negara Islam Indonesia (N11) dan eks Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang merasa frustasi dan kecewa terhadap para petinggi mereka yang mabuk kekuasaan akhirnya . bersatunya tiga kelompok dalam satu kepentingan setidaknya disebabkan oleh empat alasan; yakni: ruang gerak yang makin sempit, kaderisasi dan rekrutmen terkendala, dibutuhkan pola baru dalam menjalankan aktivitas terornya, serta ada irisan kepentingan antara JI, N11, dan eks GAM membuat pembangunan basis baru dapat segera terealisir paska tewasnya Noordin M.Top, dalam hitungan bulan beberapa tempat latihan militer di NAD dapat segera beroperasi.
Ada tiga alasan mengapa NAD menjadi pilihan basis setelah Poso dan Maluku, serta pedalaman Pulau Jawa dirasakan tidak aman lagi, yakni: Pertama, sebagai daerah bekas konflik, masyarakat NAD cenderung permisif dengan senjata dan bunyi ledakan. Sehingga relatif aman dengan berbagai aktifitas yang dilakukan, terutama saat melakukan latihan militer.

Kedua, masih efektinya sel-sel eks GAM yang kemudian memilih berseberangan dengan para petinggi eks GAM yang berkuasa. Sel-sel gerakan ini dipakai untuk melakukan berbagai aktifitas kontra-intelijen dan terror sebagai penegas bahwa kelompok ini masih eksis.

Ketiga, karakteristik wilayah NAD yang relatif cocok dengan pengembangan basis gerakan baru, dengan sosiologis masyarakat yang lslami. Diharapkan akan memberikan kemudahan-kemudahan bagi pengembangan basis baru yang akan menyatukan tiga kelompok agar lebih kuat.
Perpindahan basis gerakan ini juga dimaksudkan untuk mengevaluasi berbagai kegagalan gerakan, terutama JI dan N11 dalam menjalankan aksi terror dan tujuan organisasinya. Salah satunya dengan mengubah metode aksinya. Selama ini kedua organisasi tersebut merasakan berbagai kegagalan terkait dengan aksinya. Hal ini dimungkinkan karena metode yang digunakan dengan pendekatan konvensional, mulai bom mobil hingga bom bunuh diri. Upaya tersebut sesungguhnya mulai dikurangi dan bahkan ditinggalkan oleh sejumlah organisasi teroris di dunia dan mengubah polanya dengan sedikit modifikasi.

Perpindahan basis pergerakan dan melakukan kerja sama terror dengan tiga organisasi tersebut di atas setidaknya menyatukan berbagai kepentingan yang berbeda, eks GAM yang cenderung sekuler, N11 yang sangat Indonesia-sentris, dan JI sendiri yang memiliki jangkauan untuk membentuk kekalifahan di Asia Tenggara. Pertanyaan yang kemudian muncul, bagaimana ketiganya dapat bersinergis dalam menjalankan tujuan dan aksinya. Ada titik persinggungan yang menyatukan ketiga organisasi tersebut; sama-sama berbasis Islam. Di sinilah kemudian pada akhirnya mereduksi berbagai perbedaan untuk sementara waktu hingga menguatnya konsolidasi organisasi.

Ada tiga model terror yang coba diadopsi dengan perpindahan basis ke NAD, yakni: Pertama, model pembajakan yang dilakukan oleh pejuang dan organisasi terorisme di Somalia. Model ini agak awam dilakukan oleh JI dan N11 mengingat gerakan fundamentalisme Islam di Indonesia lebih banyak berbasis di territorial, sebagaimana kedekatannya dulu dengan aparat militer, yang disinyalir merupakan bagian dari pembinaan territorial dalam melawan agresifitas PKI. Namun bagi GAM, meski tidak terlalu kuat, namun memiliki armada laut dalam jumlah kecil yang menyuplai persenjataan dan dana dari Malaysia dan atau Thailand Selatan. Sehingga bisa dikatakan model ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit bagi kelompok tersebut. Apalagi, Selat Malaka merupakan perairan internasional yang ramai dilalui oleh kapal-kapal besar. Sehingga bisa jadi model ini akan diadopsi di masa yang akan datang dengan memperhatikan dukungan dana dan kesiapan kader-kader kelompok tersebut dalam menjalankan aksi-aksi terror dan pembajakan.

Kedua, model Mindanao. Mengingat banyak dari petinggi kelompok tersebut baik yang eks GAM, N11, maupun JI merasakan dinamika di Mindanao sehingga model ini tidak asing bagi kelompok tersebut dalam mengaplikasikannya. Apalagi di NAD banyak perusahanaan pengelola mineral berkebangsaan asing, yang memungkinkan dilakukannya pola yang dilakukan sebagaimana GAM dulu lakukan, dengan sedikit modifikasi mengikuti pola Abu Syayaf dan MILF melalui aksi penculikan dan permintaan tebusan, yang dananya akan digunakan untuk operasional.

Ketiga, model Taliban. Di mana para pejuang Taliban memanfaatkan pohon opium sebagai pendukung dana perjuangan. Meski ketika memerintah tahun 2000, Taliban melarang penanaman opium namun sejalan dengan makin terdesaknya Taliban, maka langkah untuk memanfaatkan opium sebagai sumber dana perjuangan pun dilakukan. Berkaitan dengan hal tersebut, maka perpindahan basis tersebut agaknya sedikit banyak membantu mengurangi dukungan pendanaan dari luar negeri, dengan melakukan aktifitas penanaman pohon ganja sebagai sumber dana organisasi. Sebagaimana diketahui bahwa NAD merupakan ‘eksportir’ ganja terbesar bagi Pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya.

Dengan demikian, membangun basis baru di NAD adalah bagian dari perencanaan jangka panjang kelompok terror di Indonesia, sebab cepat atau lambat keberadaan basis tersebut dikemudian hari akan menyulitkan Indonesia secara keseluruhan. Langkah aparat keamanan menyikat habis basis yang belum lama terbangun tersebut setidaknya menegaskan bahwa simbiosime-teror dengan membangun basis kelompok terorisme di NAD bukan isapan jempol.