Empat belas tahun lalu, gemuruh  ribuan mahasiswa dan rakyat berbaris teratur menuju Lapangan Gasibu dan Gedung Sate dari berbagai penjuru kota Bandung untuk bergabung dengan ratusan ribu massa menyuarakan tuntutan Reformasi Ekonomi Politik yang bermuara pada tuntutan pergantian nasional. Gerakan mahasiswa Bandung yang kemudian disokong oleh masyarakat ini menjadi salah satu kekuatan moral dalam penumbangan Rejim Orde Baru. 

Tradisi gerakan mahasiswa Bandung yang terpolarisasi oleh sentimen kampus besar seperti Unpad dan ITB yang memiliki tradisi gerakan mahasiswa yang kuat, dengan kampus gurem, yang tidak mau dibawah bayang-bayang kepemimpinan kampus besar menguap manakala semangat untuk menumbangkan Rejim Soeharto sudah begitu menggelora. Lebih dari 85 kampus se-Bandung Raya bersatu dalam semangat dan irama yang sama dalam Forum Mahasiswa Bandung (FMB), dengan menjadikan Aula Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran sebagai Sekretariat Bersama. Pilihan Unpad sebagai Sekretariat Bersama salah satunya dikarenakan dianggap paling dekat dengan Lapangan Gasibu dan Gedung Sate, dibandingkan dengan kampus lainnya. Bersatunya mahasiswa Bandung juga membawa pengaruh positif bagi masyarakat Bandung ketika itu, di mana Bandung menjadi satu-satunya kota besar yang tidak dilanda kerusuhan dan penjarahan. Slogan Anak Bandung Cinta Damai yang disuarakan ketika itu menjadi magnet penyatu mahasiswa dan masyarakat untuk menjaga agar Bandung tetap aman dan kondusif. 

Karakteristik gerakan mahasiswa Bandung yang mampu mensinergikan perbedaan demi perubahan menuju Indonesia yang lebih baik yang membedakan dengan kota-kota lainnya. Semangat itu tak lepas dari posisi kota Bandung yang menjadi persemaian gerakan perubahan di Indonesia, sejak era pergerakan nasional. Tak heran apabila dalam proses koreksi dan penumbangan rejim, baik Orde Lama maupun Orde Baru, gerakan mahasiswa Bandung selalu menjadi pionir.

Akan tetapi, masihkah tradisi gerakan mahasiswa Bandung tersebut tetap ada? Pertanyaan yang tidak sulit untuk di jawab apabila melihat polarisasi gerakan mahasiswa di Bandung saat ini yang sangat kompleks. Bila menjelang Soeharto tumbang dan awal reformasi, gerakan mahasiswa Bandung terpolarisasi hanya pada kampus besar dan kampus gurem. Maka saat ini polarisasinya terbelah oleh kepentingan partai politik dan ideologi pragmatisme, baik yang berdasarkan agama maupun kepentingan praktis semata. Meskipun ada rumus yang sulit dibantah, bahwa gerakan mahasiswa tidak akan memiliki efek politis yang besar apabila kampus-kampus besar belum turun ke jalan. Hal yang sama juga berlaku di Bandung. Uniknya, kampus-kampus besar paska Orde Baru justru menjadi basis gerakan mahasiswa berlatar belakang keagamaan, sebagaimana terjadi di Unpad, ITB, dan juga UPI. Sehingga, meski mahasiswa dari kampus-kampus besar tersebut turun ke jalan, namun efek politiknya tidak terlalu besar, karena kerap kali aktivitas gerakan mahasiswa berlabel keagamaan tersebut diasosiasikan dengan agenda salah satu partai politik keagamaan. Hal inilah sesungguhnya yang membedakan antara gerakan mahasiswa 98, dengan gerakan mahasiswa saat ini.

Satu-satunya Pilihan

Tentu saja sulit membangun gerakan mahasiswa apabila ideologi gerakan yang terbangun pamrih dan berorientasi kekuasaan semata. Semangat merajut semangat kerakyatan tanpa pamrih dan tidak berorientasi kekuasaan menjadi satu-satunya pilihan bagi gerakan mahasiswa Bandung apabila masih ingin memposisikan diri sebagai agen perubahan.  Tawaran politik yang menggoda dan menggiurkan harus dilihat sebagai sebuah pilihan lain, di luar esensi untuk menjaga kemurnian gerakan mahasiswa. Dalam pengertian bahwa dalam konteks saat ini di mana demokratisasi berjalan massif, gerakan mahasiswa Bandung harus mampu menjadi bagian yang menarik dari pilihan-pilihan tersebut. Saat partai-partai politik memiliki organisasi sayap di mahasiswa, demikian juga organisasi masyarakat yang memiliki seksi kemahasiswaannya, maka gerakan mahasiswa Bandung harus memiliki alternative dan tidak terjebak pada pilihan-pilihan dan tawaran menggiurkan tersebut.

Kesadaran bahwa membangun gerakan mahasiswa yang tidak terjebak oleh kepentingan praktis dan tidak pamrih  sebagai satu-satunya pilihan untuk  menjaga agar Bandung tetap sebagai barometer gerakan mahasiswa di Indonesia. Selain itu satu-satunya kepentingan agar gerakan mahasiswa Bandung tetap eksis adalah untuk tetap menjaga dan merawat Indonesia sebagai satu kesatuan. Membangun Indonesia sebagai sebuah entitas yang memiliki harga diri dan berpengaruh di antara bangsa-bangsa lainnya.    

Pilihan tersebut berimplikasi pada upaya bagaimana memperkuat basis gerakan mahasiswa, yakni memastikan bahwa kampus-kampus di Bandung harus terbebas dari kepentingan politik praktis partai politik dan elit politik. Mata rantai antara gerakan mahasiswa dengan partai dan elit politik harus diputus agar gerakan mahasiswa kembali bersemai sebagai gerakan moral semata, yang berbasis pada moralitas, kejujuran dan kebenaran.

Selain itu, tradisi intelektual dan forum-forum diskusi kampus harus kembali dijadikan basis pemikiran mahasiswa untuk memetakan masalah bangsa dan masyarakat, dan kemudian menyuarakannya. Harus diakui lebih dari satu dekade, tradisi intelektual dan forum kritis mahasiswa di kampus langka dan telah digantikan dengan aktivisme yang cenderung mereproduksi pemikiran yang dangkal. Membaca dan diskusi menjadi aktivitas yang sulit ditemukan di kampus, karena banyak dari mahasiswa cenderung memilih aktivitas kreatif.

Mengacu pada uraian tersebut di atas, Bandung sebagai barometer gerakan mahasiswa dapat tetap terjaga. Kekhasan dan kolektifitas gerakan mahasiswa bandung berbasis kampus sebagaimana yang terjadi pada 14 tahun lalu dapat kembali disemai dan diwujudkan. Dengan begitu, upaya untuk merawat dan membangun Indonesia dapat terus dilakukan. Dan sebutan “Mereka dari Bandung” kepada aktivis gerakan mahasiswa Bandung sejak era tahun 1960-an hingga saat ini masih relevan disandang.