I. Pendahuluan
Permasalahan yang mendasar dalam proses transformasi kelembagaan Polri dari polisi dengan karakter militeristik menjadi polisi sipil adalah adanya faktor berpengaruh yang menghambat proses tersebut. Faktor tersebut banyak orang menuding dengan keberadaan Brigade Mobil (Brimob) Polri. kesatuan elit di Polri tersebut dianggap sebagai batu sandungan bagi proses penataan kelembagaan di Polri, karena paramiliter yang melekat di kesatuan tersebut. Bahkan sebagian kecil masyarakat menganggap bahwa Brimob layak untuk dibubarkan, agar proses transformasi tersebut dapat dijalankan.
Setelah hampir delapan tahun berpisah dari TNI, sebagai ‘organisasi induk’, Polri masih menyisakan permasalahan pada permasalahan penataan kelembagaan dan kultur organisasi. Brimob secara kelembagaan memang sudah menyesuaikan diri dengan apa yang menjadi agenda Polri. Hanya saja, proses yang dirasakan terlalu lamban, untuk Brimob sendiri, sehingga dianggap tidak ikhlas melakukan perubahan. Di sinilah pangkal kunci, mengapa Brimob masih menjadi kerikil dari sepatu besar Polri.
Proses perubahan, atau dalam bahasa internal Brimob sebagai penyesuaian dengan agenda Polri menambah beban psikologis di tubuh Brimob sendiri. Karena sejatinya, keberadaan Brimob sejak kali pertama terbentuk, telah difokuskan pada kekhususan penegakan hukum gangguan keamanan tingkat tinggi, yang tidak bisa dilakukan oleh anggota Polri biasa. Sehingga, pengadobsian warna militeristiknya juga menjadi satu kesadaran tersendiri, ketika terintegrasi secara formal dalam tubuh Polri. Sehingga ketika ‘dipaksa’ menanggalkan berbagai atribut kemiliteran yang telah melekat sejak tahun 1946, maka ada semangat penolakan yang sistematik, karena menyangkut esprit de corps.
Tulisan ini akan membahas tentang proses reformasi yang terjadi di tubuh Brimob Polri, respon-respon yang dilakukan, termasuk pola pembinaan, operasional, dan struktur yang ada. Di samping itu akan dibahas juga bagaimana proses pergeseran dari tradisi yang sepenuhnya militeristik menjadi tradisi yang bercampur antara tradisi militeristik, dan tradisi sipil yang hendak dikembangkan.
II. Lahir dari Tradisi Militeristik
Brigade Mobil (Brimob) Polri sejak pembentukannya, 14 November 1946 merupakan respon dari Polri untuk bersama-sama dengan elemen bangsa lainnya mempertahankan kemerdekaan dari upaya Belanda dan sekutunya untuk kembali menjajah Indonesia. Hal ini tercermin dari upaya segenap anggota Brimob dan Polri ketika itu untuk mengintegrasikan diri dan bahu membahu dalam mempertahankan kemerdekaan bersama rakyat dan unsur TNI, disamping peran dan fungsinya dalam penegakan hukum. Apalagi secara eksplisit, Polri juga ikut dalam setiap langkah dan kebijakan dari pemerintah yang menyangkut penjagaan pada eksistensi bangsa dan negara dari rongrongan pihak asing dan upaya pemberontakan dengan dalih menganti ideologi dan dasar negara dengan yang lain, seperti yang tercermin pada Pemberontakan PKI Madiun 1948, yang ditumpas oleh Divisi Siliwangi, TNI, rakyat, serta Polri.
Setelah kemerdekaan penuh direngkuh oleh rakyat dan bangsa Indonesia, Brimob tidak berhenti mengabdikan diri pada Ibu Pertiwi. Berbagai pemberontakan dan gerakan separatisme, yang mengancam keamanan dalam negeri (Kamdagri), dan eksistensi republik ini. Brimob menjadi satuan Polri yang terdepan untuk memadamkan berbagai pemberontakan dan gerakan separatisme bersama TNI. Pada masa Orde Lama ini, ternyata peran dan fungsi Polri tidak terbatas pada upaya penegakan hukum, preventif dan represif saja, tapi juga pada peran dan fungsi yang berkaitan dengan wilayah politik, serta bersama-sama dengan TNI terlibat dalam operasi penumpasan gerakan pemberontakan seperti Pemberontakan Andi Aziz, PRRI/Permesta, APRA, DI/TII, dan lain sebagainya.
Kembali ke awal pembentukannya, Brimob Polri merupakan bagian dari metamorfosis polisi paramiliter bentukan Jepang dan Belanda ketika kedua negara tersebut menjajah bangsa ini. Pada tahun 1912, ketika masa penjajahan Belanda satuan polisi bersenjata dibentuk dengan nama Gewapende Politie dan digantikan oleh satuan lain bernama Veld Politie, tugasnya antara lain: bertindak sebagai unit reaksi cepat, menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat, mempertahankan hukum sipil, menghindarkan munculnya suasana yang memerlukan bantuan militer, serta konsolidasi atas wilayah yang dikuasai.
Bisa dikatakan Gewarpende Politie dan kemudian Veld Politie merupakan bagian dari unit pemadaman pemberontakan yang efektif, sebelum militer akhirnya turun tangan, sebab kedua kesatuan tersebut sesunguhnya merupakan bentuk lunak dari pasukan bersenjata selain militer.
Sementara itu, ketika masa pendudukan Jepang, juga tidak kalah sigapnya untuk membentuk pasukan paramiliter pada April 1944, yang dikenal dengan Tokubetsu Keisatsu Tai, yang anggota terdiri dari para polisi muda dan pemuda polisi didikan Jepang. Tokubetsu Keisatsu Tai ini lebih terlatih dari pasukan polisi istimewa pada masa penjajahan Belanda. Selain diasramakan, polisi istimewa Jepang ini mendapatkan pendidikan dan latihan kemiliteran dari tentara Jepang. Tokubetsu Keisatsu Tai memiliki tugas dan tanggung jawab dalam bidang Kamtibmas, dan sekaligus di front pertempuran.
Masa Tokubetsu Keisatsu Tai ini ternyata telah diupayakan menyebar ke wilayah-wilayah, di mana setiap kesatuan Tokubetsu Keisatsu Tai dibawah perintah kepala polisi keresidenan. Setiap wilayah memiliki variasi jumlah personil , yang berkisar antara 60 hingga 200 personil, tergantung kondisi dan situasi wilayah. Komandan kompi dari Tokubetsu Keisatsu Tai tersebut umumnya berpangkat Itto Keibu (Letnan Satu/Inspektur Satu). Salah satu komandan Tokubetsu Keisatsu Tai adalah Inspektur M. Jasin yang menjadi ’Bapak Pendiri’ Brimob Polri dengan memaklumatkan pendirian polisi istimewa, atau pasukan polisi istimewa, atau Barisan Polisi Istimewa, yang merupakan cikal bakal dari Brigade Mobil (Brimob). Penamaan yang tidak satu tersebut kemudian mengundang permasalahan, karena satu sama lain merasa bahwa penamaan tersebut mencitrakan sebuah persaingan tidak terbuka antara pengusung nama-nama tersebut. Atas inisiatif Komisaris Tk. I Soemarto, yang menjabat sebagai Wakil Kepala Kepolisian Negara untuk mengubah nama polisi istimewa tersebut dengan Mobile Brigade (Mobrig)
Perubahan nama tersebut memang sejalan dengan langkah untuk mempertegas eksistensi polisi istimewa dalam struktur Polri, dengan terbitnya Surat Perintah Kepala Muda Kepolisian No. Pol: 12/78/91, yang memerintahkan Inspektur M. Jasin untuk mempersiapkan berbagai hal untuk pembentukan Mobile Brigade (Mobrig), yang dilanjutkan dengan Mobile Brigade Karesidenan (MBK) berkekuatan satu kompi, struktur ini mengadopsi struktur Tokubetsu Keisatsu Tai.
Pada masa Orde Lama, Mobrig menjadi kesatuan khusus yang dimiliki Polri dengan pengkhususan pada gangguan keamanan dan ketertiban tingkat tinggi, seperti konflik dan gerakan separatisme. Hal ini mendorong upaya penyempurnaan organisasi. Meski hanya bersifat sementara dan koordinatif, di tingkat karesidenan MBK diubah menjadi Rayon Mobrig dan MBB di tingkat provinsi diubah menjadi kompi reserve (cadangan). Di tingkat pusat dibentuk koordinator dan inspektur Mobile Brigade yang berkewajiban mengurusi pasukan Mobrig yang berkedudukan di Purwokerto dengan tugas membantu Kepala Djawatan Kepolisian Negara berkaitan dengan Mobrig. Sementara di tingkat provinsi dibentuk Koordinator dan Inspektur Mobile Brigade yang berkewajiban mengurusi pasukan Mobrig di daerah yang berkeduduakn di provinsi, di mana konsekuensinya di tiap kabupaten dibentuk kompi-kompi Mobrig.
Mobrig kemudian ditingkatkan statusnya , yang semula setingkat kompi, maka berdasarkan Surat Keputusan Departemen Kepolisian Negara No. Pol: 13/MB/1959 tertanggal 25 April 1959 ditingkatkan statusnya menjadi setingkat batalyon, sementara koordinator daerah Mobrig diubah menjadi Komandemen Daerah serta Koordinator Mobile Brigade Djawatan Kepolisian Negara diubah menjadi komandemen Mobile Brigade Pusat, yang juga diubah lagi menjadi Komandemen Mobrig Pusat.
Menjelang Ulang Tahun Mobrig ke 16, Menteri Kepala Kepolisian Negara mengeluarkan surat order (Perintah) dengan nomor: Y.M. No. Pol: 23/61 tertanggal 16 Agustus 1961, di mana berisi penetapan hari ulang tahun, dengan Inspektur Upacara Presiden Soekarno, yang mengubah sebutan Mobrig menjadi Brigade Mobil, atau Brimob. Akan tetapi pada perjalanannya, perubahan penamaan tersebut tidak memberikan satu persfektif bahwa penamaan tersebut kurang memberikan penekan akan pentingnya integralitas Brimob sebagai bagian dari kesatuan yang ada di Polri. justru perwatakan Brimob mengarah pada pengentalan karakteristik militer yang sesungguhnya bertolak belakang dengan esensi Polri sebagai organisasi pengelola keamanan yang berwatak sipil.
Justru yang makin menarik adalah dari berbagai proses perubahan ketatanegaraan dan legal formalnya, hingga terbitnya UU Pokok Kepolisian No. 13/1961 yang mempertegas posisi Polri sebagai salah satu unsur ABRI. Perubahan tersebut mendorong internalisasi nilai militeristik dalam tubuh dan struktur Polri. Apalagi sejak dikeluarkannya Keppres No. 155/1965 tanggal 6 Juli 1965 tentang disamakannya pendidikan pada level akademi bagi ABRI dan Polri. Setelah itu dikembalikan ke masing-masing akademinya. Hal ini jelas mengubah perwajahan Polri dari sipil ke militer, dengan berbagai atribut yang dikenakannya. Permasalahan yang kemudian muncul adalah, bahwa Polri merupakan institusi sipil yang harus mencitrakan dirinya sebagai bagian dari sipil dalam operasionalnya. Tak terkecuali Brimob.
Brimob yang sejak awal memang kesatuan paramiliter yang merupakan kesatuan khusus Polri makin mengentalkan warna militeristiknya ketika Polri disatukan dengan TNI dengan nama ABRI, warna militeristik makin kental, bukan hanya terbatas pada satuan Brimob saja, melainkan menjadi bagian dari kultur di Polri. Bahkan hal tersebut makin menguatkan kultur militeristik yang meresap di satuan Brimob. Perubahan ini sangat mempengaruhi kinerja Polri, dan Brimob pada khususnya dalam mengoperasionalkan peran dan fungsinya sebagai alat keamanan negara. Upaya mendorong agar proses demokrasi sebagai bagian dari komitmen Polri dalam mewujudkan Keamanan Dalam Negeri (Kamdagri) yang kondusif hampir tidak terjadi.
Penekanan bahwa tugas Brimob dalam bidang Kamtibmas gangguan tingkat tinggi dan di front pertempuran, terkoreksi dengan keluarnya Surat Keputusan Kapolri No. Pol.: SK/05/III/1972, tertanggal 2 Maret 1972 tentang Refungsionalisasi dan Reorganisasi Organisasi Brimob, yang mengurangi peran front tempur dan militernya. Di samping itu Surat Keputusan tersebut menempatkan Brimob kembali pada esensi awal pendiriannya yakni di bawah komando langsung Kapolda, sama ketika organisasi Brimob kali pertama dengan nama MBK tersebut.
Mengacu kepada SK tersebut pula, tugas dan fungsi Brimob dipangkas tidak lagi pada tugas tempur militer, tapi fungsi satuan bantuan operasional taktis kepolisian, guna menghadapi kriminalitas tingkat tinggi. Sehingga bentuk organisasinya juga tidak lagi bersifat korps yang bersifat vertikal, namun kesatuan yang dibatasi hanya sampai pada tingkat batalyon kedudukan kompi-kompi yang berdiri sendiri (BS), menjadi organik pada komando-komando kewilayahan Polri (Polda).
Perubahan struktur organisasi tersebut hanya bertahan selama sebelas tahun, karena pada 14 November 1983, struktur Brimob kembali dirubah, dengan benar-benar melikuidasi keberadaan batalyon dan Kompi BS. Hal ini berarti ada penyempitan dengan keberadaan batalyon dan kompi dari mulai pertama pembentukannya hingga Surat Keputusan Polri No. Pol.: Skep/522/XI/1983, digantikan dengan pembentukan Satuan Brimob, yang membawahi kompi-kompi non-BS.
Harus diakui bahwa rentang waktu antara tahun 1972 hingga 1983 posisi Brimob secara langsung menjadi ‘kaki tangan’ dari ABRI, yang secara organisasi melakukan sub ordinat kepada Polri, dan Brimob. Hal ini mempengaruhi psikologis anggota Brimob khususnya dikemudian hari. Tekanakan psikologis tersebut terkait perasaan lebih rendah, dan tidak lebih baik dibandingkan dengan personil ABRI lainnya. Bahkan dimasyarakat berkembang anekdot Brimob dikenal dengan “polisi bukan, tentara belum” , karena ketidakjelasan ‘kelamin’ Brimob Polri. Selama kurun waktu tersebut praktik-praktik militeristik sudah merupakan keseharian dalam perjalanan Brimob Polri. Hal ini ditopang karena rejim yang berkuasa cenderung melegitimasi.
Yang menarik pada tahun 1996, validasi dan peningkatan status Brimob, yakni menjadi badan pelaksana pusat, yang berkedudukan dibawah Kapolri. Konsekuensinya tentu saja jabatan perwira menengah, dari setingkat kolonel (komisaris besar/Kombes) menjadi perwira bintang satu (brigadir jenderal), yang kali pertama di jabat oleh Brigjen Pol. Drs. Sutiyono. Peningkatan status ini juga berpengaruhi pada tugas dan pokok Brimob Polri, yakni: Membina kemampuan dan mengerahkan kekuatan Brimob guna menanggulangi gangguan Kamtibmas berkadar tinggi, utamanya kerusuhan massa, kejahatan terorganisir bersenjata api, atau bahan peledak, serta bersama-sama dengan unsur pelaksana operasional kepolisian lainnya mewujudkan tertib hukum dan ketentraman masyarakat di seluruh wilayah yuridiksi nasional Republik Indonesia.
Harus diakui bahwa proses validasi tersebut merupakan bagian penorehan sejarah bagi eksistensi Brimob, karena pengakuan bahwa Brimob bukan lagi institusi pelengkap saja, tapi merupakan institusi penting dalam jajaran Polri. Karena kurang lebih tiga puluh tahun, status Brimob selama Orde Baru, lebih banyak menjadi alat kekuasaan bukan alat negara. Brimob menjelma menjadi aparat kekuasaan yang menjaga kelanggengankekuasaan Orde Baru. Bahkan dengan motto: “Sekali Melangkah Pantang Menyerah, Sekali Tampil Harus Berhasil”, nampak mencitrakan kekecaman dan menghalalkan segala cara, dalam rangka tugas pokoknya. Motto tersebut memberikan satu persfektif bahwa Brimob masih sangat dipengaruhi oleh jargon dan slogal berbau militeristik, sehingga dicap sebagai pelanggeng budaya militer di internal Polri. Apalagi secara garis besar, prilaku anggota Brimob mencitrakan perbedaan antara kesatuan tersebut dengan kesatuan lain di internal Polri.
Dan menjelang kejatuhan Orde Baru, Brimob juga menjadi sasaran kecaman masyarakat karena praktik kekerasan yang dilakukan Brimob Polri. Upaya menggeser gerbong Brimob agar lebih condong ke sisi sipil terus dilakukan, dengan melakukan internalisasi nilai-nilai polisi sipil dalam kurikulum dan operasional di lapangan. Dan usaha tersebut belum membuahkan hasil yang maksimal, perubahan yang dibangun dengan mengikuti arus reformasi tidak serta merta mengubah paradigma Brimob secara esensial, karena perubahan yang terjadi lebih banyak parsial, dan lipservice saja. Karena hingga kejatuhan Soeharto, Brimob masih mewartakan diri sebagai polisi paramiliter yang memiliki kekhasan dan warna militeristik yang kental.
III. Brimob dan Democratic Policing
Perubahan yang signifikan pada posisi dan peran Polri seiring dengan era reformasi, yang mana ditandai dengan keputusan politik memisahkan Polri dari institusi dan garis komando TNI pada 1 April 1999 dengan adanya Inpres No. 2 Tahun 1999 . Karena mendapatkan dukungan publik yang luas, maka keputusan tersebut ditetapkan dalam Tap MPR/VI/2000 tentang pemisahan ABRI (TNI dan Polri) serta Tap MPR/VII/2000 tentang peran kedua lembaga tersebut dengan menempatkan TNI di bawah Departemen Pertahanan, khusus Polri berada langsung di bawah Presiden. Tindak lanjut dari keluarnya kedua Tap MPR tersebut adalah dikeluarkannya UU No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia dan UU No. 3 Tahun 2002 Tentang Pertahanan Negara, yang berkaitan juga dengan peran dan posisi TNI dalam peran perbantuannya pada Polri.
Dalam persfektif yang lebih umum, Polisi masih dikelompokkan ke dalam militer, sehingga yang disebut orang sipil adalah mereka yang bukan militer dan juga bukan polisi. Polisi masih dikategorikan militer karena sama dengan militer, masih memikul citra ”having force and power”. Maka menjadi polisi sipil adalah mendekonstruksi pekerjaan polisi menjadi suatu kekuatan publik yang sejauh mungkin mengambil jarak dari ”suatu force yang berbasis power”.
Polisi Sipil selain sebagai paradigma juga merupakan tujuan dari reformasi itu sendiri. Oleh karena itu, pada dasarnya perubahan-perubahan yang dilaksanakan tidak dapat dilaksanakan secara parsial tetapi secara simultan, sehingga akan menghasilkan sinergi yang menjadi percepatan dalam mencapai tujuan yaitu terwujudnya Polisi Sipil. Beberapa parameter yang menjadi indikator Polisi Sipil, yakni : Profesional dan proposional, demokrasi, menjunjung tinggi HAM, Transparansi, akuntabilitas, supremasi hukum, dan sikap protagonis. Oleh karenannya perubahan struktural harus diikuti dengan perubahan instrumental dan kultural.
Mengembalikan peran dan posisi Polri sebagai institusi yang terfokus pada keamanan dalam negeri dipertegas dalam UU No. 2 Tahun 2002, Pasal 2, Pasal 4, dan Pasal 5. Pada Pasal 2 dijelaskan megenai fungsi kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Sementara pada Pasal 4 ditegaskan tujuan dari Polri, yakni mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, serta terbinanya ketentraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM). Sedangkan pada Pasal 5 ditegaskan kembali peran dari Polri yang merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri dalam kultur polisi sipil.
Turunan dari pasal-pasal tersebut di atas, Brimob menjabarkan tugas pokok dan fungsinya sebagai berikut:
“Tugas Pokok Brimob Polri adalah melaksanakan dan menggerakkan kekuatan Brimob Polri guna menanggulangi gangguan Kamtibmas berkadar tinggi, utamanya kerusuhan massa, kejahatan terorganisir bersenjata api, bom, bahan kimia, biologi dan radioaktif bersama unsur pelaksana operasional kepolisian lainnya mewujudkan tertib hukum serta ketentraman masyarakat di seluruh wilayah yuridiksi Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tugas-tugas lain yang dibebankan kepadanya”
“Fungsi Brimob Polri adalah sebagai satuan pamungkas Polri yang memiliki kemampuan spesifik penanggulangan keamanan dalam negeri (Kamdagri) yang berkadar tinggi dan penyelamatan masyarakat yang didukung oleh personil terlatih dan memiliki kepemimpinan yang solid, peralatan, perlengkapan dengan teknologi modern”
”Peran Brimob Polri adalah melakukan manuver, baik secara individual atau dalam kelompok dengan daya gerak, daya tembak, dan daya sergap untuk membatasi ruang gerak, melumpuhkan, menangkap para pelaku kejahatan beserta saksi dan barang bukti dengan cara: membantu, melengkapi, melindungi, memperkuat, dan menggantikan”
Sedangkan yang perlu diketahui juga tentang kemampuan dari Brimob Polri, yang terbagi menjadi dua kemampuan, yakni:
1. Strata Kemampuan:
a. Strata Kemampuan Brimob: Kemampuan Dasar Kepolisian, PHH, Resmob, Jibom, Wanteror, dan SAR
b. Strata Kemampuan Pelopor: Kemampuan Brimob Dasar plus kemampuan lawan gerilya/lawan insurjensi
c. Strata Kemampuan Gegana: kemampuan pelopor plus operator Jibom, intelijen, dan kemampuan kimia, biologi, dan radio aktif
d. Strata Kemampuan Instruktur: kemampuan gegana plus pengajaran dan latihan, pengkajian dan pengembangan
2. Kemampuan Brimob Polri:
a. Kemampuan Dasar Kepolisian
b. Penanggulangan Huru-Hara (PHH)
c. Reserse Mobil (Resmob)
d. Jihandak/Jibom (penjinakan bahan peledak/penjinakan bom)
e. Perlawanan Teror (Wanteror)
f. Search and Rescue (SAR)
Jadi sesungguhnya sudah sangat jelas bahwa Brimob Polri mencoba mempertegas jati dirinya sebagai bagian integral dari Polri sebagai bagian untuk mendorong terciptanya tata pemerintahan yang baik (good governance). Oleh sebab itu, peningkatan kualitas kinerja kepolisian mutlak harus dilakukan secara terus menerus, berkelanjutan, dan harus dilaksanakan secara sungguh-sungguh oleh seluruh jajaran anggota Polri. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) sebagai pucuk pimpinan tertinggi organisasi Polri, telah melakukan terobosan untuk menjawab tuntutan reformasi, khususnya dalam reformasi perwujudan kultur poisi sipil dengan mengeluarkan Surat Keputusan Kapolri No. Pol : Skep/1320/VIII/1998, tanggal 31 Agustus 1998 mengenai Buku Petunjuk Lapangan tentang Peningkatan Pelayanan Polri dalam Era Reformasi. Brimob Polri pun meresponnya dengan mengeluarkan Buku Pedoman Pelaksanaan Opersional dan Pembinaan Brimob Polri sebagai tindak lanjut membangun dan mengembangkan satu kultur organisasi yang seirama dengan satuan-satuan lain di lingkungan Polri.
Sementara yang berkaitan langsung dengan Brimob terbit Surat Keputusan Kapolri, No. Pol: Kep 53/X/2002 tertanggal 17 Oktober 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Korps Brimob, maka sejak itu struktur organisasi Brimob mengalami perubahan lagi, di mana kepangkatan Komandan Korps Brimob menjadi bintang dua (Inspektur Jenderal), dan Irjen Pol. Drs. Yusuf Mangga Barani menjabat sebagai Kakorbrimob. Konsekuensinya juga ada perubahan struktur organisasi Brimob di daerah, dengan menghapus Kasi Intel pada satuan Brimob, dan menambahkan Subden Gegana di seluruh satuan Brimob, yang juga mengacu kepada Keputusan kapolri No Pol.: Kep/54/X/2002 tentang OTK Satuan-satuan Organisasi Kepolisian Daerah (Polda). Secara harfiah, perubahan ini mensiratkan langkah dan penataan Brimob untuk lebih terintegral dengan Polri. bahkan sebelum SK Kapolri No. 54 tersebut keluar, didahului keluarnya Surat Keputusan Kapolri No Pol: Skep/27/IX/2002 tentang Reformasi Brimob Polri, yang meliputi:
a. Aspek Struktural
1) Kekuatan Brimob Polri tidak terpusat (sentralisasi), tetapi lebih di arahkan kepada kewilayahan (desentralisasi pada tingkat Polda)
2) Struktur organisasi tidak harus sama dengan struktur organisasi militer
b. Aspek Instrumental
1) Penyempurnaan piranti lunak yang berlaku di Brimob Polri mengarah dan mengacu kepada paradigma baru Polri, UU Polri, dan tuntutan masyarakat.
2) Pengkajian secara terus menerus terhadap sistem dan metode oleh lingkungan Brimob Polri, guna mewujudkan anggota Brimob Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayanan masyarakat serta penegak hukum yang profesional.
c. Aspek Kultural
1) Adanya perubahan yang signifikan dari perilaku anggota Brimob Polri yang militeristik menjadi anggota Brimob Polri yang berstatus sipil.
2) Menghindari dan menghilangkan sifat kebanggan korps yang berlebihan dan arogan pada setiap perilaku anggota Brimob Polri dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat maupun saat melaksanakan tugas.
3) Mengimplementasikan penggunaan program yang komprehensif dan tepat dalam rangka memupuk loyalitas setiap personil Brimob Polri kepada misi organisasi, bukan pada pribadi atau pimpinan.
Namun kenyataannya kultur polisi sipil belum bergeser jauh antara sebelum reformasi Polri dan setelah reformasi Polri. bahkan di satuan Brimob, perubahan tersebut belum nampak terlihat, hal ini dapat dilihat dengan kasat mata, di mana Brimob lebih menampakkan kesan militeristiknya dari pada satuan-satuan lainnya. Untuk itu perlu dicarikan solusinya tentang bagaimana strategi mengoptimalisasikan peran dan fungsi Brimob dalam kultur polisi sipil dalam memelihara keamanan dalam negeri (Kamdagri) untuk mewujudkan harapan dan kepercayaan masyarakat. Ketiga aspek yang ditegaskan dalam SK Kapolri tersebut belum sepenuhnya dapat diimplementasikan dengan efektif dan baik. Bahkan dalam berbagai proses selama tahun 1998 hingga tangun 2005, Brimob Polri yang bertugas di sejumlah daerah konflik seperti Aceh, Poso, Ambon, dan Papua menorehkan tinta negatif bagi upaya untuk menata dan mereformasi satuan khusus di lingkungan Polri tersebut.
Di Aceh sepanjang kurun waktu tersebut terjadi berbagai pungli dan tindak kekerasan yang dilakukan oleh personil Brimob, selama kurun waktu 1998 hingga 2005, menyebutkan bahwa Brimob tergoda juga akhirnya melakukan berbagai aktivitas menyimpang, dari mulai pungli di pos perbatasan (check point), aktivitas ekonomi bayangan (Shadow economic), hingga pembekingan aktifitas kriminal, seperti penyelundupan, dan lain sebagainya.
Kasus yang lebih menarik adalah penyimpangan tugas yang dilakukan Brimob Polri di Poso. Dalam sebuah paper “ Keterlibatan Polisi dalam Pemeliharaan Ketidakamanan di Sulawesi Tengah “ G. J. Aditjondro menyebutkan ada sekitar dua belas jenis keterlibatan oknum-oknum Polri dan Brimob dalam bisnis kelabu ini di wilayah Poso dan sekitarnya yakni (a) pemerasan secara langsung oleh ‘oknum’ berbaju seragam; (b) perlindungan bagi prostitusi terselubung; (c) sabung ayam; (d) bisnis satpam; (e) perburuan dan penyelundupan flora dan fauna langka; (f) perdagangan hasil hutan; (g) pengangkutan barang dan penumpang dengan kendaraan dinas; (h) bisnis pengawalan; (i) pungutan di pos-pos penjagaan; (j) proteksi properti milik pengusaha dan eks-pejabat tertentu; (k) bisnis proteksi operasi perusahaan-perusahaan bermodal besar; dan (l) perdagangan ilegal senjata api dan amunisi.
Diluar penyimpangan tersebut adalah kekerasan yang dilakukan secara sistematis kepada masyarakat Poso, yang dilakukan oleh oknum Brimob Polri. Bahkan dalam penelitian awal yang dilakukan oleh penulis pada tahun 2005 lalu, ketidaksukaan masyarakat terhadap prilaku oknum Brimob Polri makin menjadi-jadi, dan hal tersebut terbukti saat beberapa kompi personil Brimob Polri sempat bentrok ketika ingin menangkap pelaku teror di awal tahun 2007 lalu.
Terlepas dari proses reformasi yang tengah berjalan, Brimob Polri secara harfiah belum benar-benar melakukan reformasi internalnya secara menyeluruh, baru sebatas permukaan dan parsial saja. Hal ini dapat dilihat, misalnya pada struktur yang masih mengadopsi struktur militer, meski tidak secara penuh. Namun hal tersebut secara harfiah dipahami sebagai keengganan Brimob untuk melepas atribut dan kultur militeristik yang telanjur melekat. Meski demikian upaya terus dilakukan dengan mengganti motto Brimob, yang selama ini dianggap sangat militeristik, dari ”Sekali Melangkah Pantang Menyerah, Sekali Tampil Harus Berhasil” menjadi ”Jiwa Ragaku Demi Kemanusiaan”, filosofi dari motto tersebut sebenarnya lebih beradab dan bernuansa sipil. akan tetapi, pada pelaksanaannya memang belum dapat diimplementasikan secara maksimal.
Kondisi ini menjadi catatan penting dalam evaluasi reformasi sektor keamanan, dalam hal ini Polri, yang menjadi titik lemah Polri dalam merajut kultur polisi sipil dan profesional dalam mewujudkan Keamanan Dalam Negeri (Kamdagri), sehingga perlu kembali ditegaskan tentang pentingnya mempercepat proses reformasi di internal Brimob. Langkah tersebut dilakukan dengan menerbitkan Surat Keputusan Kapolri No, Pol.: Kep/20/IX/2005 tertanggal 7 September 2005 tentang Rencana Strategis Kepolisian Negara Republik Indonesia 2005-2009, yang di dalamnya ditegaskan upaya Polri untuk memperbaiki dan mereposisi Brimob Polri sebagai satuan khusus polisi profesional dengan daya tangkal tinggi, akan tetapi berbeda fungsi dengan militer. Hal tersebut diperlukan bagi terwujudnya:
a. Kemampuan menetralisir ancaman kekerasan terhadap masyarakat
b. Memantapkan fungsi Brimob Polri dalam melawan insurgensi (separatisme) dengan cara bekerja sama dengan TNI
c. Menerapkan proses rekrutmen dan seleksi Brimob yang lebih ketat dibandingkan polisi reguler
d. Memberikan pengalaman magang dan pelatihan khusus berorientasi sipil yang berbeda sama sekali dengan militer.
Terlepas dari berbagai kebijakan yang telah dibuat dan didukung agar Brimob Polri dapat mempertegas posisi Polri sebagai polisi sipil, namun realitas yang harus di lapangan justru sebaliknya. Tujuh hal yang menjadi titik krusial dan evaluasi bagi posisi Brimob dalam menopang reformasi Polri, yakni: Pertama, Meski kekuatan Brimob Polri tidak terpusat, namun dalam melakukan mobilisasi dan pengerahan masih tetap membutuhkan komando dari Mabes Polri, atau setidaknya Kakorbrimob. Hal ini sebenarnya relatif menyulitkan ketika terjadi di lapangan, di mana Brimob yang di-BKO-kan cenderung kurang sensitif dalam pengembangan tali komandonya dibandingkan dengan chain of command yang telah dibangun di masing-masing satuan brimob Polda. Sekedar contoh dalam pengerahan personil Brimob, Kapolres Poso, kesulitan melakukan pengerahan, karena tali komando tidak berada di tangannya sebagai penguasa kesatuan Operasional Dasar (KOD), melainkan pimpinan kompi, atau kesatuannya langsung.
Kedua, meski berupaya menanggalkan struktur organisasi dan kultur militeristik, akan tetapi sepanjang delapan tahun Reformasi Polri bergulir, langkah tersebut tidak sepenuhnya berhasil. Justru hanya penamaannya saja diganti, tapi pola tali komando, serta atributnya tetap digunakan. Alhasil, secara kultur Brimob masih enggan menanggalkan baju dan kultur militernya. Contoh kasus yang paling mudah ditemukana adalah masih maraknya pendekatan kekerasan yang dilakukan oleh oknum Brimob di lapangan.
Ketiga, upaya agar Brimob terintegral dengan agenda reformasi Mabes Polri terus dilakukan, namun efek positifnya masih belum nampak. Sekedar gambaran, keluarnya Surat Keputusan Kakorbrimob Polri No. Pol: Skep/94/X/2005 tentang Buku Pedoman Pelaksanaan Penerapan Perpolisian Masyarakat bagi Personil Brimob Polri, hingga saat ini belum mampu diterapkan oleh Brimob Polri.selain masalah perwatakan yang berlawanan, juga dikarenakan karakteristik pembentukan Brimob yang disiapkan menjadi personil pemukul.
Keempat, penyempurnaan struktur dan berbagai bentuk pembinaan yang dilakukan masih dirasakan belum maksimal. Keluarnya Surak Keputusan Kepala Korps Brimob Polri No. Pol: Skep/115/XI/2006 tentang Buku Pedoman Pelaksanaan Operasional Brimob Polri juga masih menjadi wacana yang harus dipecahkan untuk dioperasionalisasikan. Hal ini masih nampak pada penyergapan buronan pelaku teror Poso, yang terjadi bentrok dengan masyarakat. Padahal dalam buku pedoman tersebut telah digarisbawahi tentang pentingnya mencitrakan Brimob sebagai institusi sipil yang profesional.
Kelima, perubahan internal yang dilakukan pengkajian secara terus menerus terhadap sistem dan metode oleh lingkungan Brimob Polri, belum memberikan kontribusi yang efektif, karena terjadi kegamangan di internal Brimob Polri sendiri, apakah mengikuti arus perubahan dengan mengarahkan perubahan sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat, atau tetap bertahan dengan menjaga tradisi yang telah dibangun lebih dari 60 tahun lalu.
Keenam, prilaku anggota Brimob di lapangan masih belum mencitrakan polisi sipil yang diharapkan oleh masyarakat. Watak militeristik masih nampak dalam proses menjalankan fungsinya. Pendekatan kekerasan masih dipraktikkan dalam berbagai permasalahan yang melibatkan Brimob, seperti di daerah konflik, dan kerusuhan massa.
Ketujuh, ekslusivitas personil Brimob di antara satuan Polri yang lainnya. Bahkan dalam upaya penegakan hukum di ilayah konflik ataupun ancaman keamanan dengan intensitas tinggi, seperti pada bentrok massa dan petugas Polri dan Brimob di unjuk rasa pembebasan lahan untuk pembangunan lapangan terbang di Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu.
Kedelapan, Upaya pengembangan keterampilan dan keahlian personil Brimob masih sebatas pada keahlian profesional, belum keahlian pada penekanan untuk membangun interpersonal, sebagai salah satu prasyarat dari polisi sipil, dan kepolisian demokratik. Keahlian ini, meski telah didapat dalam keterampilan kepolisian dasar, namun ketika terintegral dalam kesatuan Brimob, keterampilan tersebut menyurut, dan berganti menjadi keterampilan dalam penegakan hukum pendekatan preventif dan represif.
Kesembilan, rekruitmen personil Brimob Polri masih bersandar pada pola lama, yakni perekrutan dari jalur Akpol, bukan semata-mata karena minat, tapi penunjukkan atasan. Sementara di jalur non perwira, perekrutan terbatas pada penjaringan yang telah ada. Hasilnya memang tidak terukur, sehingga ketika yang muncul adalah semangat paramiliter, maka tidak bisa dipungkiri, hal tersebut merupakan bagian dari pola lama yang termanifes.
Dari sembilan permasalahan tersebut, maka langkah dan upaya untuk menegaskan proses reformasi Brimob menjadi bagian yang tidak bisa ditunda lagi. Hal ini disebabkan karena posisi Brimob Polri yang sangat strategis dalam keluarga besar Polri. Sebab cepat atau lambat, Brimob Polri akan mengikuti arus, atau melawan arus dari perubahan tersebut. Dengan melawan arus, maka sejatinya Brimob tengah menggali kuburan bagi Polri, serta Polri sebagai organisasi induk Brimob akan terus mendapatkan kritik dan hujatan dari masyarakat, yang belum puas dengan performa Polri, selepas berpisah dari TNI delapan tahun lalu.
Ada tujuh agenda yang harus menjadi prioritas bagi Brimob untuk menuntaskan agenda reformasi internal; mewujudkan Brimob Polri, sebagai polisi sipil yang profesional, yakni: Pertama, Melakukan penataan rekrutmen dan seleksi terhadap calon personil Brimob dengan baik. Ada dua model seleksi yang harus diterapkan secara serius; seleksi melalui jalur Akpol, dan seleksi bagi bintara dan tantama. Bila selama ini seleksi melalui jalur Akpol, setelah lulus dari Akpol maka para perwira pertama tersebut kemudian diplot ke Polda-polda yang ada. Dan dengan otoritas Kapolda dan atasannya si perwira muda ini kemudian mengambil kejuruan, ke pendidikan dan latihan Brimob Polri. Maka akan lebih baik, apabila keputusan untuk diplot ke Brimob Polri, didasari juga karena hasil analisis psikologi, minat dan bakat, serta kemampuan dasar, yang semuanya harus terukur. Sedangkan jalur bintara dan tantama, meski sudah benar, tapi upaya membaurkan dengan calon personil Polri lainnya harus terus diwacanakan dan kemudian direalisasikan.
Kedua, perbaikan struktur organisasi Brimob yang tetap bersandar pada profesionalisme, dan kekhasan. Meski status Brimob sudah langsung di bawah Polri, bukan berarti Brimob telah tuntas dalam melaksanakan penataan internal. Justru Brimob menjadi satu bagian yang disorot, sebagai akibat dari belum banyak berubahnya kultur di Brimob. Perbaikan organisasi ini harus juga diupayakan untuk tetap berpatokan pada kepolisian demokratik.
Ketiga, Melakukan berbagai pelatihan bagi personil Brimob, yang terkait dengan perpolisian masyarakat, kehumasan, teknik negoisasi, komunikasi sosial, psikologi sosial, di luar kemampuan utamanya. Langkah ini guna mengimbangi kultur militeristik yang telanjur mengakar. Dengan pelatihan-pelatihan tersebut, diharapkan akan terbangun satu paradigma baru tentang kultur polisi sipil.
Keempat, melakukan sosialisasi secara efektif berbagai perangkat lunak, baik perundang-undangan maupun Surat Keputusan (SK) agar terjadi transformasi pemahaman di antara personil Brimob Polri. Langkah ini sebenarnya yang paling mungkin dilakukan di tengah keterbatasan anggaran Polri. Akan tetapi kembali ke soal kemauan. Berbagai undang-undang ataupun peraturan sekelas Surat Keputusanpun jika tingkat sosialisasinya rendah, maka hanya akan memperburuk keadaan.
Kelima, membangun kultur polisi sipil. Pembangunan kultur ini dapat dilakukan dengan melakukan interaksi dengan kesatuan lain di lingkungan Polri, agar terjadi trasnfer pemahaman dan budaya. Hal ini juga diharapkan mampu mencairkan kebuntuan komunikasi antara personil Brimob dengan satuan lain.
Keenam, menginternalisasi nilai-nilai democratic policing, yang terintegral dalam berbagai aktivitas Brimob yang harus merujuk kepada nilai-nilai demokrasi, menjunjung tinggi HAM, menegakkan supremasi hukum, dan lain sebagainya.
Ketujuh, mengembangkan pendekatan pre emtif dan preventif, selain pendekatan penegakkan hukum dan reprrsif. Hal ini perlu dipertegas karena dalam banyak kasus, Brimob juga tidak hanya melakukan penegakkan hukum dan represif, tapi juga pencegahan dan rehabilitasi terhadap lokasi atau wilayah pasca konflik.
Penutup
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Reformasi Brimob Polri masih belum mampu menopang lokomotif besar Polri, karena proses internalisasi polisi sipil dan democratic policing belum tuntas. Hal ini disadari karena proses terbentuknya Brimob Polri tidak terlepas dari tujuan awalnya, yakni sebagai pasukan paramiliter di tubuh kepolisian, yang mengacu kepada pasukan polisi para militer di era Jepang dan Belanda. Artinya, butuh suatu proses yang lebih lama untuk dapat menempatkan Brimob dalam lokomotif polisi sipil yang tengah diusung oleh Polri. kondisi ini memang kurang menguntungkan bagi Polri dan Brimob secara organisasi. Hanya saja perlu suatu penekanan bahwa salah satu konsekuensi logis dari pemisahan Polri dari TNI adalah membangun paradigma baru yang sama sekali berbeda dan jauh dari watak dan kultur militeristik di Polri, dengan membenamkan kaki Polri pada kultur polisi sipil dan democratic policing. Cepat atau lambat Brimob harus mampu mengembangkan suatu paradigma berpikir, serta operasionalisasi di lapanga, yang mencerminkan suatu perwatakan dari democratic policing dan polisi sipil. sebab, apabila Brimob tetap bertahan dengan kultur lama dan enggan melakukan perubahan, maka cepat atau lambat Brimob akan menjadi bagian dari musuh masyarakat, yang menginginkan agar Polri, dan Brimob yang ada di dalamnya benar-benar mencerminkan perwatakan polisi sipil dan democratic policing, di mana kontrol aktif masyarakat dapat dilakukan. Dan tuntutan agar Brimob dibubarkan yang berkembang dimasyarakat seharusnya menjadi refleksi bagi Brimob untuk secara bersungguh-sungguh melakukan perubahan dan penyesuaian dengan agenda reformasi Polri. Karena kita masih ingin melihat dan memiliki satuan khusus di Polri yang dapat menjadi kebanggan masyarakat, dengan tetap berada di koridor democratic policing.
DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, Budi. 2006. Membangun Kompetensi Polri. Yakarta YPKIK.
Korps Brimob. 1992. Pembinaan Korps Brimob. Jakarta: Brimob Polri
——–,2003. Pendayagunaan Satuan Brimob Polri dalam Rangka
Operasi Kepolisian Khususnya di Daerah Rawan GPK.
Juklak/OIR/III/2003
——–, 2005. Upaya Peningkatan Pelayanan Publik Sesuai Dengan Standar
Pelayanan Korps Brimob POlri
Meliala, Adrianus. 2002. Problema Reformasi Polri. Jakarta: Trio Repro
Mabes Polri. Pendayagunaan Brimob. Petunjuk Pelaksana Kapolri No:
Juklak/08/V/1994
——–, Himpunan Petunjuk Lapangan Polri bagi Satuan Brimob
Mabes Polri. 1983. Keputusan Kapolri No. Pol. Kep/552/XI/1983. Tentang
Likuidasi Satuan Brimob dan Redislokasi Kompi-kompi BS Brimob
Miswan. 1998. Pasukan Khusus dan Perang Gerilya. Pusdik Brimob
Watukosek
Mabes Polri. 2002Kep Kapolri No. Pol: Kep/27/IX/2002 Tanggal 20 September
2002 tentang Reformasi Brimob Polri
Rahardjo, Satjipto. 2002. Polisi Sipil Dalam Perubahan Social di Indonesia.
Jakarta: Kompas.
Suparno, Atim. 1998. Pelopor. Pusdik Brimob Watukosek

124 comments
Comments feed for this article
November 21, 2007 at 1:53 pm
joko p
pengetahuan penulis ttg brimob dan permasalahannya luar biasa, daftar pustakanya jg lengkap.salut.kalo boleh sy ingin berkenalan dg penulisnya.
December 27, 2007 at 8:24 pm
H.R. Arifianto
Alhamdulillah… Saya dapat pengetahuan banyak tentang kultur dilingkungan Polri, khususnya pada tubuh Brimob.
Semoga banyak yang dapat dilakukan menuju yang lebih baik…
Bro BRIMOB POLRI.
January 6, 2008 at 7:59 am
muradi
Buat Joko: Terima kasih komentarnya, saya masih banyak belajar pak. mungkin dari anda yah. bisa kita diskusi lewat jalur virtual atau juga via bisa ketemu. alamat lengkap saya ada di blog ini, terserah anda punya waktu kapan
Buat Arif: Terima kasih, yang kita mau adalah polisi yang profesional, dengan ditopang oleh satuan yang profesional juga, termasuk di dalamnya adalah Brimob. kita berharap polri dan brimob lekas menjadi satuan profesional, dalam ruang lingkup demokratik.
January 12, 2008 at 9:46 am
Rudi
Kepada Penulis,
Ulasan anda sanga bagus tetapi anda hanya meributkan kultur brimob yang militeristik sedang anda tahu bahwa brimob sebagai special force dari polri memang harus dilatih dan diorganisir seperti militer untuk menghadapi ancaman dari dalam seperti diaceh, ambon, poso dan irian yang mana tidak bisa diatasi oleh polisi biasa.
saya rasa anda agaknya merupakan kaki tangan militer yang masih tidak rela dengan pisahnya polri dari TNI dan tugas2 mereka diambil sama polri karena darisana mereka bisa merekayasa kejahatan disuatu wilayah untuk membobol uang negara untuk kegiatan dengan alasan pengamanan. sudah menjadi rahasia umum segala kegiatan ilegal dinegara ini dilakukan oleh sekelompok tentara untuk mencipkan kondisi keadaan bahaya agar regim militer bisa langgeng.
seperti anda ketahui bahwa militer indonesia telah gagal total dalam melakukan operasi ditimtim, aceh sampai timtim lepas dan aceh damai. apalagi melihat kondisi negara yang serba amburadul dengan kasus2 terorisme, ketidak pastian ekonomi dan hukum yang bisa membuat sekelompok orang untuk memberontak, maka dibuthkan pasukan polri yang kuat karena militer telah gagal total.
dan sudah saatnya Brimob lebih dikembangkan lagi dengan berdirinya resimen – resimen baru didaerah dibawah kendali langsung mabes polri dalam hal ini KOrps Brimob untuk membantu Brimobda. ini mengingat luas negara kita dan jumlah penduduk yang besar.
saya harap pimpinan polri bisa melakukan ini dengan membentuk kembali satuan RECON yang pernah ada dan satuan pelopor didaerah bisa dilikuidasi dan hanya ada dipusat ini untuk menjaga kualitas dari pasukan tersebut dan bila perlu dibuat menjadi lima resimen pelopor dipusat ditambah sepuluh resimen RECON didaerah. dan bila perlu dikasih seragam loreng kembali untuk penampilan satuan dan penyamaran didalam melakukan operasi hutan. suatu kekonyolan Brimob melakukan operasi dihutan aceh menggunakan seragam coklat, ini diakibatkan karena adanya Militerphobia dikalangan pimpinan polri terutama DANKOR Brimob yang pengecut seperti sekarang. BRAVO BRIMOB,SEMOGA BRIMOB TETAP JAYA SEPANJANG MASA.
January 21, 2008 at 12:17 pm
Muradi clark
Buat Rudi: Wah itu tuduhan subyektif. ini murni akademis, kalo anda tidak setuju dengan tulisan ini, silakan buat tulisan penyeimbang, jangan menuduh saya kaki tangan tentara. lagian bukan saatnya membangun pertentangan antara TNI maupun Polri, sebab keduanya merupakan alat negara yang komprehensif,TNI untukpertahanan, Polri untuk keamanan. anda harusnya bisa melihat dalam penataan kelembagaan, jangan melihat dalam kaca mata yang sempit. tulisan ini sudah dipublikasikan kok di buku “Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2007″ Terbitan Lesperssi dan DCAF.
hal yang penting juga anda harusnya melihat kedalam juga. bahwa reformasi di internal Polri juga relatif belum begitu jalan dengan baik,mungkin salah satunya karena diinternal Polri masih phobia dengan ajakan perubahan yang datang dari eksternal Polri. sehingga, akademisi macam sayapun anda tuduh sebagai kaki tangan tentara. wah,bung kalo suara anda mewakili 28 Ribu anggota Brimob dan 400 ribu anggota Polri. maka nanti adalah sebuah keniscayaan apabila bukan saya lagi yang akan meminta Polri mereformasi diri, tapi masyarakat luas, sebagaimana yang masyarakat lakukan kepada TNI.
saya membuka ruang untuk diskusi dengan anda, kapan saja. silakan kirim imel atau kontak saya (imel dan nomor telepon saya ada di blog ini. terima kasih, saya tunggu kabarnya.
salam,
muradi
February 11, 2008 at 1:48 am
bazz
saya setuju polri masih sangat-sangat militeristik, terutama karena korps brimob ini. saya kira brimob bisa kita sebut sebagai infantry, dan saya pikir hal ini terlalu berlebihan bagi polisi. apalagi jika pakai loreng, walah-walah.
dulu sewaktu masih dalam ABRI saya kira masih relevanlah keberadaannya, karena polisi dianggap angkataan bersenjata. tetapi dengan perubahan paradigma kesipilan sekarang ini seharusnya polisi juga legowo untuk berubah.
February 21, 2008 at 1:34 am
slams
apa yang anda tulis secar historis benar, namun dari segi analisa penulis tentang keberadaan brimob dalam tubuh polri yang masih kental dg budaya militernya tidak semuanya benar apa yang menjadi pemikiran penulis. kalo kita mau melihat situasi bangsa saat ini yang masih carut marut keamanannya . contoh munculnya jaringan teroris di indonesia yg semakin meresahkan masyarakat kita, apakah sesuai bila penangannya oleh satuan polisi yang tidak mempunyai kemampuan khusus. sementara salah satu kemampuan khusus tersebut hanya dimiliki oleh satuan brimob terkait dg tugas pokoknya yaitu sebagai satuan kekuatan back up polri dan bantuan taktis dalam pertahanan. dan ini diatur oleh UU.
kemampuan tersebut salah satunya adalah lawan insurjensi dan lawan teror. yang saya tahu pasukan khusus polisi di negara manapun mereka mempunyai kemampuan2 yang dimiliki oleh militer . misal SWAT mereka pendidikan dasarnya di gembleng di green baret bahkan mereka juga dilengkapi oleh panser dalam melakukan penindakan terhadap kejahatan yg intensitasnya tinggi…..jadi sebelum nulis pikir panjang dong…jangan asal nulis tapi gak tau konsepnya itu benar apa gak.
February 21, 2008 at 12:12 pm
muradi
Buat Bass: terima kasih masukannya.
Buat Slams: terima kasih masukan dan kritikannya. yah apa yang anda katakan juga tidak sepenuhnya benar. sebab, inti dari tulisan ini adalah mengajak Brimob agar bisa integral dengan satuan lain. bukan sama sekali berbeda. artinya keterampilan yang dimiliki bukan diredusir. hanya saja bagaimana secara kultur ada proses pensipilan, karena biar bagaimanapun pola pendekatan akan mengandung konsekuensi terhadap pembangunan kelembagaan Polri. soal Swat? anda juga tidak sepenuhnya benar, SWAT emang dilatih secara militer, tapi kultur organisasinya merupakan bagian dari kultur polisi modern. anda juga lupa bahwa keberadaan Police Paramiliter Unit (PPU)dibelahan dunia manapun harus jelas kelaminnya, mau benar2 militer, seperti carabieneri di Italia, yang komandannya bintang dua angkatan darat, di bawah kontrol departemen pertahanan dan dicangkokkan fungsinya ke dept. dalam negeri,yang membawahi kepolisian italia dengan tugas2 yang mirip Brimob plus penjaga perbatasan dan coast guar, atau mau dibawah kepolisian dengan konsekuensi mengadopsi kultur polisi modern, seperti SWAT, pilih mana? silakan anda buat tulisan penyeimbang untuk mengkaunter tulisan saya ini, jangan mengkritik tanpa makna. saya tunggu tulisan anda yah.
btw, kalo kasih komentar yah tulis nama atuh jangan bersembunyi dibalik nama yang nggak jelas. biar mudah korespondensinya. be gentle lah!!!
salam
May 4, 2008 at 9:39 am
sinyo_xx
Brimob ya Brimob Mas…., Brimob Bukan juga tentara, ya BRIMOB aja,jadi gak perlu ada anekdot ” POLISI bukan tentara belum ” , BRIMOB lebih suka jadi BRIMOB Bukan jadi tentara, kalo di Poso dibenci….tentunya bukan orang 2 yang baik dong yang membenci…kalo orang baik pasti lope sama BRIMOB, karena BRIMOB fight Crime,tulisan anda memang berdasar, tapi tuduhan yg anda masukkan tak berdasar…hanya mengambil tulisan miring seseorang…tanpa fakta dilapangan.
May 4, 2008 at 11:41 am
muradi
Buat Sinyo: terima kasih kritik dan masukannya, sebagai akademisi, tentu saya tidak asal tulis atau kutip dari data yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, idiom tersebut berkembang di masyarakat, dan menjadi satu penegas bahwa perlu kejelasan status brimob. dan saya sejak awal setuju agar brimob berada di Polri, makanya karakteristik dan kulturnya harus seirama dengan Polri juga, jangan beranomali. Soal kelakukan miring brimob di Poso, sayang melakukan research juga terkait hal tersebut di Poso selama 2 minggu,jadi dasarnya juga fakta di lapangan, tidak asal cuap dan kutip. saya mau kok mendiskusikan keraguan dan keberatan anda.
saya tunggu kabarnya yah.
anyway, salam kenal
muradi
May 18, 2008 at 2:50 am
Firman
Bang, kapan saya bisa dapet buku2 tentang kepolisian sipil.lagi ngerjain bab satu niy.Tks
May 18, 2008 at 4:16 am
muradi
buat Firman: terserah kapan, mungkin juni aja yah,biar aku sedikit tenang. masih ada ujian nih.
thank you,
May 30, 2008 at 9:23 am
sinyo_xx
A. Jadi hasil research selama 2 minggu sudah bisa dikatakan mewakili lamanya kiprah BRIMOB di Poso ato kiprah BRIMOB di RI ? dan sudah bisa untuk membuat diri anda tidak asal cuap dalam tulisan anda ?
B. kapan dan dimana anda melakukan research ?
C. Dengan cara bagaimana anda melakukan research ?
D. Bersama siapa anda melakukan Research ?
E. Siapa nama Rt. tempat anda melakukan Research / tempat anda melaporkan diri ?
F. Siapa nama Rw. tempat anda melakukan Research ?
G. Siapa nama kepala Desa ato Lurah tempat anda melakukan Research ?
H. Siapa nama Camat tempat anda melakukan Research ?
I. Siapa nama Bupati tempat anda melakukan Research ?
sementara ini dulu deh, semoga bisa menjawab keraguan diri saya dalam anda melakukan Research ?
dan semoga jawaban yang anda buat adalah berisi kebenaran demi kemajuan Bangsa Indonesia dimasa yang akan datang….Aminn
May 30, 2008 at 3:31 pm
muradi
Buat Sinyo: Wah kok, jadi meragukan kredibilitas saya dan tulisan ini. ini sudah sangat personal. dan saya tidak perlu menjelaskan apa yang anda tanyakan, karena itu merupakan hak intelektual saya. anda perlu tahu kalo penelitian tidak ditentukan berapa lama saya melakukan penelitian untuk mendapat jawaban dari pertanyaan penelitian saya. artinya saya tidak akan lagi melayani pertanyaan-pertanyaan yang datang dari sikap apriori dan mengandung tendensi negatif.
saran saya, kalo anda tidak setuju dan ragu-ragu dengan tulisan ini silakan buat tulisan yang mengkaunter isi tulisan ini. atau anda bisa undang saya diskusi untuk menguji keragu-raguan yang ada dibenak anda. saya terbuka untuk itu, bukan dengan menanyakan tekhnik penelitian saya seperti tulisan anda di atas, itu secara akademik tidak etis, dan saya pun berhak untuk tidak memberikan jawaban2 yang anda minta.
saya sangat senang, kalo ada karya akademik yang dapat menyeimbangkan isi dari tulisan ini, dan semoga saja itu dari anda.
salam
May 31, 2008 at 6:15 am
sinyo_xx
Kalo memang anda melakukan Research…apa susahnya anda membuka Fail anda….? kalo memang anda research sih….kl research bohongan ya gak usah dijawab pertanyaan saya( para pembaca bisa mengartikan sendri ).==============================================
rasanya anda terlalu berlindung dibalik Kredibilitas anda dan hak intelektual anda tentang tuduhan anda sikap apriori & tendensi negatif yang menurut anda tidak etis.===============================
tulisan anda tentang reformasi BRIMOB POLRI, bagi BRIMOB tulisan anda juga terlalu PERSONAL.
……………sadarlah MURADI………..
May 31, 2008 at 12:31 pm
muradi
June 5, 2008 at 7:10 am
lucky
mas, aku boleh tahu tentang isi janji / sumpah dari anggota BRIMOB gak?
aku perlu banget niy…ada yang bisa bantu?? secepatnya ya, thx
June 21, 2008 at 11:12 am
Bloodyz
Saya salut dengan pengetahuan Anda tentang BRIMOB,tetapi ada beberapa poin yang saya tidak sependapat.Kalau kulturnya boleh saja sipil tapi polisi ya tetap polisi,sipil ya sipil,militer ya militer….Kalau Bimob ya tetap polisi plus!Eksistensi Brimob saat ini sangat dibutuhkan oleh negara Brimob itu aset bangsa kalau sampai dibubarkan …..yang bego siapa???Brimob itu unik,dengan tugas-tugasnya yang unik pula.tentara walaupun profesional sekalipun belum tentu bisa menyelesaikan tugas-tugas polisi dengan baik begitu pula sebaliknya…lha kalau BRIMOB polisi yang punya kemampuan pasukan/tentara,sangat-sangat relevan untuk menghadapi penjahat-penjahat yang terlatih dan terorganisir yang akhir-akhir ini sangat meresahkan masyarakat. Polri setelah pisah dengan Abri,langsung dibawah Presiden lha ini yang betul dan memang sudah betul jadi tak perlu di perdebatkan lagi.Kalau memang Brimob dimasa lalu kesannya Arogan saya lebih setuju untuk sebutannya aja yang di robah yaitu balik lagi ke sebutan POLISI ISTIMEWA Karena tugasnya memang unik dan Istimewa, orang-orangnya atau anggota2nya harus dipilih yang the best of the best,tak perlu ramai dan saya rasa yang sekarang dari segi jumlah sudah ideal,tinggal ditingkatkan lagi kemampuannya konsekwensinya perhatian terhadapnya pun harus lebih Istimewa dibanding polisi biasa,even tentara.Dalam hal tugas mereka harus ditempatkan pada bagian akhir dari prosedur/Pamungkas,bukan keseluruhan prosedur yang selama ini terjadi.contoh; Kalau menangani massa,mereka turun kalau situasi benar-benar sudah tidak terkendali oleh polisi.yang selama ini terjadi mahasiswa baru ijin ke polri untuk demo,Brimob sudah diturunkan siap dengan tameng dan tongkat,saling menunggu siapa yang mulai,rusuh,setelah itu saling menyalahkan….budaya ini yang harus dirubah.Kalau Mereka/BRIMOB sebagai Pamungkas diturunkan setelah situasi benar-benar tidak terkendali (ada Kriterianya tertentu),Ibarat orangtua dalam mendidik anaknya sudah tidak bisa lagi dengan omongan/nasehat(negosiasi gagal total) jalan terakhir dengan Kekerasan dan KUHAP kita mengaturnya kok.Kita bisa melihat video2 polisi luar negeri seperti SWAT ketika diturunkan ke lapangan adalah prosedur terakhir jadi mereka langsung menindak/tembak ditempat, mematikan dan setelah itu tidak ada ribut tentang HAM,karena mereka adalah bagian akhir dari prosedur (prosedur sebelumnya sudah gagal total) bertindak atas nama dan demi kewibawaan HAM itu sendiri.
June 21, 2008 at 11:35 am
Bloodyz
untuk mas lucky,
doeloe waktu Polri masih gabung TNI di ABRI Brimob “nebeng” Sapta Marga dan Sumpah Prajuritnya ABRI,setelah misah karena BRIMOB itu POLRI,mereka tunduk pada TRI BRATA dan CATUR PRASETYA.Dalam melaksanakan tugasnya tetap berpedoman pada Undang-Undang No.2 Tahun 2002 tentang Polri,KUHAP dan PROTAP yang berlaku.Kalau MOTTO nya ada Mas.1.Motto Pengabdian : “JIWA RAGAKU DEMI KEMANUSIAAN”.2.Motto Kelembagaan : “Sekali melangkah pantang menyerah,sekali tampil harus berhasil”.3.Motto Operasional :”Tiada Hari Tanpa Latihan”.
June 23, 2008 at 10:47 pm
muradi
Buat Bloodyz dan Lucky: terima kasih komentar dan kritikannya. tentang setuju dan tidak setuju memang berpulang pada background kita masing-masing. tapi terima kasih sudah memperkaya blog saya dengan komentar dan masukannya. buat lucky, sepertinya bloodyz telah menjawab pertanyaan anda.
anyway,
salam kenal
mrd
July 12, 2008 at 7:04 am
RAMA
SAYA BANGGA DENGAN BRIMOB TAHU NGA MAS, SEJARAH BRIMOB KE WATUKOSEK DLU LAH!!!!! KAMI INI SETIA KEPADA NKRI, APABILA POLRI DAN TNI TIDAK KOKOH SIAPA YANG PERTAHANKAN NEGARA KESATUAN KALAU BUKAN KITA APA ADA TERORIS YANG MAU?????? KALAU ADA ORANG YANG TIDAK SUKA DENGAN BRIMOB NGURUS AJA VISA KE LUAR NEGERI KNAPA RUSAK NEGARA SENDIRI SYA DI POSO MENGALAMI SENDIRI MASYARAKAT DGN AGAMA TERTENTU MENGATAKAN BRIMOB YANG JELEK” TAPI KAMI SUDAH BUKTIKAN BAHWA KAMI BISA DENGAN LAMBANG KAMI TERATAI KAMI DAPAT MENYESUAIKAN APA YANG ADA..MAKANYA TNI PUN DENGAN BRIMOB TUA MANA???? BRIMOB LAHIR DGN NAMA TOKOBETSU KEISATSU TAI APRIL 1944 COBA CARI SEJARAHNYA DLU YA MAS PERJUANGANNYA DILIHAT MAKANYA BUAT SAJA HUKUM DI NEGARA INI UNTUK HUKUM MATI TERORIS SANGAT BAGUS MAS SETUJU KAN???
July 12, 2008 at 12:57 pm
sinyo_xx
iya tua mana ya kok bisa bisanya nulis … Polisi Bukan tentara Belum …?
July 13, 2008 at 12:15 am
muradi
Buat Rama: Terima kasih sudah kasih masukan positif, setidaknya makin memperkaya blog ini. tentang kebanggaan? harus, dan yah cuma kita sendiri bukan negara lain yang bisa membanggakan korps Brimob. hanya saja kebanggaan dan cinta saya ke brimob dengan salah satunya memberi masukan, salah satunya lewat tulisan ini. agar di masa yang akan datang Brimob makin handal dan profesional menjadi garda terdepan dari polri untuk salah satunya dari ancaman terorisme.
salam kenal.
mrdc
Buat Sinyo: No Comment!!!!!!!!!!
July 14, 2008 at 10:06 pm
yoyok
Selamat Mas, memang dibutuhkan orang2 yg peduli n memiliki komitmen tinggi untuk bernegara selaras dg peran masing2. Tau ngga bhw temen2 brimob itu mmg kcian banget. Mereka memiliki standart ganda n labeling yg krg OK (tentara belom n polisi bukan) shg mengalami minoritas ganda n situasi ini ditutup dg esprit de corp yg semu n selalu digaungkan kpd mereka sbg doktrin yg membanggakan(sbg SUBSTISUSI reward kalee…) yg lebih kcian n cukup mendasar adalah berkaitan dg basic need yg njomplang dibandingkan dg rekan yg laen (liting dibag lain reserse or lantas pdh mereka secara rutin brimob-lah yg setor nyawa ke daerah operasi…).
Satu hal yg perlu Mas tahu, mereka itu sarat dg KDRT lho (bukan atas kemauan mereka tp lebih karena dampak sosiopsikologis) misal: brgk operasi istri hamil waktu pulang sudah punya anak so ada keraguan ‘anak gw bener bukan’, waktu pulang operasi mau seneng2 malah diserahi bon2 utang n kredit barang oleh istrinya, ditolak scr sosial tp di kantor dibentak2 komendan, baru mau menyesuaikan diri dg keluarga sudah berangkat lagi, etc-etc).
Tx atas kupasan tentang brimob n mhn dukungan thd upaya mereka dalam mereformasi diri.
Salam-yo2k
July 15, 2008 at 9:27 am
sinyo_xx
http://images.kompas.com/images.php?path=foto/20087/2/13357p.JPG
July 16, 2008 at 8:45 pm
muradi
Buat Yoyok: yah saya hanya berharap bahwa efek negatif yang anda ungkap tersebut berkurang dan akhirnya tidak ada sama sekali. saya cukup banyak tau juga bahwa apa yang anda jelaskan bukan isapan jempol, hanya saja kalo saya yang ungkap nanti dikatakan sangat subjektif (seperti posting komentar di awal2). dengan bahasa yang saya upayakan sangat halus sekalipun masih membuat telinga merah rekan2 baret biru. tapi saya komit kok bahwa membangun polisi yang profesional (di mana brimob ada di dalamnya) adalah bagian dari kerangka besar membangun bangsa ini ke arah yang lebih baik. bangsa yang membuat percaya diri rakyatnya saat bertemu dengan komunitas internasional, bangsa yang membuat rakyatnya bangga dengan segala kekurangan dan kelebihannya, serta bangsa yang mampu menstimulasi rakyatnya bersama institusi keamanan (di mana polri dan brimob ada di dalamnya) menjaga setiap jengkal tanah airnya dengan semangat berkobar2.
sekali lagi terima kasih atas info, komentar dan masukannya.
salam kenal,
mrd
Buat Sinyo: nice pic!!!!!!
July 17, 2008 at 4:04 am
Bloodyz
Brimob sudah mereformasi diri coy…..contoh………1 dari 1001 cara….
Kompi 1 Pelopor~Singkawang
SATBRIMOBDA KALBAR.
“MEMBANGUN KEMITRAAN BRIMOB DAN MAHASISWA”
Giat Rutin Minggu Peduli Lingkungan Hidup.
Ditengah gencarnya pemberitaan baik media cetak maupun elekronik yang seakan tiada habisnya mengulas tentang aksi Demonstrasi mahasiswa menentang kebijakan Pemerintah yang berakhir ricuh,bentrok antara Mahasiswa dengan Aparat Keamanan dalam hal ini Polri khususnya satuan Brimob,Ada yang “unik” dikota Singkawang Kalimantan Barat,antara Mahasiswa dan Brimob dikota ini.
Kompi 1 Pelopor Singkawang Satbrimobda Kalbar yang bermarkas di Jln. Sagatani~Lohabang Singkawang telah lama menjalin kemitraan dengan Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Soelthan M.Tsjafioeddin,melalui jalur BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) maupun MPLH (Mahasiswa Pencinta Lingkungan Hidup) ~STIH.Keakraban dan Kemitraan yang telah terjalin sekian lama dipertegas ketika beberapa minggu terakhir,mereka (Mahasiswa STIH dan Anggota Brimob Kompi I Pelopor Singkawang)menggelar Kegiatan rutin Peduli Lingkungan Hidup.
Bahkan Media cetak ternama di Kalimantan Barat,”Pontianak Pos” telah beberapa kali meng-expose “keunikan” tersebut.”Mereka(Mahasiswa dan Brimob),bahu membahu,terlihat akrab,bersenda gurau,bercanda dan tertawa bersama di sela kegiatan Bhakti Sosial membersihkan Parit dan Sungai di Pasar Ikan dan sekitarnya di Kota Singkawang “ (Metro Singkawang Tanggal 30 Juni 2008).
Komandan Kompi 1 Pelopor,AKP Murjatmo Edi, Sik. SH.mengatakan,”Sejalan dengan adanya kegiatan Perpolisian Masyarakat di mana anggota Brimob harus mengikuti kehendak masyarakat yang ingin dilindungi,diayomi,dan dilayani oleh Brimob Polri untuk itu,setiap kegiatan Mahasiswa yang bermanfaat bagi masyarakat umum,akan senantiasa di dukung oleh Kompi I Pelopor secara moril maupun personil”.
Berkiblat dari motto pengabdian “Jiwa Ragaku Demi Kemanusiaan”dan motto Operasional “Tiada Hari Tanpa Latihan”,Kompi 1 Pelopor ,menggalang Mahasiswa STIH,berkolaburasi dalam satu tekad”Tiada minggu tanpa giat peduli Lingkungan”.Berbagai even telah dilaksanakan bersama oleh “komunitas yang unik”ini yang mendapat antusias dan dukungan dari masyarakat bahkan dari Instansi pemerintah maupun LSM dan Yayasan di Kota Singkawang dan Sekitarnya.
Minggu 22 Juni,Bhakti sosial Penghijauan dan Penanaman Pohon di Taman Burung dan sekitarnya di Kota Singkawang sekitar 500 pohon.Minggu 29 Juni Bhakti Sosial membersihkan Parit dan Aliran sungai daerah Pasar Ikan ditengah Kota Singkawang anggota Brimob Kompi I Pelopor di bawah pimpinan Brigadir Hartoni langsung bergabung bersama MPLH~STIH yang di ketuai oleh Adil Riyanto.
Minggu 13 Juli 2008 Rombongan Brimob yang dipimpin Bripka Jemakir dan Mahasiswa STIH di sambut Camat Pemangkat Kabupaten Sambas yang selanjutnya diarahkan ke sasaran Penghijauan yang menanam sekitar 1000 Pohon di Kecamatan Pemangkat.Kegiatan di sambut antusias dan dukungan dari masyarakat Pemangkat yang langsung bergabung menyukseskan kegiatan tersebut.Dalam Sambutannya pada acara penutupan,Camat Pemangkat Sahril,S.Sos,M.Si,sangat berterima kasih kepada Anggota Brimob dan Mahasiswa STIH yang telah menggelar kegiatan dimaksud.Kedepan Beliau berharap kegiatan semacam ini akan senantiasa rutin dilaksanakan sehingga lebih mempererat tali silaturrahmi antara Brimob,Mahasiswa dan Masyarakat.
Dokumentasi.
1.Pengambilan Bibit.
2.Penanaman Pohon pertama oleh Camat Pemangkat.
3.Penanaman Pohon Oleh Brimob dan Mahasiswa STIH.
4.Foto Bersama Brimob~Mahasiswa setelah kegiatan.
Keterangan :
Naskah dan Dokumentasi :
Bripda K Lody Diaz
BAKES Kie 1 Pelopor Satbrimobda ~Kalbar.
July 17, 2008 at 4:09 am
Bloodyz
maaf.dokumentasinya tak muncul….setidaknya itu adalah 1 dari 1001 cara brimob membuktikan bahwa berbagai upaya telah dilakukan………
July 17, 2008 at 11:27 pm
muradi
Buat Bloodyz: wah terima kasih info-nya, ini jelas makin memperkaya kita semua tentang apa yang sudah dilakukan oleh Brimob Polri. informasinya jadi berimbang, silakan saling memperkaya info bahwa Brimob Polri sudah melakukan pembenahan diri dari dalam,buat yang awam jadi makin tahu dinamika internalnya. coba saja banyak literatur tentang Polri dan Brimob dari dalam, mungkin masyarakat awam seperti saya akan makin kaya pengetahuannya tentang Polri, dan brimob khususnya.
terima kasih
bravo baret biru,
salam
July 22, 2008 at 4:33 pm
sinyo_xx
memperkaya blognya pak muradi….
July 22, 2008 at 11:08 pm
muradi
Buat Sinyo: Nuhun atuh, toh juga komentarnya dibaca orang lain. yah saling memperkaya wawasan dan pengetahuan.
salam
July 25, 2008 at 12:03 am
Bloodyz
Buat Muradi,terima kasih kembali,juga dari yang punya naskah dengan pesan,biar dokumentasinya bisa muncul gimana tuh caranya??????????Thanks.!
July 25, 2008 at 12:25 am
Bloodyz
o ya…saya punya info aktual tentang seorang anggota Brimob singkawang, dua hari yang lalu dikeroyok/dianiaya beberapa orang,sekitar belasan orang yang diantaranya adalah oknum tentara dari yon 641/Beruang.penyebabnya adalah oknum tentara tersebut dan kawan-kawannya meminta daging ke RPH?pemotongan hewan untuk di konsumsi/minum2/mabuk2an.karena tidak diberi pengelola RPH,oknum dkk marah.Pengelola menelpon anggota Brimob yang kebetulan markasnya jaraknya cuma beberapa meter dari RPH,naas bagi 2 0rang anggota Brimob tersebut,negosiasi gagal,keduanya di keroyok/dianiaya oknum dan kawan2nya sekitar belasan orang.alhasil salah satu anggota Brimob harus di larikan ke rumah sakit,bahkan sampai saat ini di R.S.Vinsensius singkawang.Kasusnya masih ditangani polres Singkawang!!!!!
July 25, 2008 at 1:51 am
muradi
Buat Bloodyz: silakan buat blog, atau web pribadi aja, biar anda bisa menyampaikan berbagai informasi dan dokumentasi terkait dengan kiprah Brimob.
dan dinamika permasalahan koordinasi antar instansi keamanan terus menjadi bagian yang belum terpecahkan. saya turut prihatin dengan kejadian tersebut. semoga kasusnya lekas terungkap.
salam
July 29, 2008 at 5:50 am
enal
bagus bngt.skrg ya penting aman tni,polri,apalagi brimob g perlu berbangga diri skrg waktunya tuk mawas diri…g usah aneh2.smua komponen bangsa andil kok di repoblik ini,?
August 1, 2008 at 6:41 am
muradi
Buat Enal: setuju bung
salam,
mrdc
August 2, 2008 at 2:47 am
yoyok
Mas Muradi yth, sy kok gakbosen2 baca artikel panjenegan sambil bayangin temen2 baret biru yang gulung2 di lapangan atau pad bengong2 mau ngapain lagi maunya pimpinan ato sambil mikir kapan kita di DL-kan (u know what i mean to ya..?)krn hal tsb bagian pengharapan utk cr tambahan sambil ngilangin rutinitas yg membosankan… He.he.he.he…….
Itu adalah potret sebagian besar anggota brimob yang kadang menjadi buah simalakam dan area abu-abu bagi para pengambil keputusan(perwira) brimob. Disatu sisi mereka bisa memberi tunjangan kesejahteraan bagi sebagian (kecil) anggotanga, namun disisi lain mekanisme pengendalian menjadi sulit atau sering menjadi persaingan diantara mereka (kecemburuan). Hal ini menjadi boomerang karena munculnya persoalan2 yg krusial (sistim anak emas,sarana mendatangkan dana taktis.,dls) dan dikondisikan untuk dimanfaatkan oknum2 yang tidak bertanggung-jawab. Kembali lagi, sedih n sedih, prihatin n prihatin, tapi itu adalah sebagian dari potret kelam jajaran korps baret biru.Karena takjarang rekans yg tidak terlibat dalam lingkaran tsb mjd sakit hati n membangun peergroups dan cenderung mengarah pada kegiatan yang negatif…. Pyuh-pyuh-pyuhhh……..!!
Kami berharap ada sarana atau orang atau siapapun (mungkin Mas Muradi) yang bisa mengakses utk meminimalisir kondisi ini dengan gagasan yang sederhana yang cerdas (aplikatif-operasional). Misalnya : lebih baik sedikit orang tapi terawat dan mumpuni daripada banyak orang tapi kurang terkontrol dan yang tampil cuma itu2 sementara beberapa cuma numpang di nama besar-nya dan tak jarang justru mencorengnya dg perbuatan2 kurang terpuji (kasuistik tapi ada….).
Semoga sejarah Brimob yang terlahir dari situasi yang sulit bener-bener tetep eksis untuk setia dalam menjaga Pertiwi….
Padamu Pertiwi kuserahkan seluruh pengabdianku…
JIWA RAGAKU DEMI KEMANUSIAAN……
August 5, 2008 at 3:30 am
muradi
Buat Yoyok: matur nuwun udah menyempatkanberkunjung ke blog saya dan baca tulisan saya……. ternyata ada juga yang gelisah, selain saya. awalnya saya pikir ketika saya berdebat panjang lebar dengan teman2 yang berkunjung di blog saya (liat posting komentar awal) saya hanya menjadi sedikit orang yang gelisah dengan apa yang terjadi di institusi baret biru. ternyata anda menjadi bagian yang menyejukan saya, setidaknya kita bisa diskusi dengan kepala dingin dan rasionalitas.
saya justru berpikir membesarkan institusi Brimob sama dengan carabiineri di Italy, atau marsose di Belanda, dan lain-lainnya. saya berpikir bahwa Brimob harus dibesarkan baik dalam jumlah dan tanggung jawab (anyway saya sedang menanti terbitnya buka saya khusus tentang Brimob, mudah2an september atau setidaknya pas Brimob ultah pada november sudah bisa diedarkan). untuk lebih lanjutnya mungkin kita bisa diskusi lebih
panjang lebar. saya kurang setuju misalnya Densus 88 ada ditiap Polda, ini sama saja mereduksi keberadaan Brimob. tapi, yah inikan bagian dari keputusan politik, jadi agak sulit diungkit2 lagi. nah saya prediksikan dalam 15-20 tahun ke depan Brimob akan menjadi unit terbesar dan terlatih dengan jumlah sekiatr 100 ribu orang, dengan kualifikasi anggota yang mumpuni. lebih lanjutnya, tunggu buku saya yahhhh……….
salam mas
August 6, 2008 at 10:13 am
dhendar
mas muradi, setelah saya baca kok mas muradi di fokuskan pada brimob bko nya saja yang ada di poso, coba research di aceh dan maluku lebih dalam, setahu saya sampel di maluku, brimob sudah banyak kiprahnya melalui beribu cara yang sangat terkesan dengan perpolisian masyarakat, mereka benar2 bergaul dengan masyarakata dengan tidak melihat komunitas mana2nya (nasrani or muslim), yang jelas mereka telah berkiprah dengan jalan sesuai harapan masyarakat dan masyarakat puas, apalagi dengan tertangkapnya dan terbongkarnya teroris di maluku, ……..di aceh gerakan brimob betul2 solid dengan daya sergapnya yang begitu cepat telah melumpuhkan gerakan separatis (GAM) …bila mas mau research tanya aja ama GAM nya, malah ada kejadian lucu pasukan elit TNI (Berbaret Merah) kejepit tapi berkat bantuan brimob mereka selamat …….. saran saya biar lebih muantrap hasil research mas muradi dan penulisan biar membumi jangan ambil sampel yang jelek2nya tapi buat survey yang apilaktif dengan beberapa tempat di Indonesia yang kita cintai ini …………. bagi saya pengadaptasian dalam perubahan tidak bisa sekaligus perlu waktu dan dukungan dari semua pihak ….saat ini Brimob harus tetap berjalan dengan tugasnya dengan sepenuh hati tanpa ragu …. maju terus baret biru …… ok mas muradi
August 6, 2008 at 10:18 am
dhendar
oh iya mas muradi, tentang keahlian negosiator brimob sudah ok semenjak polri mandiri, psikologi brimob is ok, kehumassan brimob is ok ….yang belum ok gajih/upah mereka n kesejahteraan belum ok …tolong bila mas muradi akademisi buatlah tentang bagaimana mensejahterakan ekonomi para pegawai negeri terutama polri ..ya termasuk brimobnya, bila perlu brimob gajihnya 2 kali polisi biasa. ….setujuuuuuu
August 6, 2008 at 10:19 am
dhendar
bial pegawai negeri (termasuk polri n brimobnya) sejahtera dijamin profesional n proporsional.
August 6, 2008 at 10:20 am
dhendar
bila pegawai negeri (termasuk polri n brimobnya) sejahtera dijamin profesional n proporsional.
August 7, 2008 at 6:05 am
yoyok
Wah, makin asyik n penasaran dech Mas ngomongin tentang korps baret biru….
Saya jadi ingat salah satu kelemahan brimob (sebenarnya polri sih..) tu rada kurang care untuk bermain dalam tataran administrasi n pendataan sos selalu kedodoran ketika suatu saat ditanya n harus membuktikan tentang otentifikasi sejarah (untung pas penyerahan kedaulatan republik sempat ada yang motret n ketahuan bhw bbrp dari obyek adalah polisi istimewa, disisi lain lagi-lagi untung krn surat dari Pangsar Sudirman kpd Pak Yasin/dan mobrig dimedan perang msh ada n direpro dipintu masuk mako kelapadua, dan berbagai keuntungan situasional lainnya termasuk untung ada mas yang sangat peduli thd brimob).
Sy pernah ‘grenengan’ wah kesatuan segede gambreng dg tugas2 yg cukup heboh n sering disikut/dipolitisir kirikanan kok tidakpunya divisi humas yak, paroh juga gakada pdh lumayan penting untuk advokasi keimanan n maaf ritual2 gugurnya anggota di daerah ops (waktu itu)sehingga tdkharus grobyakan, dls,dls.
Juga tentang Den 88 (kerna agt Brimob yg disana tu cm spt tim pendobrak lho..) so maaf mereka cm ky centeng yg begitu A1 n mo dogrebeg baru action, sedih dech krn saat berproses krg dilibatkan (sepengetahuan saya lho..) maksud saya akan lebih OK bila temens brimob jg diasah ttg intelejen n penyidikan berkaitan dengan trans nasional/teror,dll biar tdk berkesan sbg “maaf” centheng belaka. Sekalian untu mempertajam tentang pemahaman 5 kemqmpuan dasar ttg RESMOB dan WANTEROR……
wADUHH…..,KAYAKNYA NGGAK ABIS-ABIS DECH KANG, btw-anyway-bus way saya se7 BRIMOB jgn sampai kehilangan ESENSI-KEJAYAANNYA tanpa harus berkutat dalam Sejarah Romantisme masa lalu. Artinya BRIMOB bener2 okey luar dalam baik dulu sekarang n masa yang akan datang.
Salam hormat,
yo2k
August 8, 2008 at 10:56 pm
dhendar
mas yo2k …… makasi sarannya untuk nambah gawe brimob, namun tidak semuanya chenteng sich, aku tahu cauze sdra ku aggt brimob, kalo ndak salah oknum aja … oh iya untuk ilmu resmob, wanteror, kan udah ilmunya …dan diajarkan ..untuk penyidik …juga sudah mengenal dasarnya sebab yang specialis kan dari aggt reserse sesuai kewenangannya. namun brimob juga diajarkan semuanya tergantung dari aggt itu sendiri ….. tapi saya salut dgn baret biru brimob …wong pasukan unik n keren abis dech ….. secara tdk lgsg punya multifungsi gawe dan kekhasan tersendiri …. bisa polisi sipil bisa juga pasukan tempur ….. sesuai daerah/situasi yang dihadapinya. ok thanks yaa ……
August 10, 2008 at 1:38 am
muradi
Buat Dhendar: hihihihihiiiiiiiiiii makin seru yah diskusinya, saya jadi seneng aja, makin kaya pengetahuan saya dan malin banyak yang dikupas terkait dengan brimob. saya juga punya hasil penelitian terkait dengan kinerja Brimob di beberapa daerah konflik, tapi mohon maaf blm bisa saya share di blog ini, uraiannya akan anda dapatkan di buku saya yang tengah proses edit. kebetulan yang ini saya penelitian langsung di Poso. jadi sekali lagi bukan sekedar Poso, saya setuju dengan anda.
sedangkan soal keahlian, ini masih debatable, saya rasa kalo anda punya data tentang itu, mohon di share, karena menjadi penting bagi orang awam macam saya mengetahui apa yang sudah ok mana yang belum ok, karena selama ini hal tersebut belum terekspos, baik di lapangan maupun pemberitaan media, jadi tidak sekedar klaim sudah ok, yang pada akhirnya membingungkan masyarakat, karena fakta di lapangan berlawanan dengan pernyataan tersebut [setidaknya temuan saya di lapangan baik di aceh, poso, papua, dan ambon].
saya juga setuju mas, gaji dan kesejahteraan dinaikkan, tapi saya sangsi bila sumbernya hanya dari pos negara, mengingat keterbatasan anggarannya. makanya saya usulkan untuk menshare dengan Pemda (baca posting saya yang judulnya: mensejkahterakan polisi), jadi pemda akan mensupport kesejahteraan tersebut dalam bentuk tunjangan daerah (namanya bisa apa saja) dan Polri, akan membagi sedikit kewenangan politiknya ke Pemda, misalnya dalam penunjukkan kepala polisi di polda, polwil, polres, hingga polsek, serta adanya laporan yang bersifat integratif kepada kepala daerah setempat. tapi sekali lagi ini tidak mudah, karena terkait dengan eksistensi Polri sendiri, tapi itu yang paling mungkin, dari dua pilihan tersebut.
salam kenal
Buat Yoyok: Luar biasa pemahaman anda mas yoyok, saya setuju dengan semua komentar anda. saya salut dengan yang anda paparkan. karena ada hal yang menarik, kita membangga2kan sejarah dan masa lalu, sementara kita tidak terlalu care dengan apa yang menjadi masa lalu kita. saya pikir Brimob harus keluar dari mainstream itu, dan mulai membangun keunggulannya dengan kinerja.
salam
August 20, 2008 at 1:04 pm
wenys
Kalo menurut saya Brimob harus segera memposisikan diri sebagai Polisi yang melindungi dan menganyomi masyarakat, bukan malah emnindas masyarakat, sesama Korps Polri, antara Samampta, Sabhara, Lantas saja brimob tengkar, ini yang menyebabkan Brimob seperti Polisi No 1 diantara Rumpun Polisi Polisi yang lain, kenapa karena memang petinggi polri menyiapkan Brimob sebagai tandingan TNI. yang memang di cetak untuk membuat kekuatan tandingan oleh bangsa luar, terbukti gencarnya Pihak asing menyuplai Dana dan peralatan Untuk Brimob, kenapa?……….
August 26, 2008 at 11:18 pm
muradi
Buat Wenys: terima kasih komentarnya!!!
salam kenal
August 30, 2008 at 6:23 am
yoyok
Hallo Mas Muradi…..
sekedar lewat n kangen aja disela hingar bingarnya republik tercinta.
Cuma mo tanya ” BUKUNYA UDAH NONGOL BELOM…?”
Sorry saya tanya disini kerna dah lama nggak dolan2 gramed, minimal biar sekalian nunggu buku Mas sambi nabung dulu (ojo mahal-mahal lho…).
Salam kangen
September 6, 2008 at 12:10 am
muradi
Buat Yoyok: iya ini,saya masih nunggu juga, mereka janjinya sih abis lebaran(mundur lagi), sayamendesak juga ke mereka agar cepat naik cetak dan edar, tapi katanya masih dalam proses,ditunggu aja yah
soal harga,nggak akan mahal lah. tenang aja. wong buku ini sekedar untukmenambah pengetahuan masyarakat tentang brimob dan Polri,jadiharus terjangkau olehmasyarakat, jadi dijamin tidak mahal!!! akan saya kabari ASAP yah.
apakah panjenengan juga sehat2 saja? semoga Tuhan selalu melindungi pengabdian anda kepada bangsa dan negara mas!!!
salam dari bandung
September 8, 2008 at 6:50 pm
SMITH
sblumnya terima kasih untuk perhatian mas muradi dengan satuan brimob….
tapi maaf sblumnya, saya tidak terlalu setuju dengan apa yang mas tulis….
sya sendiri adalah anak dari orang berbaret itu….
sbenernya saya agak sedikit miris dengan tudingan2 yang mampir mengenai brimob karena itu juga sama artinya secara tidak langsung menyinggung ayah saya… tapi sya yakin keragaman pendapat kan hak asasi semua orang…
kalimat anekdot yang mnyebutkan bahwa “polisi Bukan tentara Belum” sbetulnya slah besar krn brimob adalah bagian dari polisi, tapi memang ada yang membedakan antara brimob dan satuan lainnya, yaitu “BRIMOB SUDAH PASTI ADALAH SEORANG POLISIS DAN TIDAK DAPAT DIPUNGKIRI, TAPI KLO POLISI DIA BELUM TENTU SEORANG BRIMOB”
sementara ada juga tulisan yg menyatakan bahwa brimob dibuat untuk menandingi tentara, sebenranya salah….
krna brimob tidak pernah berharap untuk dibuat sebanding dengan tentara, mereka justru dibuat untuk memperkaya pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.
justru bisa dibilang saat ini mereka sedang tertindas…
1. masyarakat awam yg hanya bisa menilai secara garis besar saja menganggap bahwa anggota brimob itu adalah sebuah pasukan yang arogan.
2. banyaknya satuan tugas lainnya menggunakan seragam yang HAMPIR SAMA dengan anggota brimob membuat sebagian orang yang hanya ingin menarik kesimpulan cepat berpikir bahwa orang yang berbuat tindakan negatif itu adalah brimob… pdahal hanya seragamnya saja yang sama.
jadi sya mohon kepada semua orang yang mungkin memuat komentar2 yang sedikit berbau tudingan untuk mengecek dulu kebenarannya baru kemudian berkomentar…
brimob juga terbuka akan kritik saran dari smuanya… namun hendaknya dibarengi dengan kebenaran yang akurat….
nb: untuk mas muradi thanks buat kritiknya untuk brimob…. nanti coba saya diskusikan dengan ayah saya…
moga2 nanti saya bisa memberikan komentar lagi mengenai tanggapan ayah saya…
terima kasih sebelumnya
September 18, 2008 at 6:16 am
yoyok
Ikutan komentar dong…..!!
Mas Smith ytc,
saya 100% setuju dgn statement anda tentang BRIMOB pasti POLISI n POLISI blomtentu BRIMOB. Tapi klu pemahaman anda tentang ‘polisi bukan tentara belom’ yg melebar pada asumsi keberadaan Brimob untuk menandingi tentara jg belum sepenuhnya tepat.
Artinya,ada perlakuan kepada brimob yg bersifat mendua/standartganda yg secara tidak disadari sekalilagi SECARA TIDAK DISADARI membuat agt Brimob mjd ambigu (gw nich polisi atau pasukan?!) saya sendiri 4thn disana n merasakan hal itu shg masih pengin kembali kesana karena adanya ikatan moral yg luarbiasa!! Pertanyaannya: MENGAPA ADA PERASAAN tsb? Seiring dg perjalanan waktu dlm tiap perenungan n perlakuan mmg ada bbrp yg aneh tp dipelihara…?! Contoh: para pemimpin dlm ikatan regu/pleton/kompi disebut KOMANDAN regu/pleton/kompi. smtr untuk ikatan den/sat/korp disebut KEPALA detasemen/satuan/korp.
Dlm peraturana administratif jelas mengacu polisi sipil yg madani n proHAM namun dlm praktek belum sepenuhnya dan mas bisa rasakan kehidupan pasukan n esprit decorp yg dominan (kehidupan barak,senior yunior yg kental, dls), dan msh ada bbrp contoh lain.
Komentar disini (dlm Blog mas MURADI) justru merupakan arena indah untuk diskusi n sharing (bukan menuding yg sepihak dg cara TINGGAL GELANGGANG COLONG PLAYU) karena kecintaan kita kepada BRIMOB. Kira-kira sebagai penerapan 3 ASAS Profesionalitas KEPAKARAN, TGJAWAB n KOLEGIALITAS… Artinya kita adalah pakar (mas Muradi,cs sbg PAKAR akademisi, kita sbg masyarakat PAKAR dlm melontarkan ide/kritik/saran n anggota BRIMOB sbg PAKAR praktisi dilapangan), secara moral thd kePAKARan tsb maka kita memiliki TGJWB dg cara posting n diskusi sebagai wujud bahwa kita adalah KOLEGIA (ahli klu pelit ilmu percuma, masyarakat klu tidak kritis kebangeten, brimob klu ndableg n tutup kuping n kacamata kuda kok ya maunya dewe….). So disini kita saling bertgjwb thd kepakaran kita dlm konteks kolega, supaya BRIMOB is BRIMOB yg sangat OK n sll dibanggakan saat membela pertiwi.
Sungkem n salam hormat untuk ayahnda, tanyakan pada beliau siapa yang pertamakali melatih PELOPOR atau RECON (mbah2nya Brimob jaman dahulu) sesungguhnya adalah GREEN-BARETS-nya US army n dikenal sebagai RANGER OKINAWA. Dari merekalah maka lahir penembak kepercayaan n penerjun n 5 kualifikasi andalan Brimob yg dikenal selama ini. Sejujurnya mmg ityu yg terjadi so klu Brimob adalah “semi-militer” mmg itu adalah produk budaya atau sesuatu yg diwariskan dari generasi ke generasi…
Wah, jadi kangen kelapadua nich…..
Salam kompak mas Smith n mohon maaf mas Muradi, sy malah jadi ngember…!! Habis mas Mur pake acara buka Blog Brimob segala sich… Wakakakakkkk…!!
September 30, 2008 at 1:42 am
polisi biasa
BRIMOB itu HEBAT…..
sekali tampil pasti berhasil
kayak bapakku…..
September 30, 2008 at 1:54 am
polisi biasa
bapakku klo ada penugasan gak pernah gagal……
coba klo pak muradi mempunyai bapak anggota BRIMOB….
pasti bangga…….tul gak…
October 6, 2008 at 8:08 am
zalukhu
mas muradi mhn maaf tp alangkah baiknya kalau membuat buku jangan hanya di satu sisi melihatnya coba ke arah brimobnya gimana apakah anda pernah tau keberhasilan brimob di daerah konflik selama ini memang bagi mereka yang terusik pasti bilang brimob itu jelek tapi nggak apa2 memang itu resiko tugas benar aja salah apalagi salah
October 10, 2008 at 10:33 pm
tjetjep
brimob di takengon aceh. ada gam cari makanan, masuk ke pos brimob, eh brimobnya malah lari.
October 14, 2008 at 12:59 am
muradi
BUat Yoyok: terima kasih komentarnya mas,
Buat Polisi Biasa: seharusnya Brimob memang menjadi satuan yang hebat, saya setuju!!!
salam kenal,
Buat Zalukhu: terima kasih sarannya mas, akan saya perhatikan. sekedar catatan, saya tidak mungkin menjelek2an Brimob dalam setiap tulisan, tanpa data yang akurat, dantentu saya akan mencoba mendorong agar Brimob menjadi kesatuan yang hebat sebagaimana diungkapoleh ‘Polisi Biasa’ di awal, dengan masukan dan kritikan daritulisan saya yang tetap dalam koridor membangun.
Buat Tjetjep: terima kasih atas infonya!!
October 17, 2008 at 3:42 am
Warga
untuk rudi, kau ini tolol sekali ya… makanya baca dulu baru komentar… ga makan bangku sekolahan sih..
October 18, 2008 at 12:06 am
batra
seru juga baca tulisan mas muradi and ulasan2 dari rekan2 semua……saya cuma menyampaikan pendapat bahwa semua institusi yg dibentuk di indonesia ini pasti tujuannya baik sesuai dengan peran dan tugas masing2…baik polisi biasa, brimob, TNI, DLLAJ atau lainnya..yang membuat menjadi tidak baik adalah oknumnya…memang kalau membahas hal ini tidak akan pernah habis karena aknum2 yg bebrbuat pasti ada alasan2 tertentu, terutama tg jawab kepada keluarga (materi)…Hukumpun menjadi “mandul” manakala melihat kondisi seperti ini atau dengan kata lain bisa “komfromi” atau “kekeluargaan” ajalah…kesejahteraan ditingkatkan baru aturan ditegakkan…kembali ke bahasan awal, jadi mari kita melaksanakan tugas dengan sebaik2nya tanpa ada perasaan bahwa kita paling hebat. paling dibutuhkan, paling dan paling…dan juga jg ada rasa persaingan/iri sesama rekan baik dari satu kesatuan atau rekan dari luar kesatuan…..karena hal ini dapat dimanfaatkan oleh oknum2 “BESAR” yg mengeruk keuntungan rasa persaingan tersebut untuk tujuan2 tertentu…….
mhn maaf kalo kurang dikupas tuntas….
salam tuk semua
thanks
October 20, 2008 at 12:06 pm
muradi
Buat Warga: mohon maaf tidak ada yang tolol yang kasih komentar disini, yang ada hanya perbedaan persfektif. dan sebagai sebuah ruang akademik,saya pikir tidak bermasalah sepanjang tidak tendensius dan menyerang secara subyektif. anyway terima kasih komentarnya
Buat Batra: terima kasih bung komentarnya, andalah yang justru membuat blog saya makin menarik….
salam kenal
October 20, 2008 at 10:47 pm
batra
nambah lg ya maz…..
comment terdahulu ada yg bilang mas muradi “antek militer”…padahal yg saya ketahui mas muradi juga banyak buat tulisan atau kritikan untuk militer jd buat saudara yg menuduh seperti itu gak benar….coba baca karya tulis mas muradi yg lainnya biar ballance…
saya senang baca tulisan mas muradi karena bukan hanya kritikan tapi juga solusi, ini artinya mas muradi berniat baik demi bangsa ini…tidak seperti orang2 yg bisanya “teriak” tetapi gak jelas tujuannya….atau dia teriak untuk tujuan pribadi atau kelompoknya atau yang parah lagi dia teriak karena memanfaatkan situasi…..
“orang yg sering dikritik akan menjadi bertambah baik apabila mau mempelajari kritikan tersebut”
“orang yg sering mengkritik akan bertambah bijaksana dalam mengkritik apabila dia merasakan apa yg dirasakan oleh yg dikritik”
makasih mas muradi…
kapan2 sy boleh belajar menulis gak…kadang susah menuangkan ide dlm tulisan..
October 26, 2008 at 12:28 am
HERO3
#tjetjep#
brimob di takengon aceh. ada gam cari makanan, masuk ke pos brimob, eh brimobnya malah lari.
Brimobnya lari ambil makanan untuk diberikan GAM….
Ditunggu bukunya bung Mur….
October 27, 2008 at 7:35 am
inu
pak mur! term ksh atas atensix dgn baret biru.yg kasihn angt yg tugs di papua krn slain menjalankan tugas sbg polisi sipil tp masyrkt sll melihat baret biru sbg oknum militer dgn mellkn unjkrasa dgn menggnkn senjt.liat kasus abepura dpn universitas cendrawash 3 anggta brimob dibantai massa yg ngaku mahasiswa yg intelek tp berjiwa binatang sehgga anggt tsbt meninggal dunia.by JENTAK.
October 28, 2008 at 9:37 pm
muradi
Buat Batra: Terima kasih mas ‘pembelaannya’. saya harus maklum mengingat teman2 di Polri masih trauma dengan penggabungan Polri selamalebih dari 40 tahun dengan TNI, sehingga setiap kritik, saran dan masukan dianggap sebagai langkah untuk mengusik status dan posisi Polri. tapi yang pasti saya terus akan memberikanmasukan dan kritik yang membangun,baik bagi Polri,TNI,maupunBIN ,agar menjadi lembaga yang mumpuni dan selaras dengan kerangka demokratis.
Buat Hero3: terima kasih bung, salam
Buat Inu:Terima kasih atensinya bung. saya paham benar situasi di Papua,dan daerah konflik lainnya. dan saya terus berharap agar Brimob baik pencitraannya,sehingga masyarakat tidaklagi apriori apalagi sampai membenci Bimob.
anyway, terima kasih atas komentarnya.
salam kenal.
November 2, 2008 at 8:15 am
Karsan
Jelas Brimob NO:1 Di POLRI dan Brimob menjadi garda terdepan didalam menjalankan tugas2 Polri. Gak mungkin anda bisa meramal masa depan tanpa anda melihat sejarah dan sejarah telah mencatat pangabdian Brimob tsb dan Resimen Pelopor/Rangers Indonesia sebagai Icon Brimob didlam mengemban tugas negara.
Integrasinya Polri dengan TNI dimasa lalu adalah kecelakaan sejarah yang harus ditutup untuk selama2nya karena dari sanalah kehancuran Polri yang bermuara pada pengkerdilan Brimob dengan dibubarkannya Resimen Pelopor.
Kita gak perlu banyak mengkritik Brimob soal penempatan brimob barada dioragasasi mana karena Brimob adalah milik Polri dan setiap negara punya aturan main dididalam penempatan pasukan khusus. coba anda bayangkan, dinegara perancis Marinir berada dibawah angkatan darat. kalau kita berjalan dengan pemikiran orang indonesia, ini kurang tepat. karena apa? marinir mau naik kapal aja harus minta2 dulu AL.
Salam buat semua
November 4, 2008 at 1:28 am
muradi
Buat Karsan: terima kasih komentarnya, semoga saja pernyataan anda didukung oleh realitas Brimob yang makin maju dan No. 1 sebagaimana anda katakan. betul kita tidak bisa meramal, namun dengan data dan fakta yang ada setidaknya kita bisa prediksi ke arah mana bandul Brimob mengarah: menuju No. 1 sebagaimana harapan anda atau sebaliknya.
salam kenal
November 4, 2008 at 11:51 pm
Karsan
Salam Kenal juga Mas Muradi,
Coba anda Nulis juga mengenai gagalnya Marinir mengembangkan Marinir menjadi 3 Divisi. kenapa harus Kostrad yang didahului untuk dikembangkan menjadi 3 divisi dan bukan Marinir? padahal pengembangan Satuan Marinir sudah sangat mendesak mengingat kasus Ambalat, Sipadan ligitan dan tentunya geografis kita yang 70% adalah Laut.
Pengembangan Marinir juga sejalan dengan pengembangan Armada tempur laut menjadi 3 Armada yang tadinya cuma dua ( Timur dan Barat)
Thank’s Before,
Karsan
November 7, 2008 at 9:47 am
BRIMOB
Buat Pak Rudi yg terhormat…apakah anda pernah dengar tentang cerita Pelopor yg ditelanjangi Fretelin di Timtim? Begini yah…TNI tidak pernah merasa bahwa tugasnya diambil Polri, okupasi tugas Polri oleh TNI jaman dulu lebih disebabkan karena ketidakmampuan Polri saat itu, dan dalam bingkai perintah UU. Lepasnya Tmitim bukan karena TNI, tetapi karena keputusan politik Negara yg konyol, yg tidak mempertimbangkan persepsi Internsional tentang Timtim dengan memberikan Jajak Pendapat. Aceh bisa damai karena keputusan Pemerintah untuk melakukan Operasi Militer dalam Darurat Militer di Aceh, ini maknanya apa? Tidak bukan tidak lain karena impotensi Polri yg selalu mengklaim bahwa keamanan dalam negeri adalah tugasnya padahal tidak mampu melakukan penegakan hukum di Aceh, bukan begitu?
apakah anda punya catatan tentang keberhasilan Brimob dalam penugasan? di Poso tidak diterima masyarakat, kerjanya hanya nge-pos pinggir jalan dan terima upeti dari para sopir yg lewat..di Aceh, Ambon malah terlibat dalm konflik horizontal…lalu apa yg anda banggakan?
November 16, 2008 at 11:46 am
blue baret
tolong jangan cuma menilai dari sejarah dan keberpihakan pada salah satu golongan,antara satu dengan yang lainnya,bangsa ini hancur karena semua merasa hebat,Brimob juga manusia yang tidak luput dari kesalahan,tapi bkn kesalahan organisasi tapi mungkin kesalahan personil dan merupakan kewajiban masyarakat untuk menyampaikan keluhan apabila ada oknum yang melakukan kesalahan.Reformasi brimob sudah sangant bagus dan membutuhkan dorongan dan bantuan dari berbagai pihak,bukan dihujat apabila melakukan kekeliruan.
buat “BRIMOB” saya yakin anda bkn dari brimob,tapi mengatas namakan brimob,saya yakin anda orang yang pengecut…………..
“JIWA RAGAKU DEMI KEMANUSIAAN” itu tekad kami
November 20, 2008 at 12:11 am
DENJAKA
BRIMOB TETAP POLISI, Yg hrs mengayomi masyarakat… so jgn suka bikin ulah juga dengan Masyarakat sipil.. apalagi TNI ,,,,, kalo Brimob sale pasti TNI Buy…. saya yakin sekali pasukan Brimob belum matang bertempur seperti Khasnya TNI AD ( Kopassus ), TNI AL ( DEN JAKA ), TNI AU ( PASHKAS )nya……….
So sudahlah apa yg musti dibanggakan dari Kepolisian sieee…. kalo untuk berani2an mau iktan selevel TNI ( Belum Cukup UMUR & Kemahiran Boss… )
Maaf nie.. hal ini sy lihat di TOL CIKOKOL tangerang ( 02 Truk BRIMOB ), berada dilajur Paling KANAN…. Padahal namanya truck 6 roda.. harus di lajur kiri or maximal di tengahhh.. dan saya berada 4 mobil dibelakang dari truck BRIMOB, dan dari lajur kanan terdengar sirene Motor Besar.. akhirnya rombongan tersebut melintasi saya,,, pas mendekati 2 truck BRIMOB, yang saya tidak jelas dari rombongan POMAL sepertinya memerintahkan untuk berganti lajur.. maklum truk sama motor besar pasti lebih kencang motor besar kan… akhirnya pun 2 truck brimob memberikan jalan kepada rombongan POMAL ( TNI AL ),,, pikir saya Brimob memang lum bisa sematang TNI laa…. coba saja dalam peperangan yang kadang sok tauuu… and sok pintar di hutan.. akhirnya kalah dan keok juga sama GAM… gantinya KOPASSUS tuuu.. and MARINIR..yang kejar GAM….
November 20, 2008 at 3:40 pm
YonBekAng
Buat si JAKA, coba klo itu truk itu ada tulisannya gua… entah itu ada motor gede dengan atribut tulisannya POMAL, marinir… EGP dah jack……..
December 7, 2008 at 9:19 am
Teguh
Wah klo 2 truck brimob memberikan jalan kepada rombongan POMAL ( TNI AL ),,, Berarti Brimob itu polisi yang tau berlalulintas yang safety n responsible, mungkin POMAL itu lg ngawal OKNUM DENJAKA
GADUNGAN yg sok hebat pke tali KOOR MERAH nunggu tumpangan gratisan di jalan ato nekat nerobos tiket tol krn ga pnya duit..jgn ngaku PASSUSLA TRIMEDIA klo cma jd provokator yg bikin bentrok satuan TNI-POLRI.
December 13, 2008 at 5:15 am
muradi
Buat Teguh: terima kasih komentarnya.
salam kenal
December 11, 2008 at 12:40 am
bayi ajaib
ulasan2 diatas mengambarkan bahwa bangsa ini belum dewasa…masih merasi paling jago dan paling dibutuhkan…..cobalah kalo semua pihak saling mendukung, pasti bangsa ini maju dengat cepat…buat pihak2 yang sempat baca komentar2 yang tidak berpendidikan saya berharap tidak terprovokasi..buat Blue baret, denjaka, brimob dan teguh..perdalam wawasan dan perbanyak pergaulan agar pikiran kita tidak sempit…media internet sarana untuk menambah wawasan dan menambah teman..jadi jangan disalah gunakan untuk menunjukan keegoan masing-masing……atau memprovokasi antar institusi….
Face..
December 13, 2008 at 5:26 am
muradi
Buat Bayi Ajaib: Terima kasih komentarnya!
salam kenal
December 16, 2008 at 8:17 am
LSM US
Sampai kapanpun bangsa ini tidak akan pernah maju dengan pola pikir model tentara diatas. saya telah tinggal disini sejak masa peralihan dari orla ke orba dan ternyata selama semua sektor dikuasai oleh tentara, seperti inilah kita lihat. indonesia mengalami krisis yang berkepanjangan/multi dimensi adalah merupakan peran tentara 80%. tentara paling merasa hebat bisa ngatur semuanya bahkan dengan macam rekayasa konyol yang mengakibatkan banyaknya korban berjatuhan dipihak rakyat indonesia. lihat saja komentar mereka diatas? ini saya yakin dari tentara berpangkat rendah, buta sejarah, dan masuk tentara dengan nyogok.
Saya yakin para Polisi juga bukan kumpulan orang2 bodoh yang gak ngerti apa2. karena mereka pintar, maka ketika reformasi mereka meminta cerai dengan tentara agar mereka bisa maksimal melaksanakan tugas dengan baik seperti kita telah lihat prestasi mereka mengungkap teroris dan ini hanya bisa dilakukan oleh polisi indonesia didunia diberbagai tempat dinegara ini termasuk poso.
saya sangat tidak percaya prajurit pelopor brimob ditelanjangin ditimtim. ini hanya jualan kosong tentara selama ini dan ternyata mereka masih hidup dengan bermimpi terus sebagai pahlawan kesiangan.
hei tentara bangunlah kalian dari mimpi kalian yang panjang dan kosong itu
December 19, 2008 at 10:08 pm
muradi
Buat LSM US: Terima kasih komentarnya bung
December 25, 2008 at 1:55 am
Bm bgt
Sorry, Sy lg browsing tnp sgj baca artikel pak muradi, n sy tertarik utk baca.
sy Agt bm sdh 13 th (dr awal), dan sy mengalami masa transisi dari BM PraValidasi & pra Reformasi, & thd Artikelnya sy tagg sbb;sebagian besar fakta yang disampaikan mmg benar, jujur sj bhw cultur Bm msh seperti itu ( walaupun membacanya mmg bkn skt) tp itulah kenyataan. Byk faktor yg pengaruhi al : a. seperti spt anda ulas, bhw warisan Orba yng menempatkan Polri satu atap dg TNI, tlh membangun cultur militerisme yg kental. tetapi perlu diluruskan bhw tdk sma militeristik itu jelek, perlu adanya pemilahan akan pemahaman miteristic n militerisme, Apel, Upcr, PBB, Eprits de corps Sma itu militeristic, n good, Brimob tanpa budaya militeristik spt itu tdk lbh dari gerombolan bersenjata yang tdk teratur, tetapi yg keliru adalah membawa budaya n doktrin militer (militerisme) ke dlm tugas sehari2, krn Bm sbg bag dr polri lgs bersentuhan dg masy, Ex ; Doktrin Army ” Kill or to the Killed” sgt antagonis dg Polri yg Berkewajiban “to serve & To Protect”
b. Korban bijak ; dmn rekrutment BM terlanjur dipaksakan mll rekrutment um polri, shg byk Polri yg tdk mau jd Bm, tp terpaksa , seharusnya, BM laks self Rekrutment , shg yg msk bnr2 dr hati nurani ; statistik Bm mengatakan bhw 70% pelanggaran oleh agt Bm ant 1996-2008 dilkk oleh pers yg direkrut scr Paksa (utk Actualisasi dt ada di kor Bm & Bm daerah) pd saat Validasi Bm ( Bijak Kapolri saat itu )
c. Error Doktrin ; yg turun temurun, mslnya doktrin “BM No Police” dan msh bnyk lg, anad tentu th akibat doktrin seprti itu pd pertumbuhan sikap mental, tetapi tdk sepenuhnya kesalahan Bm, tetapi secara global, polri sendiri ikiut andil membentuk opini seperti itu, dmn kita tahu secara De-jure, Bm mrp bag intg polri, tetapi de-facto di polri sdr Bm tdk ubahnya anak tiri,
fakta :
1) sekolah polisi mana yg masukan penget ttg Bm dlm kurikulumnya selain Pusdik BM
2) Sek pengembangan karier Spt Ptik, selapa, secapa dll srg me-marginal- kan Bm dr segi peluang dan kesempatan (self experience)
3) Sikap no wellcome yg ditunjukan Agt polri lainnya ktk berhadapan dg bm,
d. People Opinion ; yg terlanjur berkembang dlm masy telah membentuk scr tdk lgs error cultur yg pd akhirnya menjadi pembelajaran negatif
tetapi dalam dekade 1998 – 2008, tlh banyak kemajuan yg dicapai ( jika anda ada bersama kami sbl Reformasi, pasti akan tahu bedanya…) dalam proses menuju “civilian police” dan bijak pimp Bm saat ini menyangkut hal tsb tekah berputar 180 drjt.
realita ;
a) Punisment utk yg tdk laks bijak skrg sgt riil, PTDH, berapa banyak? jwbnya tdk terhitung.
b) bm skr ( umm ; polri ) lbh terbuka trhdp kritik, Bandingkan dg Isnt lain yg msh “Closed” ( sy tdk mau diskreditkan yg lain dg nama inst….)
dan banyak lg, jd mll tls skt ini sy ign mengatakan bhw merubah cultur tdk seperti menjual kacang yang mdh laku, tetapi perlu konsep akan 7an yg jls, organisasi yg solid, pers yg komit thd 7an org dan dukungan yg bsr dr sma elemen masy tentuny termasuk anda yg akademisi.
sy akui mmg tulisan anda benar, tp sy berharap anda membuat konsep riil ttg organisasi BM kedepan, yg bisa dijadikan sumbangsih dlm pengembangan Bm di masa yad. dan sy slk Bm ( yg pernah ditawarin jd Lantas pun tdk mau) akan sangat menghargai karya anda tsb.
( Sy tdk counter, so…hny ingin anda tahu, shg anda tertarik utk lbh msk mempelajari keadaan kami…)
December 25, 2008 at 5:16 am
muradi
Buat BM bgt: terima kasih atas komentar dan tambahan datanya, sangat berguna bagi saya dan pembaca lain. respon saya atas komentar bung adalah apa yang saya tulis merupakan bagian dari upaya untuk mendorong Brimob agar lebih profesional dan memiliki visi yang jelas. apa yang terjadi selama ini bila diandaikan belum jelas mau dibawah kemana Brimob, yang terjadi kan anda juga bisa rasakan.
Thesis saya tentang Brimob rencananya akan diterbitkan oleh Tiara Wacana,Yogyakarta. mudah2an bisa segera edar. di tesis tersebut saya banyak membangun argumentasi mengapa BM harus diperkuat,beserta data-data pendukung lainnya. semoga saya buku tersebut segera beredar. sehingga bisa berbagi data dan fakta,serta harapan untuk membangun BM lebih profesional dan sejahtera dalam kerangka kepolisian demokratik
salam kenal,
mrd
January 6, 2009 at 5:34 am
arsa
Bung LSM US yth,
Berfikirlah secara jernih…TNI dan POLRI sedang dalam proses berbenah diri, seyogyanya kita dukung mereka. janganlah saling tuding untuk menyalahkan ataupun memihak, karena reformasi masih dan terus berjalan.
Salam hangat,
Arsa
January 12, 2009 at 6:41 pm
muradi
Terima kasih respon dan komentarnya,
salam
January 21, 2009 at 2:21 am
NURWAKIT
Salam…
Saya salah seorang anggota BRIMOB di daerah, sangat tertarik dengan tulisan saudara. kebetulan saya sementara menulis mengenai PENERAPAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN ANGGOTA GEGANA BRIMOB, didaerah sangat sedikit literatur yang bisa digunakan, mungkin kita bisa berdiskusi lebih lanjut tentang masalah ini, atau mungkin saudara punya rujukan tentang hal tersebut ? Trims atas komentarnya. Bisa jadi motivasi untuk dapat lebih berkarya.. Trims
January 21, 2009 at 2:32 am
NURWAKIT
Dimana nih bisa dapat buku-bukunya bang Muradi tentang BRIMOB ?? pengen tuh…
January 26, 2009 at 12:26 pm
ndoronggung
salam bung Mur,.
,.jadi “rame” ya 

artikel yg menarik
numpang ‘nyonthong’ dikit ah,.
kita hidup dan tinggal di dalam sebuah Negara Republik yang memiliki Undang- Undang ( UUD 1945 ), memiliki aturan hukum serta keputusan – keputusan yang ditetapkan oleh pemerintah. terkait dengan hal tersebut, bahwasannya setiap warga negara harus tunduk dan menjunjung tinggi kepada UU dan hukum yang berlaku. bangsa yang “MERDEKA” adalah bangsa yang tau akan HAK dan KEWAJIBANNYA, bukan selalu dituntut untuk memenuhi KEWAJIBAN tanpa diberikan HAKnya, juga bukan selalu menuntut HAK tapi tidak mau memenuhi KEWAJIBANNYA,.ha,.ha
“setiap kita melempar kail tidak selalu ikan yg kita tunggu, namun lebih dari itu,.”pengail2 lainnya”,.
salam bung Mur,.
February 19, 2009 at 8:35 pm
muradi
Buat Nurwakit: terima kasih atas apresiasinya, memang benar, literatut tentang brimob tidak banyak, semoga blog ini bisa sedikit banyak membantu anda untuk dapat menyelesaikan tulisan anda. saya sudah kontak dengan teman di Tiara Wacana, mereka bilang sedang dalam proses, semoga tidak terlalu lama bisa segera terbit.
Buat Ndoroagung: terima kasih komentarnya bung
February 24, 2009 at 1:10 pm
anton
salam kenal mas,
trims tulisannya, mudah-mudahan menambah wawasan dan menjadi bahan pemikiran pimpinan negara kita baik sipil maupun militer.
Untuk komentar temen-temen kita diatas nampaknya sangat emosional sekali mas, blm dpt menerima fakta yang ada.
tolong mas buat penelitian mengenai sering bentroknya TNI-POLRI dari kaca mata kalangan akademisi dan hasilnya ditampilkan disini.
SARAN : buat temen2x aparat binalah pertemanan, tiada guna kebanggan yang semu kalau perut kita lapar, dan anak2x menanggis dirumah minta sesuatu.
From : Penyidik
February 24, 2009 at 9:13 pm
muradi
terima kasih anton atas atensinya? soal menambah wawasan, setidaknya bukan cuma untuk kalangan elit saja, tapi juga untuk khalayak kayaknya perlu juga. nggak banyak referensi terkait dengan hal tersebut di atas. soal komentar teman2 ahh, saya sudah biasa mas, maklum kok memang situasinya belum bisa terbuka, masih ada perasaan curiga dll. tapi saya optimis bahwa itu hanya fase saja yang harus kita lewati,selebihnya akan lebih realistis dan menerima,selanjutnya memperbaiki dari dalam. saya yakin begitu karena di internal Polri maupun TNI banyak yang berpikiran maju dan visioner, so,let tje time answer!!!
salam kenal juga
February 28, 2009 at 12:59 am
Transiter
Bang Muradi, kalau melihat dari sudut pandang saya sebagai “awak” Brimob, sedikit terusik. Dahulu ketika masih pelajar juga sempat kurang simpatik terhadap ABRI termasuk Brimob di dalamnya dengan karakter lama yang arogan. Tetapi setelah menjadi bagian dari Keluarga Brimob, saya dapat melihat “isi rumah” dan memahami kemudian memaklumi apa yang saya lihat hanya dari luarnya saja selama ini. Ada pepatah mengatakan “Karena Kenal Maka Sayang”.
Sepanjang sejarah RI tercinta ini, Brimob kita inilah yang paling sulung dan paling setia kepada Ibunda dan akan terus demikian. Saya salut dengan Bang Muaradi yang menyediakan waktunya untuk menulis tentang Brimob – Polri. Saya juga memahami ini adalah dari sudut pandang penulis yang banyak didasari buku-buku referensi. Kekurangan-kekurangan yang ada sekarang inilah yang terus diperbaiki sebab tidak mudah merubah budaya. Tapi perubahan itu telah banyak terjadi dan masih terus berlanjut. Perubahan yang kita harapkan sebenarnya adalah bagaimana meningkatkan budaya disiplin dan patuh hukum dari seluruh lapisan masyrakat sehingga tindakan represif yang dilakukan penegak hukum tidak dipandang penindasan.
Posisi Brimob Polri tidak perlu dikhawatirkan, kecuali ada yang punya kepentingan atau ada yang berharap mendapat pujian dari pihak tertentu.
Semoga Korbrimob Polri semakin Profesional, Mahir, Terpuji, dan Dicintai Masyarakat.
March 3, 2009 at 10:36 pm
muradi
terima kasih atas sharingnya mas. betul harapan yang sama juga saya sosialisasikan terkait dengan profesionalisme Brimob
salam
March 24, 2009 at 2:00 pm
resimen 1 brimob
Brigade..
slama ini BRIMOB suatu instansi yg paling bersih.salah 1 contoh brimob TIDAK TERLIBAT gerakan G 30 S PKI,BRIMOB jg TIDAK TERLIBAT suatu gerakan terlarang apapun.BRIMOB juga TIDAK MENGENAL SUAP ataupun KORUPSI…
JAYALAH ENGKAU BRIMOB
April 1, 2009 at 10:12 pm
muradi
Terima kasih komentarnya bung, yang pasti apa yang anda tulis menjadi harapan kita semua,
salam,
mrd
April 2, 2009 at 4:52 pm
hendrik
Salam kenal pak muradi.
Saya sangat setuju dengan anda tentang perlunya internalisasi nilai2 democratic policing pada pelaksanaan tugas brimob polri. Karena dengan demikian akan tampak perbedaan “hasil garapan” Brimob dengan “hasil garapan” militer, walau pun dari segi penguasaan kemampuan teknis atau taktis bisa jadi sama.
Saya rasa tidak ada kemampuan atau ketrampilan teknis dan taktis Brimob yg harus dihilangkan. Kemampuan yg sdh ada harus tetap dipelihara dan ditingkatkan dengan dukungan iptek.Kalau kemampuan Brimob dihilangkan, maka Polri akan kehilangan kemampuannya terkait penanggulangan gangguan kamtibmas kadar tinggi dan penyelamatan masyarakat.
Pak Muradi yth, dengan menyadari adanya sifat khas dari tugas pokok, fungsi dan peranan Brimob, saya rasa memang diperlukan suatu pengorganisasian semi militer terhadap Brimob, yg berbeda dengan fungsi kepolisian lainnya terutama yg bergerak di tataran law enforcement dan public service. Pada kedua tataran tersebut perlu struktur yg memberi keleluasaan bagi pelaksana tugas dilapangan utk bertindak dan berbuat menyesuaikan dengan masyarakat yg dilayani sbg stakeholder. Namun Brimob dihadapkan pd situasi yg berbeda, yaitu ketika ancaman sdh mengejawantah menjadi aktual dan tidak mampu ditangani oleh fungsi kepolisian yang lain. Maka disini diperlukan suatu struktur organisasi yg secara rigid mengatur siapa berbuat apa dan bertanggungjawab terhadap siapa tanpa reverse.Mhn maaf pak muradi, sbg contoh ekstreem adalah sangat tidak mungkin dalam situasi pembebasan sandera seorang dantim melakukan dengar pendapat dulu dengan anggotanya tentang siapa yg akan jd pendobrak dan siapa yg jd pelindung dengan mempertimbangkan keadaan keluarga dr anggotanya. Yang ada adalah perintah dan laksanakan, krn ada nyawa korban yg dipertaruhkan dengan waktu.
Demikian hal nya dgn penanganan masa. Perlu dibedakan antara “crowd”(massa) dgn “riot”(kerusuhan). Brimob semestinya baru diturunkan ketika eskalasi sdh pada tingkat “riot”. Pada situasi ini jelas targetnya yaitu pulihkan situasi aman dan tertib untuk melindungi kepentingan umum, harta benda dan nyawa.
Nah, internalisasi nilai2 democratic policing pada Brimob saya rasa akan menggeser cara pandang anggota brimob terhadap obyek yg dihadapinya.sebagai polisi yg paham akan nilai2 demokratis ia tidak akan memandang pelaku penyanderaaan atau bahkan teroris sebagai musuh, tetapi sebagai anggota masyarakat sama seperti dirinya, yg melakukan kejahatan dan perlu diluruskan. Karenanya orientasinya adalah melumpuhkan demi terldelamatkannya orang lain. Jika dalam melumpuhkan itu yg terjadi adalah kematian dari pelaku,harus dipastikan bahwa hal itu terjadi karena memang tidak ada pilihan lain dan sudah melalui prosedur baku.
Hal yang sama juga dalam penanganan “riot”. Seberapa pun tekananan mental bahkan fisik yg dihadapi oleh angt brimob, harus dipahami bhw yg dihadapi bukan lah “musuh” yg harus ditumpas. Tentunya hal ini harus diikuti oleh prosedur maupun peraturan yg memberikan payung hukum bagi kewenangan untuk melakukan tindakan tegas dalam rangka membela diri shg peristiwa konyol di un.cendrawasih dapat dihindari.
Buat rekan Brimob, saya rasa memang kita masih harus belajar banyak tentang demokratisasi, tapi bukan berati kita berhenti berbuat. Mari kita geser orientasi kebanggan atas keberhasilan kita bukan lagi “menang-kalah” tapi adalah ketika kita mampu memberikan perlindungan dari gangguan keamanan dengan intensitas tinggi dan penyelamatan kepada mereka yang membutuhkan.Pelihara dan tingkatkan terus penguasaan kemampuan khas brimob, jgn surut dan jangan takut dicap militeristik, krn yg penting adalah penggunaannya yg tepat waktu dan tepat sasaran.
Buat rekan TNI, sedari awal perlu disadari tindakan bodoh pemimpin negeri ini adalah ketika menjadikan polisi menjadi bagian dari angkatan bersenjata. Karena polisi memiliki tugas yang jauh berbeda dgn militer. Sehingga sangat lucu jika saat ini masih ada sebagian kecil dari anda yg masih berpikir pada tataran “otot” lalu ingin membuat komparasi tingkat “kejagoan” antara TNI dgn Polri. Karena sekali lagi pada dasarnya kita bukan rival yg berada pada satu jalur. Hal yg sangat tampak adalah dengan menjadikan kejadian salib2an antara konvoi kendaraan dinas di jalan tol sebagai ukuran. Weleh, apa dasr konsep dan teorinya shg kejadian itu bs dijadikan ukuran? Saya yakin banyak sekali rekan2 di TNI yg sudah berpikir jauh lebih maju meninggalkan paham “otot” seperti SBy, saya harap mereka kelak mampu membawa TNI ke arah tentara profesional.
Buat Pak Muradi, saya ingin bisa kontak intens terkait diskusi paramilitary policing dan kalau berkenan share refrensi2 nya. Bagaimana saya bisa menghubungi bapak? Terimakasih.
April 5, 2009 at 5:03 am
muradi
perlu dicatat adalah saya nggak anti militer dalam praktik di Brimob, yang perlu digarus bawahi adalah bagaimana Brimob punya kekhasan yang tidak mirip sekali dengan militer, PPU jelas beda dengan militer, dia punya kekhasan. nah kekhasan ini yang belum nampak sebagai karakteristik Brimob, yang keliatan yah cara dan polanya copy-paste tentara.
anyway terima kasih masukannya, btw saya bisa diktk via email. kebetulan saya sedang di luar negeri, sedang sekolah
salam kenal.
April 20, 2009 at 12:19 pm
ipang
saya senang dgn kepolisian kita kusus nya densus88,yg bs kejar azhari dan amrozy cs,tp kalo kusus brimob kayak nya kok belum kelihatan kinerja nya apa memang sengaja di sembunyikan kemampuan nya.menurut sy polri itu harus kerja nyata terjun ke masy bukan hanya apel,itu kan tindakan mubazir pasukan elit itu harus nya jumlah nya dikit tp mumpuni bukan banyak tp gak tau tugas nya sbg polisi saya punya pengalaman dgn kesatuan brimob yg mengklaim diri nya sbg pasukan elit ini,saya pernah di kawal brimob waktu itu kt pakai kapal dgn muatan BBM di jalan kt di stop oleh kamla tni-aL kt pun jalan pelan dan angt kamla naik nanya kan ijin jd lgsung sy kasih dan di periksa tp angt brimob yg ngawal tadi justru tlp komandan nya minta saran apa yg mesti dia lakukan,jd menurut saya angt pasukan elit ini blm menyadari bhw dia itu polisi dan punya hak untuk menjelas kan kpd aparat lain bhw kt punya ijin resmi,sejak saat itu sy meragukan cerita mrka ttg kemampuan dan kematangan mrka krn polisi kalo apa2 minta petunjuk komandan nya ya telat donk dia nangani masalah piye to,,,,pasukan elit polisi ini sekarang kt pakai pengawalan angt polri betulan yg tau dan sadar bhw mrka polisi bukan pasukan yg menurut dongeng angt nya mrka hebat itu ya smoga aja benar supy kt gak rugi bayar pajak
April 20, 2009 at 12:39 pm
ipang
brimob dan tni jangan kelahi ya krn kalian masuk nya sama2 nyogok jd jgn sok korps,,,,kalian kan gak niat mengabdi tp cuma mau cari kerja buat masa depan hidup ini sementara bung kita semua akan kembali dan korps mu itu gak dbw mati,kasian brimob ada yg gugur di papua itu pun dia cm jalan kan perintah atasan nya,,,,aja kalo gt kan kasihan keluarga nya.jd jangan ribut ya kaum bersenjata yg gak dewasa dan saling olok bukan nya mikir prtahanin negara malah saling menjelek kan pdhal kalian itu sama2 jelek dan tak ber kwalitas
April 23, 2009 at 12:04 pm
ipang
mas muradi,,,kapan buku ttg pasukan polisi terbit aku mau
May 16, 2009 at 6:31 am
adieth
wahwahwah…..menarik sekali ya bicara tentang korps kebanggan polisi RI.semoga semua dibentuk untuk kebaikan bersama..untuk yang kurang berkenan dengan tulisan kang mur tolong jangan cuma berkata saja cobalah cari jalan solusinya.Salam kenal Dari Anak Negeri
May 26, 2009 at 9:40 pm
muradi
terima kasih bung komentarnya, soal buku, saya masih nunggu kabar dari penerbit tiara wacana nih. saya berharap ASAP bisa segera beredar.
salam kenal,
May 29, 2009 at 9:35 am
mus mulyadi, sh
semoga mobile brigade dalam mewujudkan birokrasi reformasi polri dapat berjalan sesuai dengan agenda yang dicanangkan oleh bapak kapolri.
ammiieeeeeeeeeennn…….
June 3, 2009 at 8:46 pm
muradi
amiiiennnnnnnnnn
May 31, 2009 at 11:12 am
Febri
Buat Ipang, saya rasa pendapat anda tidak sepenuhnya benar karena dalam situasi yg demikian mgkin brimob tsb baru ditugaskan di area tsb shngga msh harus banyak belajar,dan yg hrus kita ketahui adalah apa sih yg disebut dengan profesional itu, apakah anda tidak melakukan hal yg sama bila anda ditugaskan di utk mengejar pemberontak di hutan? saya yakin tentu anda akan bingung kalau itu adalah the first time buat anda, kemudian mengenai brimob n TNI nyogok waktu masuk, apakah pernyataan anda ada dasarnya, ini adalah forum diskusi akademisi yg tentunya semua yg di up load disini hruslah memiliki fundamental yg bisa di pertanggungjawabkan, kalau boleh saya mengutip kalimat dari masyarakat awam ” jangankan untuk masuk Brimob atau Tentara, untuk buat KTP aja ada biayanya ” bagaimana tanggapan anda tentang hal tersebut? memang hal tersebut yang menjadi PR seluruh komponen bangsa ini, menghilangkan kultur budaya tersebut butuh waktu yg tidak pendek sama dengan waktu yg dibutuhkan Brimob untuk memperbaharui dirinya sesuai tuntutan masyarakat sekarang ini. Untuk bung Muradi salam kenal, saya sangat apreciate dengan blog anda ini, sangat menambah dan membuka pikiran kita yang masih ada keragu-raguan tentang TNI-POLRI
June 1, 2009 at 10:37 pm
NURWAKIT
To Mas IPANG….., Gak selamanya hal tersebut benar, saya bergabung di Korps Baret Biru hanya bermodalkan Rp. 25.000,- dan buktinya berkat Rahmat Allah selanjutnya dengan niat dan usaha yang bersih, jadilah seperti sekarang ini… semoga akan tetap selamanya berprinsip bahwa hanya Causa Primalah yang berhak atas hidup, dan proses mengisi hidup tersebut, hingga akhirnya akan kembali kepada-Nya….
June 28, 2009 at 3:31 am
muh mansur
tulisan kang mur cukup bagus smoga rekan2 yang membutuhkan tentang profil brimob terbantu dengan hal ini….kalau bukan qta sapa lagi yang menghidupkan korps brimob yang kita cintai dan kita banggakan…..sukses brimob dengan birokrasi reformasi….
June 29, 2009 at 11:44 pm
muradi
Terima kasih atensinya bung or nona?
salam kenal.
July 7, 2009 at 5:49 am
dudung
Saya suka sebel tuh sama Brimob yang terkesan urakan,Norak saat lewat, sepertinya jalan kyk miliknya sendiri. contohnya di Kelapa Dua Depok klo udah lewat bikin berisik. Padahal itu truk kosong, gak bawa pasukan. Bagaimana rakyat mau bersimpati…
July 27, 2009 at 12:02 pm
purbo
mas muradi saya sependapat dgn motto brimob jiwa raga demi kemanusiaan krn di waktu ada kebanjiran dan longsor dit4 ku balikpapan tepat nya gn sari tim sar yg pertama dtg dan bekerja sampai di temukan korban terakir di hari ke 3 ya tim sar dr brimob yg di stal kuda itu dan org nya cakep2 asik baca blog nya kang muradi krn ada brimob polisi yg gak neko2
July 27, 2009 at 9:04 pm
muradi
Buat Purbo; Terima kasih atensinya, sekedar informasi, versi lengkap dari tulisan ini ada pada buku yang akan siap edar sekitar September-oktober, Judulnya: Mau Kemana Brimob Polri? penerbitnya Duta Karya Ilmu, Jakarta, di dalam buku tersebut, telah saya updated data dan rangkain tulisannya agar lebih kontemporer, selain itu dalam buku lain yang akan terbit bulan Agustus ini, judulnya: Penantian Panjang Reformasi Polisi, penerbitnya Tiara Wacana,yogyakarta. ada bagian yang membahas juga tentang Brimob Polri, silakan dicari ditoko2 buku yah, semoga bermanfaat.
salam
M
July 27, 2009 at 9:13 pm
muradi
Buat Dudung: dalam proses perbaikan, pasti ada aja yang aneh2 yang anda alami, tapi perlu digarisbawahi itu tidak semua, hanya oknum, anyway, terima kasih sharing infonya, sedikit banyak memberikan opini yang berimbang.
salam
M
August 5, 2009 at 3:54 am
silaba
aduh kok ..meremehkan polisi umum semua,…apa yang brimoB bisa, polisi umum juga bisa, . ??? semua nya juga asalnya dari masyarakat umum terus dilatih, gak ada spesialnya blass kok daripada polisi umum…mbok yang obyektif kalo pada nulis, kamu bisa nembak, aku juga bisa…kamu nangkep orang, aku lebih sering nangkep orang..kamu nolong orang, aku tiap hari nolong orang…
STOP..menghina polisi umum, justru maaf ya..** ( disensor )
apapun korpsnya….mau tentara, pol PP, Polisi ,sama aja kemampuannya, tinggal bagaimana profesionalitas dan pengabdiannya..
August 5, 2009 at 11:43 pm
muradi
Bung, kalo membaca artikel ini secara komprehensif, kalimat yang bung permasalahkan sebenarnya hanya pembanding saja, tidak lebih. artinya saya setuju bahwa profresionalisme memjadi kata kunci dari semua aktifitas penegak hukum di manapun. jadi tidak ada upaya secara sistematis untuk merendahkan apalgi menghina Korps lain. sekedar info, artikel ini menjadi salah satu bab dalam buku yang segera terbit, judulnya: Penantian Panjang Reformasi Polisi, terbitan Tiara Wacana Yogyakarta, silakan bung akan baca bahasan saya tidak cuma Btimob,tapi unit2 lainnya.
semoga berkenan
M
September 14, 2009 at 5:21 am
evan
Salutlah buat Brimob, tapi sayang perlengkapannya masih kurang memadai bung…! mungkin terlalu banyak disunat.
kalau bisa buat pejabat Polri.. kasihlah pasilitas kesatuan Brimob selengkap-lengkapnya jangan kalah dengan pasilitas TNI.
gimana Brimob mau jaya lawong fasilitasnya kurang dan latihan menembaknya juga jarang.
coba liat saat pengerebekan IBRAHIM karena kurang perlengkapan sehingga dibutuhkan waktu yang lama sehingga banyak opini yang tidak enak di dengar.
kalau misalkan pada saat penggerebekan malam tersebut Brimob menggunakan sensor malam dan juga menggunakan granat asap (biar pengap didalam) saya yakin tidak perlu terlalu lama, ibrahim tersebut dapat ditangkap hidup-hidup.
dan coba bandingkan dengan perlengkapan TNI Bung…..! jauuuuuh
seharusnya para pejabat Polri merasa malu karena kurangnya dan tidak lengkapnya fasilitas Polisi Umum dan Brimob.
saya yakin Brimob dan Polisi Umum dapat maju ASALKAN para pejabat diatas nih…… benar-banar ingin instansinya maju dan mengutamakan kepentingan anggotanya……. ini malah TERBALIK!
September 14, 2009 at 8:33 pm
muradi
Terima kasih atas komentarnya van, sangat mencerahkan!!!!!!!!
salam,
September 15, 2009 at 2:39 am
Baron
Evan…
jangan salah..justru perlengkapan tempur personel Polri jauh lebih lengkap ketimbang punya Militer…
Styer, M4 Carbine, SS1 V1, SS1 V4, AK101, MP4…semua dimiliki Polisi
Bandingkan dgn pihak militer yang senjata standardnya hanyalah SS1 V1.
Satuan Den88 juga rutin mendapat pelatihan dari AS (FBI)…
kurang apalagi…
ayo pak Polisi..tulung tangkap itu Noordin M Top yang masih buron
September 15, 2009 at 10:14 pm
muradi
thanks baron atas komentarnya
salam
September 17, 2009 at 12:31 pm
hendrik
Pak Muradi, proficiat atas penerbitan bukunya.. Betul2 mencerminkan ketekunan dan perhatian terhadap Polri yang luar biasa dari seorang akademisi.
Pak, tanpa bermaksud mengkritik saya ingin sharing tentang beberapa hal dalam bab I buku itu, sangat tidak substansial sih.
PERTAMA tentang penggunaan kalimat “Keluarnya Polri dari TNI”. Sepertinya dengan mengacu pada sejarah reformasi yang berlangsung 10 tahun yg lalu, yg terjadi adalah keluarnya POLRI dari Institusi ABRI. Mengapa demikian ? Karena pada dasarnya saat itu ABRI adalag institusi yang menanungi unsur TNI dari ketiga angkatan dan unsur Polri. Sejalan dengan keluarnya Polri dari ABRI, maka secara defacto maupun dejure institusi ini bubar dan yang ada tinggal unsur TNI saja. Hal itu secara jelas tertera dalam Tap MPR terkait. Tapi memang masyarakat bahkan Polri sendiri sering salah kaprah dengan menggunakan istilah “keluar dari TNI”..
KEDUA tentang jenjang dan jenis pendidikan kedinasan di lingkungan Polri. Jenisnya ada Pendidikan Pembentukan, Pendidikan Lanjutan, Pendidikan Pengembangan Umum dan Pendidikan Pengembangan Spesialisasi.
Pendidikan Pembentukan (Diktuk),terdiri dari Diktuk Brigadir(bintara), Pendidikan Perwira Polri Sumber Sarjana (PPSS),dan Akpol. Sudah tidak ada lagi pendidikan pembentukan tamtama dan Bintara reguler.
Pendidikan Lanjutan terdiri dari Sekolah Lanjutan Brigadir (Selabrig) yang dulu namanya secapa dan Sekolah Lanjutan Inspektur (Selains) yg dulu bernama Sekolah Lanjutan Perwira (Selapa).
Pendidikan Pengembangan Umum (Dikbangum) terdiri dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) dan Sespati.
Pendidikan Pengembangan Spesialisasi merupakan pendidikan kejuruan dasar dan lanjutan dari masing-masing fungsi yang dilaksanakan di Pusdik-pusdik Fungsi Teknis Kepolisian.
KETIGA, tentang penggunaan terma Civilian Police yang bapak sandingkan dengan terma Polisi Sipil. Mohon dikoreksi pak jika saya salah, namun sepertinya paradigma Polisi Sipil yang ingin diwujudkan oleh Polri lebih tepat mangacu pada konsep Civilize Police. Mengapa ? Karena konsep Civilize Police berarti Polisi yang menjunjung nilai2 peradaban (nilai2 masyarakat sipil/madani). Sedangkan Civilian Police lebih sempit konteks nya yaitu sekedar Polisi yang bukan personil militer karena padanan kata civilian police selalu dengan military police, lihat saja penggunaan terma itu dalam misi2 PBB. Memang polri mau menunjukan dirinya tak lagi bagian dari militer, tapi tidak hanya itu ia harus menunjukan bahwa ia adalah bagian dari masyarakat beradab/madani/sipil Indonesia yang menjunjung nilai2 peradaban/sipil dengan memberi penghormatan terhadap hak2 sipil.
Saya lihat memang di internal Polri sendiri pemahaman konsep Polisi Sipil baru sampai pada tahap Polisi yang tidak Militer (Civilian Police), mudah2an ini merupakan proses utk menuju Civilize Police.
Yang jadi pertanyaan adalah dapatkah kita berharap adanya civilize police dari masyarakat yang belum sepenuhnya civilize, karena Pada dasarnya Polisi adalah produk dan bayangan dari masyarakatnya ?
Salam..
September 19, 2009 at 10:09 pm
muradi
Pertama, terima kasih bung atas apresiasi dan atensinya. setidaknya buku tersebut dapat sedikit banyak membantu internal Polri, dan juga kalayak umum untuk mengetahui seluk-beluk dan dinamika Polri dan permasalahannya.
kedua, soal terminologi pemakaian antara TNI atau ABRI sebenarnya mengikuti dinamika perubahan yang ada di internalorganisasi tersebut. penggunaan nama TNI juga khandilakukan oleh internal ABRI waktu itu sebelum Polri benar2 lepas dari struktur organiasasi militer tersebut. saya menggunakan satu kata: TNI agar pembaca tidak terlalu bingung dengan esensi bahwa sebelum itu,Polri adalah bagian dari militer, karena versi tulisan ini khan sebenarnya dalam bahasa inggris yang di indonesiakan, bukan sebaliknya. soal tingkatan pendidikan, trm kasih sarannya bung, setidaknya saya makin dicerahkan dengan berbagai perubahan yang telah dilakukan di internal Polri, meski dalam tulisan ini juga telahdibahas secara tuntas. Penghapusan pendidikan tantama dan bintara reguler, khan baru dilakukan secara bertahap pada pertengahan atauakhir tahun 2007, sementara tulisan ini telah dibuat, jadi yah mohon maaf jika tidak terlalu ter-up date.
yang terakhir, sebenarnya istilah civilian police atau civilse police konteksnya sama,yakni membebaskan personil Polri dari praktik2 dankultur yang militeristik. secara umum saya tidak mempernmasalahkan, mungkin saja di internal Polri merasa lebih sreg dalam penggunaan terminomogi civilize police. akan tetapi secara umum istilah tersebut maknanya tidak terlalu berbeda dengan civilian police, kecuali memang, Polri masih merasa sebagai combatant police, yang mempraktikkan pendekatan militeristik dalam setiap operasional dan tetap mempertahanan kultur militer dalam strukturnya, kalo hal itu yang benar, nggak ada artinya perdebatan semantik dua kata tersebut.
anyway, terima kasih banyak atas masukannya, saya nantikan masukan dan sarannnya pada bab2 selanjutnya. terima kasih telah membeli buku saya!!
September 19, 2009 at 12:55 am
evan
Pak Muradi cobalah saudara Survei ke kesatuan lain TNI dan berikan kritikan dan masukan untuk para petinggi POLRI mengenai pasilitas dan peralatan yang dimiliki TNI dan bandingkan dengan pasilitas dan peralatan kesatuan BRIMOB, jangan hanya kemampuan dan kewajibanya saja.
sekalian Pk. Muradi membantu anggota BRIMOB mendapatkan pasilitas yang LAYAK.
perkiraan saya kucuran dana yang diberikan Pemerintah untuk POLISI cukup besar mas untuk membangun kesatuan yang layak dan memberikan peralatan yang Modern. tolong tanyakan kemanakan kucuran dana tersebut… DARI ATAS BESAR MAKIN TURUN MAKIN KECIL. terlalu banyak terbuang dijalan.
jangan hanya menuntut kinerja BRIMOB dan POLISI UMUM harus provesional, tapi sifat yang diatasnya juga harus dirobah lah…..
dan juga buat Pk. Muradi kalau mau survei dan tanya-tanya jangan kepada atasan tapi langsung ke Anggotanya… Oke… Mas!!! ( eh… itukan tugasnya cicak ya (KPK) mana berani lagi dia ngobok-ngobok.
September 19, 2009 at 9:52 pm
muradi
kenapa nggak anda aja bung yang ngelakuin? heheheeee sekalian bagi-bagi peran gitu. tapi boleh juga nanti kalo ada waktu dan kesempatan mau juga saya buat penelitian semacam itu. sukur-sukur ada yang support sehingga survei dan penelitian itu bisa dibaca oleh banyak orang. anyway thanks van atas sarannya.
Btw, udah beli buku saya belum?
September 20, 2009 at 6:41 am
steven karuru
saya hanya mau bilang TNI tidak bisa cemburu ke POLRI dongggggggg..
September 20, 2009 at 8:06 am
Jopi
Satuan Brimob adalah satuan tertua dinegara ini dan telah banyak mengabdi untuk negara dan rakyat indonesia. perjalanan yang sudah tua itu gak perlu lagi ada penilaian dari seorang akademisi yang masih bau kencur dan hanya menjiplak karya orang lain.
Brimob tidak pernah meminta untuk dinilai hanya oleh seorang akademisi yang tidak capable dalam menulis.
Sejak kelahirannya Brimob gak pernah mau menjadi seperti satuan2 lain yang ada dimuka bumi ini.
Inti dari tulisan2 anda adalah sesungguhnya anda ingin Brimob dibubarkan dan kepolisian kembali lemah seperti jaman orde bobrok yang kemarin.
Lebih baik anda meralat semua tulisan2 anda ya sebelum…….
September 21, 2009 at 1:48 am
muradi
@ Steven: Kalo cemburu boleh kali, tapi yang positif, biar terjadi kompetisi yang positif pula, iya khan stev?
@ Jarno:hahahahahahhaaa, itu tuduhan berat karya ini jiplakan? saya mau kok dikonfrontir dengan yang anda maksudkan. kapan dan dimana? saya siap membuktikannya. hari gini kok masih menggunakan pola-pola pendekatan gaya lama, harusnya yah tulisan inidianggap sebagai masukan dan kritik membangun internal Polri dan Brimob, bukan menganggap orang yang menulis ini sebagai ancaman. tulisan ini telah dimuat di bukuterbitanLespersi: Almanak Reformasi Sektor Keamanan di Indonesia 2007, lantas saya up date menjadi salah satu bab di buku kumpulan tulisan saya: Penantian panjang Reformasi Polri, terbitan Tiara Wacana tahun 2009, dan kemudian juga menjadi bab pembahas pada buku terbaru saya yang akan terbit pada november 2009, tepat Ultah Brimob. kalo tiga karya itu masih dianggap menjiplak, saya nggak ngerti logika apa yang dipakai oleh anda.
Soal akademisi bau kencur, saya tidak tersinggung itu penilaian orang terhadap saya, tapi kalo ini dianggap sebagai karya jiplakan, itu bisa saya buktikan dengan berbagai pembuktian yang otentik, karena itu menyangkut kredibilitas karya tulis seseorang, atau anda mau mengatakan ada salah satu karya tulis saya yang menjiplak, sebagaimana tuduhan anda, wah dengan senang hati saya akan membutikannya bahwa itu tuduhan dari seseorang yang tidak legowo dan dinilai oleh orang lain!!!!
October 24, 2009 at 10:21 am
Regan (Resimen Gegana)
Waduh waduh…. Please.. jangan terjebak dikotomi Polisi Umum dan POlisi Brimob donwk.. kita ini satu.. Brimob bagian dari polisi.. Kita Bangga boleh sama korps tapi jangan sampai kebablasan jadi sombong.. (sombong = memandang rendah orang lain ) Ingat kata Jendral Yusuf Mangga Barani “Kita bangga menjadi anggota Brimob tapi kita lebih bangga lagi karena kita adalah anggota POLRI”
TNI adalah sahabat POLRI dan POLRI pun kawan TNI.. Tidak saatnya lagi lah kita ungkit2 masa lalu.. Mari kita melangkah kedepan utk membangun TNI-Polri yg solid dan dipercaya oleh masyarakat selamanya…
Kita berharap lagu ini jadi kenyataan.. “Kopasus hantu rimba.. marinir hantu laut.. kopaskas hantu di udara…. Pak Polisi kawan kita juga…
October 27, 2009 at 8:40 pm
muradi
ini hanya ilustrasi saja bung, bagaimana situasi dan kondisi yang ada menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari permasalahan yang dihadapi brimob. anyway terima kasih komentar dan sarannya,
salam kenal,
Muradi
October 27, 2009 at 10:16 am
memet baey
makasih byk, bt penulis yg mau memberikan masukan dan kritikan bt masa depan KORPS BARET BIRU kedepan agar lebih baik lagi, sy salah satu dari sekian ribu prajurit bhayangkara BRIMOB sejati, yg telah meniti karier demi keutuhan NKRI dari sabang sampe marauke,
tolong dalam penulisan lebih ditekankan dan di perjelas lagi maksud dan tujuan BRIMOB POLRI untuk kedepannya, jangan cm di lihat dari sisi jelek saja…
BRIMOB adalah prajurit yg telah terlatih dan terbaik dari segi akademis dan penyaringan, BRIMOB sudah tentu BERJIWA BESAR dalam menerima kritik dan masukan , untuk mencapai SOSOK BRIMOB POLRI YG DICINTAI MASYARAKAT REPUBLIK INI.
salam kenal,, bhayangkara Brimob sejati, RESIMEN I YG HILANG….
October 27, 2009 at 9:23 pm
muradi
secara gamblang dan terukur perencanaan pengembangan brimob kedepan, silakan liat dibuku silakan liat dibuku berjudul: Penantian Panjang Reformasi Polri, terbitan Tiara wacana, Yogyakarta, atau yang sudah ter-updated di buku yang berjudul: Quo vadis Brimob Polri. terbitan Pustaka Sutra, bandung. ada perimbangan data dan fakta yang ditemukan. silakan ditelusuri dan baca bukunya, setelah itu baru komentar lagi yah.
salam,
M