Meski Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat relatif masih lama, namun masing-masing bakal calon baik yang akan diusung oleh Partai politik maupun yang masih bergerilya politik untuk mendapatkan dukungan untuk maju dalam Pilgub tahun 2013 mendatang. Dalam konteks penguatan demokrasi, apa yang dilakukan para bakal calon maupun partai politik dan jalur perseorangan adalah bagian dari penguatan politik lokal, namun di sisi lain, langkah-langkah tersebut untuk menyongsong pesta demokrasi di Jawa Barat (Jabar) tersebut mengundang ironi politik; di mana baru terbatas pada politik dagang sapi, politik uang, dan jargon semata, di mana program-program yang ditawarkan hanya pemanis politik belaka, benarkah?
Pernyataan tersebut sejatinya telah terjawab dan dibuktikan dari sejumlah pengalaman praktik demokrasi tingkat lokal selama kurun waktu hampir satu setengah dekade reformasi. Di mana demokrasi lokal hanya dikuasai oleh segelintir elit politik, dan publik hanya dijadikan sebagai pelegitimasi politik semata. Begitu pemilukada di menangkan oleh salah satu calon, cepat atau lambat watak elitis, birokratis dan anti rakyat menguat dan pada akhirnya menanggalkan esensi dari dukungan politik rakyat. Kenyataan ini pada akhirnya memosisikan daya tawar politik rakyat di mata para calon tersebut cenderung menguat saat proses pemilihan, dan menukik tajam begitu calon pimpinan daerah terpilih. Read the rest of this entry »